Islam gaul[DRise-#027] “Wow..!!” (tanpa koprol apalagi keliling lapangan sepakbola Gelora Bung Karno), itu ungkapan takjub begitu lihat ‘semangat kebangkitan’ Islam mulai muncul bak jamur di musim hujan. Coba aja lihat, meski banyak kaum hawa yang berlomba-lomba mengumbar aurat, tapi nggak sedikit yang dengan berani menunjukkan identitasnya sebagai muslimah, lengkap dengan kerudung dan jilbabnya. Bahkan 4 September, di launching sebagai ‘International Hijab Solidarity Day”. Mantabs!

Semangat yang sama juga kita dapetin saat saat tuduhan miring ditujukan kepada rohis sebagai sarang teroris. Remaja en remaji muslim bahkan menggelar aksi besar-besaran di bundaran HI, Jakarta. Dan kalau mau ‘lebih dalam’ lagi menyaksikan ‘semangat kebangkitan’ itu bisa dibuktikan dengan makin gencarnya pengajian yang digelar di kampus, sekolah, hingga perkantoran. Kita harap semangat itu terus menyala. Setiap saat.

Jangan Cuman Semangat Dong!

Tapi tunggu, emang bener gejala maraknya busana muslim dan aksi turun ke jalan itu menandakan kebangkitan? Atau hanya perilaku para penikmat Islam aja. Ups! Maaf ya, bukan bermaksud su’udzon atau meragukan keikhlasan mereka yang ghirahnya lagi semangat dua mangat. Tapi sekedar bentuk koreksian untuk kita bersama. Biar bisa saling mengingatkan. Apakah fenomena ‘semangat’ teman-teman kita itu bisa konsisten bin tahan lama atau sementara? Sekali lagi lho ya, ini bukan bermaksud mengolok-olok. Sebab kalo ‘semangat kebangkitan’ itu hanya bertahan sebentar plus nggak ‘tahan banting’ jadi kaya gelembung sabun. Keliatannya besar, padahal dalemnya hampa bin kosong. Duar..!

Ada beberapa faktor yang memicu semangat kebangkitan umat Islam bak gelembung sabun. Yaitu:

Pertama, bisa jadi ‘semangat’ yang dimiliki teman-teman kita itu untuk jaga eksistensi. Persis kayak teman kita yang aktif menggandrungi k-pop, terus menular ke teman yang lain sehingga melahirkan demam k-pop. Ya, nasib yang sama juga bakal dialami ajaran Islam kalo cuman dijadikan sekedar trend. Lagi hot-hotnya isu Palestina, berbondong-bondong ikut aksi solidaritas biar eksis dan diakui komunitas. Pasang profil picture di BBM dan sosial media yang mendukung perjuangan muslim gaza. Aktif posting yang berkaitan dengan Palestina. Giliran gencatan senjata dan PBB mengakui negara Palestina, kembali adem ayem. Nanti kalo ada isu lain yang gak kalah hot-nya, ikut-ikutan lagi. Begitu seterusnya. Seolah Islam hanya dipake buat tumpangan eksis di dunia nyata dan dunia maya. Hadeuh..!

Kedua, boleh jadi, apa yang sekarang dikenakan, diperjuangkan tentang Islam, itu hanya sekedar symbol alias formalitas belaka. Fakta ini bukan asal bunyi lho. Dengan bermodal semangat berhijab, banyak muslimah yang mengenakan penutup aurat sekenanya aja dan cenderung ngikutin mode daripada ngikutin aturan yang benernya. Sampe-sampe kebolak-balik pengertian antara kerudung dan jilbab. Karena hanya modal semangat tanpa dibarengi ilmu, pake jilbab dan kerudung pun nggak sesuai tuntutan Islam. Ada yang pake jilbab ketat, dipadu dengan legging, sementara kerudungnya pun dimodif jadi kerudung punuk onta. Baru sekedar menutup aurat tapi tidak menjaga aurat. Berpakaian seperti telanjang!

Ketiga, mungkin semangat yang dimiliki oleh teman-teman kita itu lebih karena cari penyejuk hati. Tahu sendiri, ditengah demam galau yang mewabah di dunia nyata dan dunia maya bisa bikin gerah. Kayanya adem kalo account sosial media itu isinya yang islami dan menyejukkan hati. Bukan curcol atau info gak penting lainnya. Nggak heran kalo di facebook dan twitter banyak sekali yang nge-add atau nge-follow akun-akun ‘islami’ dan ‘menyejukkan’. Apalagi di dunia nyata banyak event pelatihan/training islami yang menawarkan kesejukan hati. Katanya biar seimbang, nggak cuman cari duit melulu tapi juga cari ridho Allah. Nggak heran kalo pelatihan islami banyak digandrungi. Bener sih. Pas ikut pelatihan, semangat keislamannya berkobar, menangis karena penyesalan, dan bertekad untuk tobat. Giliran kembali ke kantor, kampus, atau sekolah, lengket lagi kehidupan sekulernya.

Sahabat, ngeliat ketiga faktor di atas ngeri juga ya. Kapan sampenya Islam di garis kebangkitan kalo kebanyakan umatnya masih nyaman menjadi “para penikmat Islam”. Yup, mereka PDKT dengan Islam karena bermodal semangat, ngikutin trend, pake symbol islam sebagai media eksistensi, hingga ajang penyejuk hati. Sebagai awalan sih bagus aja. Tapi kalo nggak dibarengi dengan mengenal Islam lebih dalam terus dipraktekkin dalam keseharian, belon afdhol! Jadi jangan hanya pake Islam yang ‘enak’, ‘nyaman’, ‘sejuk’, ‘nikmat’ aja. Setuju?

Jadilah ‘Pendaki Sejati’ (The Climbers)

Gampang banget kita mengukur tingkat keseriusan seseorang terhadap kegiatan keislaman yang digelutinya. Lihat aja gimana sikap doi ketika berhadapan dengan tantangan yang berhubungan dengan keislamannya. Awalnya bisa dimaklumi berbusana muslim semaunya karena belum paham. Lalu setelah dikasih tahu yang benernya, lihat deh sikapnya apa dia mau berubah menjadi lebih syar’i dan konsisten menjaga auratnya atau tetap dengan kondisi semula?

Alhamdulillah banget kalo banyak remaja yang udah pacaran tapi mau ikut ngaji. Setelah kenal islam lebih dalam, lihat deh gimana sikapnya dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Segera memutuskan pacarnya atau tetep menjaga jalinan asmaranya dalam label pacaran?

Kita acungi jempol dengan antusias umat Islam yang pada ikut pelatihan motivasi Islami. Semangatnya menggebu-gebu saat pelatihan untuk ikut ambil bagian dalam dakwah islam. Lalu coba perhatikan setelah pelatihan berlalu. Tetep tune in dengan dakwah islam? Aktif mengkaji Islam secara rutin? Atau sudah lupa dan kembali asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Setiap orang boleh kok punya sikap berbeda dalam menghadapi tantangan. Apa pun yang dia pilih, masing-masing ada konsekuensinya. Allah udah ngasih dua jalan, kebaikan yang berakhir di surga. Atau keburukan yang  mentok di neraka. Karena itu, kita bisa kategorikan tipe orang bedasarkan sikapnya dalam menghadapi tantangan.

Pertama, tipe Quiters. Dia tipe yang tergesa-gesa, ingin cepat sampai, mudah menyerah dan mudah bertekuk lutut. Ia selalu menggunakan jurus langkah seribu ketika ada masalah. Orang semacam ini selalu dihinggapi su’uzon thinking. Memilih jalan aman daripada menghadapi tantangan.

Kedua, tipe Campers. Dia adalah tipe yang mendaki sampai ketinggian tertentu, kemudian memutuskan berhenti setelah dirasa nyaman dan bisa menikmati kesuksesannya. Dia memilih jalan yang tidak berhadapan dengan resiko besar. Memang lebih baik dari tipe quiters, tapi bukanlah yang terbaik.

Ketiga, tipe Climbers. Dialah tipe pendaki sejati yang siap menghadapi tantangan apa pun. Mengubah kesulitan menjadi kemungkinan. Tidak lemah, tidak putus asa, dan selalu memandang optimis kedepan. Dia yakin, Allah selalu bersamanya ketika menjalani keistiqomahannya dalam Islam dan di jalan dakwah. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat, 30 – 32)

Driser, hanya orang-orang yang punya tipe climbers saja yang bisa mencatatkan dirinya sebagai pembangkit umat. Ya, dia yang punya semangat, istiqomah dan perlahan tapi pasti selalu berusaha memperbaiki diri dan pemikirannya dengan ikut ngaji sampai nanti sampai mati. Sehingga bisa bangkit menjadi pribadi yang berprestasi dalam naungan ridho illahi. Cetaaar….!!!

Pantang Mundur Pantang Futur

Driser, gak ada ceritanya istiqomah di jalan Islam bisa bebas hambatan tanpa resiko seperti di jalan tol. Apalagi di tengah kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Pasti banyak tantangannya karena syariah Islam dianggap asing dan berbeda. Jauh-jauh hari, Rasul saw sudah ngasih kabar dalam sabdanya: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim)

Makanya gak pake ciut nyali kita kalo dianggap asing lantaran istiqomah pake aturan Islam dalam keseharian. Lantaran Rasul udah menjamin kebahagiaan bagi mereka yang istiqomah. Para ulama bilang, kebahagiaan yang dimaksud adalah jaminan ketenangan hidup, kemantapan hati, dan berbagai bantuan Allah selama di dunia serta jannatun na’im (surga na’im) di akhirat. Hmm…yummy!

Pastinya penasaran dong siapa yang dimaksud al-ghuraba atau orang asing dalam hadits di atas. Rasul menjawab: “Orang-orang yang mengadakan perbaikan ketika manusia sudah rusak, orang yang maksiat lebih banyak daripada orang yang taat.” (HR Ahmad)

Jadi al-ghuraba adalah mereka yang selalu berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Mereka juga yang tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tapi juga aktif mendakwahkan Islam ke orang lain dengan menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Terakhir, yang nggak kalah pentingnya mereka juga sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Karena mereka yakin, bakal dapat kebahagiaan yang tak ternilai dibalik setiap tantangan yang dihadapi. Seperti sabda rasul:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud)

Nah driser, jadi nggak ada alasan bagi kita untuk sekedar ikut kegiatan Islam cuman modal semangat dan ogah menghadapi resiko. Sayang beribu-ribu sayang. Tinggal sedikit lagi kita bisa meraih predikat al-ghuraba yang mulia. Masa iya sih cuman kenal Islam nyampe di permukaan aja. Entar berkah kebaikannya juga cuman seupil. Ayo kita nyebur sekalian. Rasakan sensasinya menjadi pribadi yang disayang Allah. Nikmati setiap tantangan yang menjadikan kita lebih dewasa. Kalo udah PDKT with Islam, pantang mundur pantang futur (loyo). Tetep semangat karena kapling di surga tengah menunggu kedatangan kita. Allahu akbar! [LBR]

BOX:
Tips tetep istiqomah

Kadar iman itu bisa naik, bisa juga turun alias tidak konstan. Biar nggak kecolongan, berikut ada sedikit tips agar tetap istiqomah menjaga Islam:

  1. Ngaji.

Kegiatan mengenal islam lebih dalam ini satu-satunya cara untuk bisa mengisi ‘bahan bakar’ tsaqofah kita. Biar kita tahu mana yang boleh dikerjain mana yang nggak. Dengan begitu, kita bisa menjaga diri untuk tetap taat dan menjauhi maksiat.

  1. Berteman dengan orang sholih.

Karena teman ‘sebagai cermin diri’. Dengan siapa kita berteman itu menunjukkan diri kita. Maka jika ingin selalu istiqomah, bertemanlah dengan orang sholih yang akan selalu mengajak kita ke jalan keshalihan bukan kemaksiatan.

  1. Perkuat amalan nafilah.

Jika kita banyak beramal shalih, entah itu puasa, qiyamul lail, baca quran, shodaqoh, akan bisa makin memperkuat keimanan serta menjaga diri kita. Sehingga perbanyak amalan nafilah/ sunnah, kurangi aktivitas mubah, serta tinggalkan yang makruh dan haram.

  1. Berdakwah

Tsaqofah yang kita miliki akan teruji kalo kita sampaikan ke orang lain. Dari orang lain, nanti akan ada feedback, kasih masukan ke kita begini dan begitu, sembari kita bisa terus berbenah. Dengan sendirinya, kita akan tetap istiqomah.[]