Hukuman mati jadi momok yang menakutkan bagi para  pelaku kriminal stadium tinggi. Di beberapa negara atau  komunitas, pimpinannya punya metode unik dalam  H mengeksekusi para terdakwa yang divonis hukuman mati. Berikut  diantaranya:   

Buried Alive Caranya yaitu korban diikat lalu dimasukkan secara terbalik dalam  sebuah lubang dan dikubur. Pada pembantaian Nanjing selama  Perang Dunia II, tentara Jepang menggunakan cara ini mengubur  warga sipil Cina hidup-hidup yang kemudian dikenal dengan “Ten  Thousand Corpse Ditch”.

Snake Pit Berupa lubang yang dalam dan berisi puluhan bahkan ratusan ular  berbisa. Caranya ? cukup lemparkan saja si terhukum kedalamnya.

Slow Slicing Alat penyiksaan berbentuk seperti cakar ini banyak digunakan di  Eropa selama Abad Pertengahan. Berfungsi untuk merobek kulit  korban. Alat ini dapat merobek apapun, bahkan otot dan tulang.  Korban diikat dalam keadaan telanjang, terkadang di depan umum,  dan kemudian para algojo mulai menyiksa mereka. Biasanya dimulai  dari tungkai (pinggang) dan bekerja ke dalam, leher dan wajah selalu  menjadi bagian terakhir. Sadis!

The Spanish Tickler Ling Chi, diterjemahkan sebagai “Mengiris dengan lambat” atau  “kematian yang masih tersisa” seringkali dijuluki  dengan kematian oleh seribu luka. Bentuk  penyiksaan dan eksekusi yang sangat  menyakitkan. Penyiksa perlahan-lahan menyayat  dan memotong beberapa bagian tubuh, seraya  memperpanjang hidup dan korban penyiksaan  selama mungkin.

 Burning at the Stake Membakar adalah suatu bentuk hukuman mati  yang telah dikenal selama berabad-abad,  biasanya dikaitkan dengan kejahatan seperti  pengkhianatan dan sihir. Korban diikat di sebuah  tiang pancang biasanya di pusat kota atau di  mana pun dengan penonton dan kemudian menyalakan api.  

Necklacing Umum dipraktikkan di benua Afrika. Necklacing terdiri dari karet ban  yang diisi dengan bensin, dipakaikan di sekitar dada korban dan  lengan, dan kemudian dibakar. Necklacing akan menyebabkan tubuh  menjadi meleleh terbakar.

The Five Pains Seperti namanya, Five Pains dilakukan dengan lima tahap. Dimulai  dengan pemotongan hidung korban, lalu satu tangan dan satu kaki,  kemudian dikebiri dan akhirnya dibelah dua di pinggang. Penggagas  hukuman ini Li Si, seorang Perdana Menteri Cina, akhirnya disiksa  dan kemudian dihukum mati dengan cara ini.

Colombian Necktie Tenggorokan korban disayat, sering kali dengan pisau yang tidak  terlalu tajam sehingga benar-benar menyakitkan, dan kemudian lidah  mereka ditarik keluar melalui luka yang terbuka. Sewaktu zaman La  Violencia, sebuah periode sejarah Kolombia penuh dengan  pembunuhan cara ini.  

Hanged, Drawn, and Quartered Prosesnya adalah sebagai berikut. Pertama, korban diseret pada  bingkai kayu, yang disebut rintangan ke tempat eksekusi. Kedua,  korban digantung lehernya untuk waktu singkat sampai hampir mati.  Ketiga, pengebirian, di mana setelah itu, isi perut dan alat kelamin  dibakar di depan korban. Akhirnya, tubuh terbagi menjadi empat  bagian yang terpisah dan dipenggal kepalanya. Hukuman ini biasanya  diterapkan untuk pengkhianatan tinggi di Inggris selama abad  pertengahan. Meskipun dihapuskan pada tahun 1814, bentuk  eksekusi ini bertanggung jawab atas ratusan, bahkan mungkin ribuan,  kematian.  

Cement shoes Diperkenalkan oleh Mafia Amerika. Metode eksekusi ini  menempatkan kaki korban dalam blok dan kemudian mengisinya  dengan semen basah lalu didiamkan hingga kering dan kemudian  melemparkan kepadanya ke dalam air. Bentuk eksekusi ini masih  dipraktekkan hingga sekarang.

Guillotine Berasal dari Perancis, eksekusi ini berupa pisau tajam  diikatkan pada tali, kepala korban diletakkan di tengah-tengah frame dan kemudian pisau jatuh secepat kilat,  menyebabkan orang yang dipenggal mati hampir seketika.  Sangat cepat dan tidak jauh berbeda dengan hukuman  pancung.

The Brazen Bull The Brazen Bull, disebut sebagai salah satu metode ekseskusi  paling kejam. Dirancang pada zaman Yunani kuno, dalam  bentuk banteng, dengan pintu di bagian samping yang  terbuka dan terkunci. Untuk memulai eksekusi, korban  dimasukkan ke dalam banteng kuningan lalu api dinyalakan  bawahnya. Pembakaran itu menyebabkan korban terpanggang sampai  mati. Banteng itu dirancang sedemikian rupa sehingga jeritan para  korban akan terdengar seperti musik bagi algojonya. Sadis bin kejam tanpa perikemanusiaan dan perikehewanan!                                                                                                                                                                  

 Itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan budaya barbar di  atas. Tapi salah alamat kalo ada yang bilang hukuman mati dalam  Islam dianggap kejam. Karena Islam sangat menghargai manusia.  Sehingga dalam mengeksekusi mati pun nggak asal yang penting  meninggal. Hukuman mati dalam Islam, justeru untuk menyelamatkan  pelaku dari siksa neraka (jawabir) dan melahirkan efek jera yang  mencegah masyarakat untuk mengulangi kejahatan yang sama  (jawazir). Tidak ada pihak yang dirugikan ketika hukuman Islam  diterapkan oleh negara. Dijamin! [341]