Ribuan kaum muslim telah berkumpul di  Raudhotul Islam, sebuah landmark dari  RKhilafah Islamiyah yang luas. Khilafah  Islamiyah adalah sebuah negara global bagi  kaum muslimin. Khilafah Islamiyah adalah  rumah bagi seluruh kaum muslimin di dunia.  Walaupun orang ramai berdesak-desakan di taman yang megah itu, Raudhotul  Islam, semuanya tertib dan kerumunan laki-laki  tetap terpisah dari kerumunan perempuan.

 

Mereka berdiri menghadap ke satu titik, kepada  sebuah panggung yang ada di tengah-tengah  taman itu. jantung mereka berdebar-debar,  mereka sedang menunggu pelantikan Khalifah  yang baru, Khalifah yang kedua. Setelah puluhan tahun menderita  karena ketiadaan Khilafah Islamiyah, pada  akhirnya kaum muslim berhasil menegakkannya  kembali, mereka mengangkat seorang Khalifah  untuk mewakili mereka melaksanakan syariat  Islam secara kaffah, Khalifah yang pertama itu  bernama Ahmad, ia seorang ulama.

 

Setelah lima  tahun memimpin dengan penuh dedikasi dan  pengorbanan, Khalifah Ahmad wafat dalam  damai. Ia telah berhasil mempersatukan negeri-negeri Islam yang lain yang masih berada di  bawah pemerintahan kufur; membangun dan  mengonsolidasi kekuatan Khilafah dan semua  aparaturnya; berhasil membubarkan semua  pangkalan militer negara-negara kafir dari  wilayah kaum muslim; dan berhasil mengambil  kembali semua sumber daya alam yang dahulu  –ketika Khilafah Islamiyah belum tegak- dikeruk  habis-habisan oleh kaum kapitalis barat melalui  perusahaan multinasional dan penguasa-penguasa muslim yang melacurkan diri menjadi  antek penjajah; ia juga berhasil mengerahkan  jihad akbar kaum muslim untuk menahan  serangan Uni Eropa ke wilayah Khilafah  Islamiyah.

 

Amirul Mukminin itu kini telah wafat,  dan kewajiban kaum muslim adalah  mengangkat seorang pemimpin yang baru  menegakkan syariat Islam dan mengemban  dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Selama  tiga hari, tokoh-tokoh umat yang menjadi ahlul  halli wal ‘aqdi memilih Khalifah yang baru, dan  hari ini, seluruh kaum muslim di dunia sedang  menanti pelantikan pemimpin mereka. Raudhotul Islam sudah penuh sesak.  Taman yang keindahannya tak terperi itu  menjadi kebanggaan kaum muslim, sekaligus  menjadi salah satu landmark Khilafah Islamiyah.

 

Taman itu meniru keindahan taman-taman  surga, luasnya 5000 hektar, ia menjadi tempat  bertamasya kaum muslim. Pepohonan tumbuh  subur menyejukkan, ada kebun-kebun bunga  beraneka warna. Sungai-sungai buatan mengalir  jernih di dalamnya, ikan-ikan berenang bebas.  Ada juga taman bermain untuk anak-anak.  Masjid al Khilafah yang megah pun terletak di  kompleks taman Raudhotul Islam. Sebatang  tiang bendera yang tinggi tegak di sisi panggung.  Bendera besar warna putih bertuliskan syahadat  warna hitam berkibar megah di langit pagi.

 

Tiap  kali ada peristiwa penting, taman itu pasti  ramai. Seluruh rakyat semakin berdebar, hari  ini pemimpin mereka dilantik untuk  meneruskan penegakan syariat Islam dan  penyebaran Islam kepada seluruh alam.  Panggung yang ada di tengah-tengah taman itu  telah tenggelam oleh lautan manusia di  sekelilingnya. Para syurthoh yang berseragam  putih berdiri tegak mengelilingi panggung  sekaligus mengendalikan keadaan. Kerumunan  massa yang berjumlah ribuan orang itu sangat  tertib, sebab mereka semua tahu ketertiban  adalah perintah Allah. Tiba-tiba semua kepala menoleh ke  langit, sebuah helikopter warna putih dengan  tulisan syahadat di kedua sisinya melayang  mendekati taman. Helai-helai angin  berhamburan, rerumputah bergoyang kencang.  Helikopter itu melayang memasuki taman,  mengapung tepat di atas panggung di tengah-tengah taman. Semua orang menengadah  sambil memicingkan mata sebab angin bertiup  kencang dari baling-baling helikopter yang besar  itu. Semua lensa kamera disorotkan kepada  helikopter itu, para reporter melaporkan apa  yang sedang terjadi, gambarnya dikirimkan ke  seluruh dunia lewat udara.

 

Sebuah pintu di sisi kanan helikopter  itu kemudian membuka, sebuah tangga tali  diulurkan ke bawah hingga ujungnya mendarat  tepat di atas panggung. Seorang demi seorang  menuruni tangga tali itu hingga tiba di  panggung. Empat orang laki-laki yang tegap dan  gagah sudah berdiri tegak di atas panggung.  Tangga tali kemudian ditarik kembali masuk ke  dalam helikopter yang kemudian melayang  pergi. Sebatang mikrofon telah tegak di sana,  seorang pria yang memakai jas hitam sederhana  kemudian menghampirinya. Empat orang lelaki  di atas panggng itu semuanya memakai jas  hitam. Lelaki itu orang arab, janggut yang kokoh  menghiasi wajahnya, matanya yang tajam  berwarna cokelat bening. Ia menatap kepada  kerumunan kaum muslim itu.

 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakatuh…” suara salamnya diperkeras  berkali-kali lipat. Layar-layar besar yang  menampilkan wajahnya yang tampan dipasang  di berbagai sudut Raudhotul Islam. Tiba-tiba suara salam mengguntur dari  mulut ribuan kaum muslim. Lelaki itu tersenyum  tipis. “Segala puji bagi Allah subhanahu wa  ta’ala atas segala barokah dan karunianya.  Dialah yang telah memberikan rahmat kepada  kita semua. Solawat dan salam akan selalu  tercurah kepada Rasulullah Muhammad saw.,  keluarga, dan sahabatnya. Semoga kemenangan  dan keselamatan akan selalu terlimpah kepada  kaum Muslim dan Khilafah Islamiyah. Amin. ”

“Yaa ma’syarol muslimin  rahimakumullah, perkenalkan, aku adalah  Hasan Shalih, panitia pemilihan Khalifah pada  ahlul halli wal ‘aqdi, alhamdulillah dengan  kemudahan dari Allah swt., telah berhasil dipilih  seorang Khalifah yang baru untuk kaum muslim  di seluruh dunia, untuk melaksanakan syariat  Islam dan mengemban dakwah Islam kepada  segenap penjuru alam. Dan hari ini, kita semua  akan menyaksikan pelantikan Khalifah kita yang  baru, Khalifah Muhammad Hasanuddin.

 

ALLAAAAHU AKBAR.!!!” Hasan Shalih menoleh  ke belakang, menatap kepada satu-satunya  lelaki muda bersorban di panggung itu. Ia  memakai jas hitam sederhana dengan kemeja  putih tanpa dasi di bagian dalamnya. Hasan  Shalih membuka tangannya dan mempersilakan  sang Khalifah maju. Di bawah gemuruh takbir yang  riuhrendah, Khalifah Hasanuddin melangkah  mendekati mikrofon. Usianya masih muda, baru  tiga puluh lima tahun, namun usianya itu  tidaklah menghalanginya untuk memimpin  seluruh kaum muslim di dunia. Khalifah mengucap salam, dan kaum  muslimin menyambut salam itu dengan  gelombang suara salam yang pantul memantul  di udara. Setelah memuji Allah dan berselawat  kepada Rasulullah ia mulai pidatonya. “Wahai kaum muslim, amatlah berat  amanah yang kutanggung di pundakku ini.  Apakah yang akan aku katakan di hadapan Allah  pada pengadilan di hari kiamat nanti? Ada  milyaran kaum muslim di muka bumi ini dan  semua urusannya ada di atas pundakku.  Sungguh aku takut kepada Allah, takut kalau-kalau aku lalai dalam mengemban amanah ini.  Tolong luruskan aku jika aku keliru. Bersama-sama, akan kita wujudkan kemenangan bagi  Islam dan kaum muslim. ”

“ALLAAAAAAAHU AKBAR…” Pekik takbir meledak lagi. Pelantikan itu  disaksikan seluruh dunia, kata-kata Khalifah  yang singkat itu didengar oleh semua. Begitulah  Khalifah kaum muslim, tak banyak berkata-kata,  tak banyak mengumbar janji, yang dia tahu  hanyalah mengerahkan segala daya upaya untuk  memperhatikan dan mengurusi kaum muslimin  di seluruh dunia. Wahai Allah, Tuhan seru  sekalian alam, limpahkan ridhoMu untuk  Khalifah kaum muslim. Beri dia kekuatan untuk  mewujudkan janjiMu, untuk mewujudkan cita-cita itu… amin.! (Bersambung).[Isa]

Di muat di majalah drise edisi 20