Majalahdrise.com – para sejarawan menamai periode  Kepausan pada abad ke-9 dan 10  Masehi sebagai “Pornokrasi”.  Pastinya istilah ini bikin kita bertanya-tanya,  sistem pemerintahan itu demokasi,  teokrasi, dan krasi-krasi lainnya, tapi kok  ada ya pornokrasi? Berarti pemerintahan  porno dong? Presidennya Hugh Heffner  yang bikin majalah Playboy, hehehe.

Pornokrasi memang pernah ada.  Pada abad 9 dan 10 Masehi, Tahta  Kepausan di Vatikan tenggelam dalam  pornokrasi, yakni pemerintahan para Paus  yang sepenuhnya dikendalikan oleh para  kekasih gelap dan bahkan para pelacur.  Para Paus hanya menjadi pion-pion yang  diatur sepenuhnya oleh cewek-cewek nakal  dari keluarga berpengaruh di Italia, seperti  Keluarga Spoleto. Kisah kita dimulai dari  sini. Tersebutlah seorang wanita cantik  dari Keluarga Spoleto, Duchess Agiltrude.

Walaupun dia berwajah cantik dengan  rambut pirang yang panjang, tapi dia punya  hati busuk dan kejam. Dia berkuasa dan  mengendalikan banyak pejabat dan bisa  berbuat sekehendak hatinya. Dia juga  seorang wanita yang ambisius. Di saat yang  sama, orang yang saat itu sedang  menduduki Tahta Suci Santo Petrus adalah  Paus Formosus. Dia dikenal sebagai  seorang Paus yang baik hati dan tidak  sombong. Suka menolong umatnya dan  lembut hatinya. Dia amat dihormati dan  dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.

Sayang baginya, dia harus berurusan  dengan Duchess Agiltrude yang kejam itu. Pada awal 894 Masehi, Duchess  Agiltrude membawa putranya, Lambert,  untuk dipilih dan dinobatkan oleh Paus  Formosus sebagai Kaisar Romawi Suci. Dari  sini keliatan banget perempuan ini haus  kekuasaan. Paus Formosus yang baik hati  dan bijak itu menolak dengan halus.

Dia  tahu betul anak ingusan macam Lambert  nggak bakal bisa jadi kaisar yang baik, dan  udah mencium ada konspirasi di balik  pengajuan ini. Dia lebih memilih Arnulf,  seorang bangsawan Korintia, keturunan  langsung Charlemagne, dan sangat layak  untuk menjadi Kaisar Romawi Suci.

Perempuan nggak beres macam Duchess  Agiltrude sangat geram dengan penolakan  ini, dan Paus Formosus tahu itu. Paus Formosus menyadari bahwa  Agiltrude nggak bakal tinggal diam, maka  dia meminta bantuan kepada Arnulf yang  telah dinobatkan sebagai Kaisar Romawi  Suci pada 22 Februari 896. Arnulf segera  mengejar Agiltrude bersama pasukannya,  sayangnya, dia jatuh sakit dan menjadi  lumpuh, kemungkinan karena stroke.

Pengejaran pun dihentikan. Paus Formosus  wafat 6 minggu kemudian pada 4 April 896  Masehi, konon karena diracun suruhan  Agiltrude. Kengerian nggak berhenti sampai  di sini. Agiltrude dendam setengah mati  kepada Paus Formosus, walaupun sang  Paus sudah mati. Perempuan jahat ini  kemudian menggunakan seluruh kekuatan  dan pengaruhnya untuk menaikkan calon

Paus jagoannya, Stefanus VII, ke atas Tahta  Suci Santo Petrus. Padahal semua orang  mengetahui bahwa Stefanus ini setengah  gila. Sayangnya, Stefanus naik juga menjadi  Paus, dan berada di bawah kontrol penuh  Agiltrude. Maka hal pertama yang dilakukan  Stefanus adalah menggelar sidang untuk  mengadili Formosus. Walaupun mantan Paus  ini sudah mati, dia ‘dipanggil’ kembali untuk  didudukkan sebagai terdakwa. Momen  mengerikan ini dikenal sebagai Synodus  Horrenda (Sidang Mayat).

Pada Januari 897 Masehi, Stefanus  mengumumkan bahwa sebuah sidang akan  diadakan di Gereja Santo Yohanes Lateran.  Terdakwanya adalah mantan Paus Formosus  yang sudah ‘berdiam’ di kuburan selama 9  bulan. Saat mayat mantan Paus itu digali,  yang tersisa cuma daging-daging membusuk  dan tulang-belulang. Baunya juga nggak  keruan.

Mayat yang sudah membusuk itu  dipakaikan jubah Kepausan, dan didudukkan  di kursi terdakwa, yang menjadi hakimnya  Stefanus sendiri. Di dalam sidang itu,  Stefanus puas menghujat dan menghina  Formosus yang sudah nggak bisa  mendengar, namanya juga mayat. Stefanus  membuat kegaduhan karena teriak-teriak  dan menuding Formosus. Semua hadirin  bergidig ngeri, cuma Agiltrude saja yang  tersenyum puas saat sidang itu berlangsung.

Namun dia belum puas dengan  dendamnya. Formosus pun divonis bersalah atas  semua tuduhan. Stefanus memerintahkan  jubah Kepausan itu dilucuti dan dipakaikan  baju rakyat jelata sebagai gantinya.

Belum  cukup sampai di situ, tiga jari Formosus,  atau lebih tepatnya sisa-sisa jari, yang biasa  digunakan untuk memberi berkat  Kepausan, dipotong. Tiga jari itu kemudian  diserahkan kepada Agiltrude. Bakal jadi  jimat kali yeee!  Pemakaman kembali Formosus pun  dilakukan di pemakaman rakyat jelata. Tapi  kengerian belum berakhir sampai di sana,  mayat Formosus digali lagi kemudian  diseret di jalan-jalan kota Roma, lantas  mayatnya diikatkan pemberat dan dibuang  ke Sungai Tiber biar nggak ngambang.  Secara rahasia, seorang pendeta yang amat  menghormati Formosus meminta bantuan  kepada sekelompok nelayan untuk  mengangkat mayat itu dari dasar sungai  dan menguburkannya secara rahasia. Ngeri  banget kan!

Firman Allah memang benar,  merekalah seburuk-buruknya makhluk.  “Sesungguhnya orang-orang kafir dari  golongan ahli kitab dan musyrik berada  dalam neraka Jahanam. Merekalah seburuk-buruknya makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 76)  [say ]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50