25 Juni

Alis matanya hitam seperti aspal jalanan yang baru di

tuangkan. Sedikit mencuat ke atas ketika dia

Amenengadahkan kepalanya. Bibirnya ranum terpoles

lipgloss warna merah jambu. Sibakan rambutnya menebar wangi

sampo yang aku baru lihat kemarin di mini market. Aduhai hati, jangan

engkau goda aku dengan cara begini.

“Hai, Riski. . .” sapanya dengan merdu yang diiringi gelak tawa

kemudian oleh teman-temannya.

Ghodul bashor, ghodul bashor Riski. Aduhai hati, pejamkan

matamu. Jangan biarkan setan menjerat napsumu. Tuhan pasti

melindungimu, Riski.

“Shit!!!” buku-bukuku terjatuh.

“Wah, Riski, jangan gerogi begitu dong! Aku bantu ya?” dia

sengaja menggodaku. Dasar iblis bermata indah.

“Jazakillah, ukhti!!!”

“Hei, mau kemana? Jangan buru-buru. Apa arti kalimat yang eloe

bilang tadi??!” aku harus segera menjauh darinya.

Huufft. Ternyata inilah efek kalau aku jarang berolahraga.

Napasku terasa berat seberat buku-buku shiroh nabawiyah ini. Damn!

Wanita itu terus mengejarku.

“Hei, anak pesantren! Bukuu. . . mu . . . .!!” Suaranya sudah

terdengar jauh di belakang sana.

***

Keringatku mengalir sederas air mancur di halaman kampus

Mulawarman. Aku harap tak seorangpun yang akan mencium aroma

badanku. Mau taruh muka dimana jika mereka tahu, aku barusan

kabur dari wanita penggoda itu lagi.

“Berita hangat, berita hangat!!! Berita hangat!!!” si Bino albino

itu kumat. Penyakit tukang gosipnya belum sembuh-sembuh. Dari

semester awal mengenalnya sampai sekarang udah semester tujuh,

kelakuannya masih sama saja.

“Woii, gossip hangat apaan bro?” Damar, si kapten Volley

menggebu-gebu seperti biasanya saat si albino datang membawa

kabar terbaru.

“Cinta bro . . .” si albino membisikkan sesuatu ke telinga si

kapten. Apa penting sekali?

Apa sih yang sedang mereka bicarakan? Tentang cinta? Ya,

mungkin saja. Mereka memang sih sering barter kisah. Mulai dari kisah

pribadi hingga kisah teman-teman sejagad kampus. Saat di semester

tiga, aku pernah kebagian sepenggal ceritanya. Namun langsung ku

urungkan begitu ternyata kisah mereka menjurus kepada hal berbau

seksualitas. Kalau aku tetap mendengarkan, bisa-bisa gharizah nau’ ini

akan bangkit. It’s danger!

Ngomong-ngomong soal Cinta, akhwat satu itu akhir-akhir ini

mulai gentayangan di fakultas teknik. Dengar-dengar, dia kan anak

fakultas management. Ada apa gerangan yang membuatnya terseret

jauh hingga ke kampung para adam?

“Hahahahahaha,” gelak tawa mereka menggaung bersama

keramaian pojok kantin. Tempat sakral para atlet yang

mengharumkan nama kampus.

Atlet kampus. Sarang nasionalis kecil yang menghancurkan

moralitas generasi muda terhadap saudara muslim mereka.

Bayangkan saja contoh kecilnya. Saat piala dunia tahun lalu, semua

orang bersorak-sorak melantunkan lagu-lagu kebangsaan, padahal

Indonesia sama sekali tak memasuki klasemen. Apa lagi menyentuh

rumput hijau lapangan world champion. Malahan baru-baru ini

timnas dapat hukuman dari FIFA akibat suatu insiden apa gitu.

Mereka tetep aja kekeh menunjuk team jagoannya masing-masing.

Beberapa mahasiswa malah sampai ada yang membuatnya sebagai

ajang taruhan. Ujung-ujungnya mereka menderita kerugian banyak

hal. Rugi materi yang digunakan sebagai tumbal taruhan, rugi tenaga

sebab bergadang semalaman, rugi waktu karena keesokan harinya

UTS telah di selenggarakan. Tapi mereka tak pernah jera, alasannya

sih buat cari happy. Dasar mental hedonis bin kapitalis.

“Riski!!!” Mirwan mengagetkanku dengan menepuk pundakku

dari belakang secara tiba-tiba.

“Ono opo to, Wan?” hahh, bahasa jawaku belum sefasih dia.

“Sampean mikir opo to??” logatnya itu loh bikin aku tertawa

dalam diam.

“Halah sampean mau tau aja.”

“Yo uwes lah, kulo niki Cuma berbaik hati mau nyamperin

sampean kok. Piye tugas sampean? Uwes kelar opo mandek??”

Tugas yang mana ya? Apakah tugas dari Mr. Brian? Ataukah

tugas dari Mrs. Laila? Apa ada tugas yang lain?

“Walah, sampean bengong lagi, Riski?? Riski???” dia sengaja

menjentikkan jemarinya di depan wajahku. Dia pikir aku tak

mendengarkannya.

“Ohh, astaghfirullah, bukuku!!!” tugas dari Mr. Brian yang harus

dikumpulkan besok terjatuh.

“Riski!! Sampean mau kemana? Aku belum selesai ngomong

sama sampean to. . . .”

Di mana aku menjatuhkan barang sepenting itu? Sialan. Kenapa

di saat seperti ini??!!! Tak adakah waktu lain atau barang yang lain

saja yang hilang begitu? Ya Allah, bantu aku menemukannya.

Gedung fakultas teknik kampus Mulawarman itu lumayan luas

loh. Nyari satu buku catatan yang hilang aja rasanya kayak nyari biji

beras dalam lumpur. Ampun deh, keringat dan bau ketiak bisa-bisa

mencemari siang bolong yang syahdu ini. Bayangin aja, manusia-manusia kelaparan yang baru keluar dari kelas juga bejibun numpuk

menuh-menuhin pelataran gedung itu pada sibuk ngeliatin. Coba

dibantu ya khan??? Biar dah, cium nih keringat gue!!!

“Riski!!!!”

“Astaghfirullahal ‘adzim!!!” ini akhwat apa enggak tau sopan

santun ya?? Ngaget-ngagetin orang yang bukan mahramnya di depan

umum. Oke kalau dia nggak merasa malu, tapi aku kan yang malu.

Mau taruh di mana muka ini????

“Hei, eloe kayak baru ngeliat setan aja sih. Ini gue, Cinta. Lupa ya

eloe. Yang tadi pagi bantuin eloe pungutin buku-buku eloe itu… loe

pasti ingat gue donk…”

Dasar ini akhwat. Matanya bulat seperti boneka-boneka Barbie

punya adikku di rumah. Sapuan eyeshadow brownie tipis itu manis

sekali di matanya. Oh, ya ampun dia juga memakai eyeliner dan

maskara seperti mamaku. Duhai hati, kelipan matanya menggoda

iman ini. Astaghfirullahal ‘adzim, duhai hati, kau tak punya hak

melihat kecantikannya. Akhwat seperti dia tak punya kelayakan untuk

kau miliki, Riski. Duhai Rabb-ku, ampuni hati ini.

Ghodul bashor, ghodul bashor Riski. Tundukan pandanganmu.

“Afwan, apa anti melihat buku agenda biru saya?”

“What’s?? nama gue Cinta, bukan Anti. Aduuh, apa gue mesti

kenalan lagi ya sama eloe??”

“Afwan saya ulangi, apa kamu melihat buku agenda biru saya?

Saya kehilangan benda itu baru saja.”

Dia nampaknya seperti berpikir sesuatu. Apa dia akan mengulur-ngulur waktu? Oh, astaghfirullah… teguhkan hatiku dari iblis bermata

indah ini ya Allah.

“Apa ini buku yang eloe maksud?” ia menunjukkan sebuah buku

agenda bersampul biru gotic. Ya aku mengenal buku itu.

“Syukron, anti menemukannya. Boleh saya minta?” kuraih buku

itu namun ia menariknya secepat kilat dariku.

“Hei, tunggu dulu.” Ia memainkan bukuku dengan jemari-jemari

mungilnya.

“Astaghfirullahal ‘adzim, anti mempermainkan saya?!” aku

meninggikan suara satu oktaf, hati dan wajah ini sudah sangat

menahan rasa malu. Ingin rasanya aku sembunyi di lubang semut saat

itu juga. Mata para pemburu gossip membelalak lebar menunggu

reaksi akhwat di depanku ini.

“Enggak, gue cuma mau menawarkan sesuatu sama eloe. Yaa,

itung-itung timbal balik karena gue udah nyelamatin buku eloe ini.”

“Afwan, saya tak mengerti. Bukankah itu barang saya, dan masih

dalam hak milik saya?” dia benar-benar ingin mempermainkan aku

rupanya. Astaghfirullahal ‘adzim.

“Oke, gue persingkat. Buku eloe gue kembaliin, asalkan eloe mau

jalan sama gue? Bagaimana?”

Degg!!!

‘Audzubillahiminassyaithanirrajim. Ya Allah, andaikan akhwat di

hadapanku ini mengenakan hijabnya dengan sempurna. Menutupi

rambutnya sesempurna perintah-Mu dalam surah An Nuur ayat 31.

Mengulurkan jilbabnya sepanjang tubuhnya sesempurna hukum-Mu

dalam surah Al Ahzab ayat 59. Tentu aku tak bersusah payah

menasehati  atau menghindarinya seperti sekarang ini ya Allah…

Bila pun ia mengenakan hijab selayaknya demikian. Aku tak akan

inginkan dia berjalan berdampingan di sampingku selama ia bukan

mahram ataupun istriku. Tentu hanya manusia tak berakhlak yang

menginginkan hal itu terjadi. Bukankah Allah pun telah menjanjikan

seorang pendamping yang sesuai terhadap diri setiap insan. Wanita

baik-baik akan mendapatkan lelaki baik pula. Dan sebaliknyapun

demikian. Lelaki baik-baik akan mendapatkan wanita baik pula. Apa

aku terlalu hina dan pantas mendapatkan akhwat tak berakhlak di

hadapanku ini?

“Kalau begitu anti harus menikah dengan saya dulu?? Bersedia?”

mungkin itu akan menjadi pertanyaan yang memborbardir keteguhan

hatinya. Mungkin saja.

“What’s?” mata bulatnya membesar seperti ingin keluar dari

tempurungnya. Walau begitu ia tetaplah iblis bermata indah. “Gila

loe!!! Gue masih pengen kuliah!!”

“So, kita enggak bisa jalan bareng kalau begitu.”

“Berarti loe nolak tawaran gue??? Kalau gitu buku eloe akan

tetap sama gue!”

“Enggak masalah, kalau anti suka. Buku itu buat anti saja. Saya

bisa membuatnya lagi.” Jurus terakhir, ikhlas. Hahaha.

“Pokoknya gue tunggu sampai eloe nerima tawaran gue. Eloe

bisa temuin gue kapanpun untuk ngambil buku ini…” Ia menyimpan

buku agendaku itu ke dalam tas Gucci merahnya tergesa-gesa.

Mungkin ia tak tahan dengan penolakkanku.

Hei, akhwat bermata indah. Tak semua keinginanmu bisa

terkabulkan dengan cara seperti itu. Tak semua lelaki terjebak dalam

tipu muslihat kecantikanmu. Cantikmu malah sarang neraka dunia

bagi kami yang takut tergoda olehmu.

Hei, akhwat bermata indah. Tata akhlakmu dalam bingkai

ketaatan. Hijablah cantikmu hanya untuk suamimu. Jangan biarkan

lelaki asing menatapmu dengan tergiur oleh pesonamu.  Cukuplah

bidadari surga yang akan cemburu melihatmu karena akhlakmu.

Duhai akhwat bermata indah, kau cantik tapi tak berakhlak.

***

Senin, 26 November

“Riski, ayolah masuk ke team volley kita. Andri baru keluar

kemarin, team lagi kekurangan pemain nih.” Damar si kapten team

memergokiku di kantin saat siang bolong, matahari merah itu

menggantung tinggi di atas kepala. Panasnya cuaca, pedasnya kuas

bakso Mang Joni, panas dan pedas lagi ocehan si Damar ini.

“Sorry, aku enggak bisa Mar.”

“Kenapa bro? gue lihat-lihat eloe jago juga tuh main volley

kemarin sama Mirwan. Ayolah bro…”

Ini orang, apa enggak ngerti bahasa penolakanku ya? Kayaknya

sangat jelas tuh kedengarannya. Bukan maksudku engak suka main

volley atau benci sama orang-orang di dalam teamnya Damar. Kostum

mereka itu loh, pamer aurat. Bukan hanya itu sih, kalau masuk dalam

team atlet apapun juga sama aja, pasti banyak akhwat genit yang

pada nontonin. Ogah ah tebar pesona, tebar dosa kali.

“Sorry, kamu cari orang lain aja ya. Aku enggak bisa.” Lebih

menggiurkan baksonya Mang Joni ketimbang jadi pemain volley.

“Riski, nih ada yang naruh di lokermu tadi pagi. Sorry gue ambil,

tapi enggak gue buka kok. Suer!!!” Si Bino albino menyodorkan

sebuah bungkusan persegi tertutup rapi oleh kertas kado berdesign

batik.

“Jazakallah, Bino. Dari siapa?”

“Hahhaa, mana gue tau. Kayaknya Mirwan tuh yang tau. Eloe

tanya aja sama dia.” Begitu selesai menyampaikan hal tersebut ia

berlalu meninggalkan jamaah pengunjung kantin yang mulai ramai.

“Mirwan!!”

“Ya??”

“Afwan, kata Bino, ente tau siapa yang memberikan ini untuk

ana??”

“Sampean buka saja, nanti sampean tau dewe sopo sing kasih iki

untuk sampean to Ris?”

Tampilan bungkusnya menawan, seperti akhwat-akhwat modis

yang tampil eksis di luar sana. Lirik sedikit bisa kena denda. Bah,

mahal amat yea.

“Ini kan buku agenda ana?” apakah akhwat itu?

Dia kembali walau hanya sekilas. Kini aroma kehadirannya tak

sewangi sampo di mini market seperti waktu itu. Wanginya selembut

sapuan angin. Tak berbau. Mata bulatnya tak bersapu bubuk pewarna

kali ini. Polesan lipgloss di bibir ranumnya pun tak nampak sama

sekali. Asli. Geraian rambut itu tak akan pernah terlihat lagi kini. Apa

lagi body gitar spanyolnya. Hijab itu telah menjulur setinggi tubuhnya.

Allah… kokohkan iman ini. Duhai hati, jangan kau gelitik aku seperti

ini. Astaghfirullah, dia bukan mahramku. Maafkan segala penyakit hati

ini. Engkaulah yang sanggup membolak-balik hati.

Assalamu’alaikum wr wb.

Teruntuk akhi Riski. Afwan bila mana sebelumnya ana telah

bersikap tidak baik terhadap akhi. Ana mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini buku agenda akhi yang dulu ana simpan. Afwan lagi,

ana dengan khilaf telah membuka buku agenda akhi dan

membacanya. Namun dari sana ana banyak belajar tentang Islam.

Alhamdulillah, mungkin dari sana Allah mencambuk ana.

Wassalamu’alaikum wr wb.[]