Majalahdrise.com  – D’Riser,  edisi kali ini kita mo ngebahas habits penulis yang ketiga, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang gemar meneliti. Catet ya, penulis itu hobi meneliti, menyelidiki, sekaligus mendetili sebuah persoalan hingga ia menemukan simpulan, bahkan mendapatkan jawaban atas persoalan yang ia selidiki itu. Jadi, ia meneliti sekaligus memberi solusi, bukan meneliti untuknyari masalah, apalagi kalo sampai bikin masalah baru!Gawat banget kalo gitu!

Seorang kawan di komunitas kepenulisan pernah berseloroh, bahwa penulis yang baik layaknya seorang detektif, ia adalah seorang yang peka dan peduli, ia sanggup mendeteksi gejala sosial di sekelilingnya, ia selalu tergerak untuk mencari, meneliti dan mendetili persoalan. Ia pun mampu menuliskan hasil penelitiannya dan penyidikannya, sekaligus memberikan jawaban atas persoalannya secara solutif. Wah… selorohannya itu keren juga. Bener banget, penulis tuh adalah seorang detektif!

Oleh karena itulah, seorang penulisakan berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis tipe pelapor, seperti reporter ataupun wartawan, mencari kelengkapan berita mutlak dibutuhkan oleh mereka demi akurasi informasi yang disampaikannya. Mereka dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber, berdiskusi dengan para pakar di bidangnya atau bahkan turba (turun ke bawah) untuk melihat langsung keadaan di masyarakat. Teknik menghimpun informasi ini biasa dipakai dalam jurnalisme investigatif.

Saya punya beberapa kawan reporter di beberapa surat kabar dan majalah. Salah seorangnya menjadi wartawan di salah satu media nasional. Saat ia diamanahi untuk meliput latihan gabungan trimatra di lingkungan militer, ia tidak hanya menginput data dari informasi resmi para komandan. Namun, ia sengaja mencari sisi human interest para prajurit yang terlibat dalam latgab yang melibatkan kesatuan elit tempur dari masing-masing angkatan itu. Hasilnya, ia tidak hanya mampu memberitakan bagaimana kesiapan para prajurit menjaga teritorial negara kesatuan ini, namun juga mengungkap kecemburuan di antara mereka, apalagi setelah dilibatkannya pasukan burung hantu yang dibiayai Aussie dalam latgab itu.

Demikian pula bagi penulis tipe pengkaji, ia membutuhkan kajian fakta, data, dan berita yang lengkap dan akurat sebagai bahan untuk dikaji dan dianalisanya. Sebagai contoh, kawan penulisyang lain, ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Ia tergerak untuk menulis dampak sosial akibat kenaikan BBM. Sambil berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar, ia bertanya harga ini-itu kepada para pedagang, sekaligus menghimpun keluhan di antara para pembeli. Nyaris satu pekan, ia menginput bayak hal di lapangan, ia pun segera menuliskan hasil investigasinya sekaligus memberikan jawaban atas dampak sosial akibat kenaikan BBM tersebut. Ia mengajak para pembacanya tidak hanya untuk bersabar dan berhemat, tetapi juga untuk bergerak berjuang bersama-sama mengubah keadaan dengan solusi ideologis.

Jadi, Driser, kesibukan keseharian kita gak bisa dijadikan alasan kita untuk gak nulis. Lihat, tuh, ibu dengan tiga anak tadi, sambil berbelanja, ia dapat sekaligus investigasi, mengamati fakta di pasar, mendetili perkembangan harga-harga, sekaligus meneliti dampak sosialnya selama sepekan itu. Jadi, sambil menyelam minum aer! Halah… kembung, dunk?! Harusnya diganti, ding, sambil nyelam dapet kerang… kerang mutiara lagi!

Demikian pula yang dilakukan oleh Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail, syaikh mujtahid mutlaq dari al-Quds, Palestina yang diburu aparat intelejen di seluruh Timur Tengah, setelah mendirikan partai Islam ideologisnya itu, kerap mendengarkan berita-berita politik melalui radio ditempat persembunyiannya.Ia juga mengamati berbagai persoalan di negeri-negeri kaum Muslim, menganalisa permasalahan utamanya, kemudian memberikan solusinya secara praktis dan ideologis. Setiap peristiwa politis di dunia, khususnya Dunia Islam tak lepas dari analisanya, hingga aparat intelejen mengira Syaikh Abu Ibrahim ada dimana-mana karena partainya bergerak dimana-mana. So, gemar meneliti ternyata bukan hanya habits seorang penulis, namun juga tabiat seorang politisi dan pejuang revolusioner. Keren! []

 

BOX:

Tips Agar Gemar Meneliti

 

Oke driser, soal habits penulis yang ketigaini emang tabiat asasi bagipara penulis. Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu padagemar meneliti:

Pahamidulu, masalah apaan yang ingin kamu amati dan kamu teliti?Kalo gak paham masalahnya apa, malahkamu yang bakal dapat masalah baru!

Cari tahutempat atau lokasi dimana kamu akan mengamati, menyelidiki atau investigasi? Jika perlu, kamu nyiapin peta, browsing via google earth atau google map, manfaatin teknologi, cuy!

Siapin hal apa aja yang kamu butuhin di lapangan, buku catetan, alat tulis, alat rekam, etc. Jangan hanya ngandelin hapalan di memori, apalagi kalo loading memorinya lemot!

Seleksi siapa aja yang akan kamu tanyai, fakta apa aja yang akan kamu amati. Jangan sembarang orang yang kamu tanyai dan amati, fokus pada masalah yang ingin kamu selidiki.

Segera himpun apapun yang kamu dapet, apalagi info-info penting and krusial harus segera kamu catet, selanjutnya silahkan menganalisa dengan berkarya…

 

Congrat’s… kini kamu sudah jadi penulis pengkaji sekaligus peneliti, bahkan belajar jadi politisi….! Salut, angkat topi, deh![]