GARDEN OF DEATH | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> GARDEN OF DEATH
GARDEN OF DEATH

GARDEN OF DEATH




Majalahdrise.com – Mangkatnya Rasulullah saw. pada 632 Masehi adalah musibah yang amat besar bagi umat Islam. Kabilah-kabilah murtad pada nongol hampir di seluruh jazirah Arab. Ada juga kabilah yang ogah bayar zakat dan bahkan, sebagaimana yang dikisahkan Imam Ibnu Katsir, solat Jumat cuma dilaksanakan di Makkad dan Madinah. Parah banget nggak sih?

Khalifah Abu Bakar ra. kemudian mengambil tindakan tegas untuk memerangi semua kalangan yang dimurkai Allah itu. Salah satu kabilah terkuat yang murtad adalah Bani Hanifah yang tinggal di kawasan Yamamah. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki yang mengaku nabi, Musailamah al-Kadzab. Khalifah Abu Bakar mengirim jenderalnya yang terbaik, Khalid bin Walid, untuk menumpas gerombolan murtad ini. Perang Yamamah pun pecah antara tentara Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan bani Hanifah di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab.

Imam Ibnu Katsir mengisahkan dalam Bidayah wan Nihayah: “Pada peperangan ini tampak kesabaran dan keuletan para sahabat yang tiada bandingannya. Mereka terus menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh, dan orang kafir lari tungganglanggang. Kaum Muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka, dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Maka terdesaklah orang-orang kafir hingga Kebun Kematian (Hadiqatul Maut). Para sahabat dan pasukan Islam dengan semangat jihad yang berkobar terus menekan pasukan kafir. Salah seorang penguasa Yamamah, Muhakkam bin Thufail, memberi isyarat kepada anak buahnya agar membuka gerbang besar kebun itu dan seluruh pasukan kaum murtad itu masuk ke dalam kebun. Naasnya, Muhakkam bin Thufail yang sedang berpidato untuk memerintahkan anak buahnya masuk ke dalam kebun harus tewas di tangan Abdurrahman bin Abu Bakar.

Abdurrahman melepaskan sebatang anak panah ke leher Muhakkam hingga dia tewas. Sayangnya, pasukan kaum murtad itu berhasil memasuki kebun dan hanya beberapa orang saja yang berhasil dikejar dan dihabisi oleh pasukan Islam. Gerbang kebun itu pun ditutup rapat-rapat dan dikunci dari dalam. Musailamah dan pasukannya dari kalangan kaum murtad itu berlindung di dalam kebun. Mereka mengira bisa menipu maut dengan cara seperti itu.

Padahal Allah swt. berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,” (An-Nisa’: 78). Pasukan Islam mengepung perkebunan yang dipagari oleh tembok yang cukup tinggi itu. Mereka tertahan oleh tumpukan-tumpukan batu dan tanah liat. Datanglah seorang sahabat bernama al- Bara’ bin Malik: “Wahai kaum Muslimin, lemparkan aku ke dalam perkebunan itu.” Maka beberapa prajurit Muslim pun mengangkat al-Bara’ di atas sebuah perisai dan menopangnya untuk naik ke tembok dan kemudian melompat hingga ke bagian dalam tembok.

Begitu mendarat di bagian dalam perkebunan, al-Bara’ segera diserang oleh beberapa pasukan musuh, namun dengan gigih al-Bara’ berjuang hingga pada akhirnya ia berhasil membukakan gerbang perkebunan itu. Ketika melihat gerbang sudah menganga lebar, tanpa membuang-buang waktu, pasukan Islam menyerbu masuk, mengalir deras bagai air bah. Pasukan murtad yang sudah gelagapan itu kocar-kacir dan menemui kematian mereka di bawah tebasan pedang kaum Muslimin. Peperangan yang sengit pecahlah di dalam perkebunan orang-orang Yamamah itu. Pasukan Islam berjuang habis-habisan untuk melenyapkan kekuatan orang-orang murtad yang dipimpin Musailamah al- Kadzab, namun pertanyaannya di manakah sang nabi palsu itu?

Sepasang mata dari seorang budak hitam mengawasi peperangan itu dengan jeli. Ia adalah Wahsyi bin Harb, pembantu Jubair bin Muth’im. Saat itu ia telah masuk Islam, dan berjihad bersama pasukan kaum Muslimin. Dulu, pada Perang Uhud ketika ia masih musyrik, ia berperang di pihak kaum Quraisy dan dengan lemparan tombaknya yang jitu, ia membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Muhammad saw. Dengan tombak yang sama, Wahsyi menyusuri medan perang itu untuk memburu Musailamah al-Kadzab.

Ia ingin menebus kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dengan amat sabar Wahsyi memburu mangsanya, hingga dia melihat sosok Musailamah di kejauhan. Pada salah satu bagian dari perkebunan itu ada sebuah tembok yang retak, Musailamah sedang berdiri di depan tembok itu dan mengawasi peperangan. Beberapa orang prajuritnya melindunginya, tanpa mengetahui bahwa maut sedang mengintainya. Musailamah sedang berada dalam keadaan galau yang amat sangat karena ia menyaksikan pertahanannya di perkebunan itu sudah berhasil ditembus dan pasukannya sudah terdesak. Tiba-tiba tubuh Musailamah kejangkejang seperti orang ayan. Dari mulutnya keluar busa yang menjijikkan, dan orangorang mengetahui bahwa dia sedang kerasukan. Setan yang merasuki tubuhnya itulah yang membisikkan kata-kata yang dia klaim sebagai wahyu.

Wahsyi mencium sebuah kesempatan yang sangat baik. Ia mencari sebuah posisi yang tepat sambil menenteng tombaknya. Dengan tatapan yang tajam diacungkannya tombaknya, tak ubahnya malaikat maut yang sedang membidik sasarannya. Tepat, tombak itu melesat cepat dan menembus dada Musailamah hingga ke punggungnya. Nabi palsu itu tewas seketika. Itulah akhir dari petualangan dan kesesatannya. Dengan cepat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah melesat ke arahnya dan menebaskan pedangnya hingga Musailamah tersungkur dan mati. “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam,” pekik para wanita yang berlindung di dalam sebuah bangunan di kebun itu. Di sanalah berakhirnya petualangan dan kekufuran Musailamah al Kadzab.[]

DI MUAT DI MAJALAH DRISE EDISI 53




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × 4 =