Assalamu’alaikum D’Rise  tolong bahas tentang hukum  mengarang/novel n kisah2 fiktif  dong! cz q pernah baca2 artikel, klo  mmbuat cerita2 fiktif itu sama dg  mnyebarkan khurafat n  pembuat/penulisny dkategorikan sbg  ahlul bid’ah.. Wach,q jd ngeri jg tuh  mau nulis2 novel. Thanks..  (Nuruddin Zanky al-Jambari,Bumi  Allah)

Akhi Nuruddin Zanky Barakallahu  fika Hukum asal bohong adalah  haram.

Tetapi ada beberapa hadis yang  menjelaskan tentang kebolehan  bohong sebagaimana sabda Rasulullah  saw. Yang datang dari ummu kultsum:  “Bukanlah pendusta orang yang  mendamaikan antara manusia (yang  bertikai) kemudian dia melebih-lebihkan kebaikan atau berkata baik”.  [Muttafaqun ‘Alaih]

Novel atau kisah-kisah fiktif adalah  sesuatu yang tidak ada realitasnya dengan  kata lain mengada-ada. Tapi apakah ini  masuk kategori bid’ah atau khurafat (cerita  dusta)? Tentu kita harus dalami dulu faktanya  (tahqiq almanath).

Akan disebut bid’ah  apabila cerita yang dibuatnya ada kaitannya  dengan ibadah atau fadhilah-fadhilah ibadah  yang tidak ada keterangannya dari rasulullah  saw.

Sebagaimana sabda beliau “Barang  siapa berdusta atas nama kami (mengada-adakan hadis) maka bersiap-siaplah dia  duduk diatas api neraka”. (Muttafaq alaih).

Memang hukum mengarang novel atau  kisah-kisah fiktif tidak dijelaskan langsung  hukumnya sebagiamana hukum  menggambar binatang. Maka jika melihat  pada ketiadaan syariat memberikan hukum  jelas terhadap sesuatu, bisa jadi menulis  novel itu termasuk Mubah; namun karena  faktor tertentu, ia bisa jadi juga haram,atau   makruh.

Kalau kita mengamati kitab-kitab  yang digunakan di pesantren-pesantren ada  diantaranya kitab yang berisi cerita-cerita  fiktif seperti kitab al-Qira’tur rasyidah atau  biasa disebut kitab muthala’ah yang disusun  oleh Abdul Fattah shabry dan Ali Umar.

Di  dalamnya terdapat kisah-kisah yang memberi  motivasi, pelajaran hidup, dan kehidupan  binatang. Seperti kisah al-Asad wal Fa’rah,  at-Tahawun, sur’atul Khathir, at-taqlidul  a’ma dll.yang semuanya berisi tentang hal-hal yan baik dan memberikan pelajaran  kapada para pembacanya agar senantisa  berbuat baik. Kalau demikian adanya maka  cerita-cerita fiktif itu hukumnya mubah.  Apalagi disana terdapat pelajaran bahasa  atau tarkib allughah.

Tetapi ada juga  ulama  muta’akhirin yang menyatakan “Apabila  kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi  ini membuat seseorang lalai dari perkara  yang hukumnya wajib, maka kegiatan ini  hukumnya haram. Dan apabila kegiatan ini  melalaikan seseorang dari perkara yang  hukumnya sunnah maka kegiatan ini  hukumnya makruh. Dalam setiap kondisi,  waktu seorang muslim sangat berharga, jadi  tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan  waktunya untuk perkara yang tidak ada  manfaatnya.( Syaikh Shalih bin Fauzan Al  Fauzan)

Wal hashil seorang muslim harus  pandai-pandai menimbang perbuatannya.  Kalau perbuatannya hanya menghasilkan  kesia-siaan maka lebih baik ditinggalkan. Dan  apabila perbuatannya akan menadatangkan  manfaat bagi dirinya dan orang lain  maka  hendaklah ia melakukannya. Sebagiamana  ungkapan yang sering kita dengar “sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi  manfaat bagi orang lain”. Wallahu a’lam[]