Suasana tegang menyelimuti ruang rapat Uni Eropa yang agung itu. Bangku-bangku dan meja panel berjajar melingkar. Semua orang tak menyangka apa yang terjadi di hadapan mereka, sebuah pertentangan tajam terjadi. Baru saja berlalu, semua anggota rapat berdiri dari kursinya dan mengangkat tangan masing-masing, hujan interupsi, dan suara-suara ketidakpuasan beterbangan di udara. Namun keadaan kembali diredam setelah ketua sidang, Charles Ashton, mengetuk palu.

 

“Saya minta semuanya tenang, dan menahan diri. Kita coba simak dulu uraian Tuan Berlusconi,” katanya. Dia mengangguk kepada Berlusconi dan memersilakannya bicara.

 

Berlusconi segera mendekatkan mikrofon di depannya dan bicara. Semua mata menatap kepadanya. “Terima kasih banyak kepada ketua yang telah memberikan kesempatan kembali kepada saya. Saya menghimbau kepada rekan-rekan agar jangan dulu antipati dengan usul yang saya sampaikan. Negara Khilafah akan menyerbu Vatikan itu bukan isapan jempol belaka. Semua indikasi sudah mengarah ke sana, dan bahkan Bapa Suci sendiri telah menginformasikan hal itu. Sudah semestinya kita semua bertindak dan tidak berdiam diri lagi. Tidak bisa tidak, Perang Suci mesti kita kobarkan lagi sebagaimana para pendahulu kita. Tidak ada jalan lain untuk menghentikan hegemoni mereka selain dengan jalan perang salib. Kita satukan kekuatan kita semua untuk menahan gempuran mereka. Kita tahu bahwa mereka bukanlah musuh yang bisa kita anggap enteng. Dahulu ketika orang-orang Islam tidak memiliki negara Khilafah kita bisa berbuat seenaknya kepada mereka, sekarang kondisinya tidaklah sama lagi. Mereka telah memiliki negara Khilafah yang akan menyatukan seluruh kekuatan dan potensi mereka. Tanpa pemimpin saja kita sudah cukup kerepotan ketika hendak melawan mereka, apalagi sekarang ketika mereka telah bersatu di bawah kepemimpinan seorang lelaki. Saya sangat menekankan agar kita segera mempersiapkan diri kita untuk perang salib.”

 

Belum selesai Berlusconi bicara, tangan-tangan telah teracung ingin menginterupsi. Namun Ashton tidak memberikan kesempatan bicara kepada mereka. Barulah setelah Berlusconi selesai, Ashton memberikan kesempatan kepada David Cameron, Perdana Menteri Inggris.

 

“Saya jelas tidak setuju dengan apa yang diusulkan oleh Tuan Berlusconi,” Cameron menggeleng pelan. “Masa-masa perang suci sudah jauh berlalu. Saat ini kita hidup di abad modern, mengapa kita masih harus memakai cara-cara abad pertengahan? Kita harus upayakan dulu diplomasi. Mereka bukan orang-orang bodoh yang tidak bisa berkompromi.”

 

“Tuan Wilders, silakan,” kata Ashton sambil menunjuk Geert Wilders yang duduk di hadapannya. Geert Wilders adalah seorang politisi Belanda yang sangat membenci Islam. Namun ketika Khilafah berdiri, sikapnya berubah total, dia menjadi sangat lembut dan sangat menghargai umat Islam. Entah apa yang terjadi padanya, sikapnya itu kontras sekali. Dia mengarahkan corong mikrofon ke mulutnya.

 

“Saya sepakat dengan Tuan Cameron. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik. Tidak ada hal yang tidak bisa dikompromikan,” katanya. “Apalagi Islam adalah agama yang santun dan tidak mengutamakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Sebisa mungkin kita jangan sampai memberikan sinyal-sinyal yang buruk kepada Negara Khilafah.”

 

Ashton mengembuskan napasnya, sebab dia melihat Berlusconi sudah berdiri sambil mengacungkan kedua belah tangannya seperti seorang suporter yang sedang menonton tim sepakbola kesayangannya. Ashton mengangguk sambil bertopang dagu, dan Berlusconi pun bicara.

 

“Ini bukan cara-cara abad pertengahan. Bagaimana cara kita merespon orang-orang yang tidak mengerti bahasa diplomasi. Yang mereka mau hanya perang untuk merebut Vatikan dari kita dan menghancurkan institusi suci umat Katolik. Ini bukan isapan jempol, Khalifah sendiri mengatakan hal itu. Kita meti meresponnya dengan tepat, dan respon yang tepat untuk menghadapi orang-orang seperti ini hanya perang. Bagaimana mungkin kita berdiplomasi kita jika kita berhadapan dengan orang-orang yang menodongkan senjatanya kepada kita? Itu tidak masuk akal.”

 

Tangan-tangan sudah teracung lagi, tapi tiba-tiba seorang petugas security yang rapi dengan jas hitam berlari ke dalam dan mendekati meja Ashton sebagai pemimpin sidang. Petugas itu membisikkan sesuatu kepada Ashton yang langsung terlihat heran. Ashton mengangguk kepada petugas itu. Tak membuang waktu petugas itu segera menghilang ke pintu keluar.

 

“Kita kedatangan tamu,” kata Ashton lewat mikrofonnya.

 

Semua orang menatap ke pintu masuk ruangan itu. Beberapa detik lamanya mereka menunggu, jantung mereka berdebar. Pintu itu terbuka, dua orang petugas berjas hitam tampak. Di belakang mereka melangkahlah dengan tertatih, Paus Benedictus XVI. Seperti biasa, Uskup Ferdinand menuntun tangannya. Sementara tongkat keberasarannya ditenteng oleh tangan Paus yang sebelah lagi.

 

Paus melangkah ke tengah-tengah sidang itu. Dia duduk di kursi yang telah disediakan petugas, persis di tengah-tengah ruangan yang melingkar itu. Uskup Ferdinand setia mengiringinya. Untuk menghormati Paus, Ashton turun ke depan dan turut duduk di sisi Paus. Tangannya menggenggam sebatang mikrofon, dia bicara.

 

“Sebuah kehormatan bagi sidang Uni Eropa karena Bapa Suci Benedictus XVI telah bersedia hadir di tengah-tengah kita. Tentunya ada hal penting yang akan beliau sampaikan dan kita semua harus mempersiapkan diri kita untuk menyimaknya. Baiklah, tidak memperpanjang kata-kata lagi, saya persilakan Bapa Suci untuk menyampaikan kalimat-kalimatnya.”

 

Ashton menyerahkan mikrofon di tangannya kepada Paus. Tangan kisut Paus mengambil mikrofon itu dengan gemetar seolah-oleh berat mikrofon itu lima puluh kilogram. Dengan sigap Ferdinand mengambil mikrofon di tangan Paus dan mendekatkannya ke mulut Paus. Suara deham Paus yang parau memenuhi ruangan.

 

“Salam sejahtera untuk ita semua. Saya ucapkan terima kasih kepada Tuan Ashton yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk turut bicara di dalam sebuah forum yang penting ini,” suara Paus tiba-tiba terhambat di tenggorokannya. Dia terbatuk. Setelah menenangkan dirinya, dia kembali bicara. “Ada bahaya besar yang sedang mengancam kita. Dan dunia Kristen mesti bersatu untuk melawannya.”

 

Berlusconi tersenyum tipis menatap Paus. Dia berpikir sekarang dia tidak perlu susah-susah lagi menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang. Paus sendiri sudah datang untuk menyampaikannya secara langsung.

 

“Khalifah telah datang kepadaku. Dia memintaku masuk Islam, atau menggabungkan diri ke dalam wilayah kekuasaannya. Kalau aku menolak kedua tawaran ini, dia memutuskan untuk mengambil alih kota kita dengan kekuatan senjata. Dia bilang takluknya kota kita adalah janji Tuhan dan nabinya.”

Kesunyian merebak. Semua orang mendengarkan Paus bicara.

 

“Saya menolak, tentu saja. Saya mohon padanya agar mengurungkan niatnya itu, tapi dia tidak mau mendengarkan. Dia akan tetap mengirimkan pasukan perangnya untuk merebut kota kita. Gejolak terjadi di mana-mana. Umat Kristen sedunia merespon rencana itu, namun apa yang mereka bisa? Yang tetap memiliki kekuatan nyata adalah negara. Anda sekalian adalah kekuatan itu, anda semua memiliki kekuasaan. Anda memiliki senjata. Karena itulah saya meminta pertolongan kepada anda semua untuk mempersiapkan diri membela keyakinan anda, membela agama anda, membela tuhan Yesus Kristus. Aku menyerukan agar perang salib kita kobarkan kembali seperti dulu.”

 

Paus menghentikan kalimatnya, semua diam. Sunyi mendadak bangkit dan menutupi semua orang. Alam pikiran penuh dengan kilatan-kilatan memori dan semuanya tenggelam.

 

Cameron mengacungkan tangannya. Ashton mengangguk dan memberinya kesempatan bicara.

“Saya sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Vatikan dan tahta suci. Hanya saja, saya mewakili Inggris, saya tidak bisa memberikan bantuan apa-apa selain doa yang tulus dari dalam hati saya. Inggris tidak mungkin terlibat di dalam semua ini karena Inggris telah memiliki perjanjian damai dan kerjasama bilateral dengan Negara Khilafah. Dan Inggris mesti menepati semua perjanjian yang telah dibuatnya.”

 

Geert Widers pun berdiri. “Saya pun mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya, sebab Belanda tidak bisa memberikan bantuan.”

 

Hampir semua orang kemudian menyusul Belanda dan Inggris untuk berdiri dan berbelasungkawa sebab tidak bisa memberikan bantuan kepada Vatikan. Yang bersedia mengerahkan senjatanya untuk menghalangi Negara Khilafah dalam menaklukkan Vatikan hanyalah Italia saja. Berlusconi berdiri dengan gagahnya sambil menggebrak meja. Tata kramanya entah ditaruh di mana.

 

“Kalian semuanya banci. Kalian semua bukan lelaki. Jika kalian semua tidak mau membantu melindungi tahta suci, biar Italia saja yang akan mengerahkan angkatan bersenjatanya. Semoga tuhan membakar kalian semua di dalam neraka.”

 

Suasana sepi menyelubungi ruangan itu dalam beberapa saat. Yang terdengar tiba-tiba adalah isak tangis Paus Benedictus XVI yang membahana. Air mata Paus berlinang membasahi pipinya yang keriput.

 

000

“Anda dipecat,” kata Napolitano, Presiden Republik Italia.

 

Berlusconi mengerutkan keningnya ketika dia berhadapan dengan Presiden Italia itu. “Apa maksud anda, Tuan Presiden?”

 

“Anda dipecat, dewan telah menyetujuinya. Anda tinggal menunggu surat pemecatan anda turun,” kata Napolitano lebih jelas.

 

“Mengapa saya dipecat begitu saja?” Berlusconi tak terima.

 

“Pandangan-pandangan anda yang ekstrim tidak bisa diterima dan bisa membahayakan negara.”

 

“Untuk sikap-sikap yang ekstrim seperti yang dilakukan oleh Khilafah kita juga wajib menghadapinya dengan sikap yang ekstrim. Bagaimana mungkin menghadapi kekerasan dengan lembek? Itu tidak masuk akal Tuan Presiden.”

 

“Takkan ada sikap yang ekstrim. Asalkan negara kita tidak diganggu, kita akan membiarkan mereka melakukan apapun terhadap Vatikan.”

 

“BODOH!!!” Hambur Berlusconi. “Apa anda pikir mereka akan berhenti hanya pada Vatikan? Mereka tidak akan berhenti sampai seluruh orang Kristen musnah dari muka bumi ini.”

 

“Mereka tidak begitu. Aku tahu Islam tidaklah seperti itu. Namun tak peduli apapun yang anda katakan sekarang, anda dipecat. Mohon maaf, saya punya banyak pekerjaan. Pintu keluar di sebelah sana.”

 

Dengan geram, Berlusconi melangkah. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan.

 

000

Prajurit Angkatan Bersenjata Khilafah Islamiyah berjajar dengan rapi. Keagungan dan kewibawaan menyelubungi mereka. Sebuah parade militer sedang dilaksanakan dengan megah di jalan-jalan yang melintasi Istana Topkapi dan Hagia Sofia di kota Istanbul. Derap langkah tentara Khilafah merawankan hati dan melumuri kebanggaan ke seluruh tubuh. Pakaian seragam mereka yang berwarna putih-putih dengan baret hijau begitu berwibawa. Senapan laras panjang dipanggul di bahu mereka. Di belakang barisan infanteri yang  mengular panjang itu membentang pula barisan tank-tank yang kokoh. Puluhan tank berjalan dengan laras-laras yang hitam. Kaum muslim memadati kiri-kanan jalan menyoraki dengan gembira parade itu.

 

Di barisan paling depan, di atas sebuah jip hitam, berdirilah Khalifah Muhammah Hasanuddin. Dia berdiri di bagian belakang jip yang terbuka itu dan melambaikan tangannya kepada rakyatnya sambil mengumbarkan senyum manis. Di sisi Khalifah tegaklah Jenderal Sayf Ali Khan. Dia berdiri saja seperti patung dengan ekspresi wajah galak sambil berpegangan kepada pilar-pilar besi jip itu. Sekilas Khalifah mendekat kepada Ali Khan. Dia bicara di antara keramaian rakyat Negara Khilafah itu.

 

“Penyerbuan kita ke Roma sebentar lagi, bagaimana persiapannya?” Tanya Khalifah.

 

Dengan tenang Ali Khan mengangguk. “Semua persiapan telah rampung dan operasi Futuh Ruum siap diberangkatkan kapan saja.”