Iblis Bermata Indah - Majalah Remaja Islam D'Rise
Monday, September 25th, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Monogatari >> Iblis Bermata Indah

Iblis Bermata Indah




Oleh : Mutia Rafif

Iblisbermata indah25 Juni

Alis matanya hitam seperti aspal jalanan yang baru di tuangkan. Sedikit mencuat ke atas ketika dia menengadahkan kepalanya. Bibirnya ranum terpoles lipgloss warna merah jambu. Sibakan rambutnya menebar wangi sampo yang aku baru lihat kemarin di mini market. Aduhai hati, jangan engkau goda aku dengan cara begini.

“Hai, Riski. . .” sapanya dengan merdu yang diiringi gelak tawa kemudian oleh teman-temannya.

Ghodul bashor, ghodul bashor Riski. Aduhai hati, pejamkan matamu. Jangan biarkan setan menjerat napsumu. Tuhan pasti melindungimu, Riski.

“Shit!!!” buku-bukuku terjatuh.

“Wah, Riski, jangan gerogi begitu dong! Aku bantu ya?” dia sengaja menggodaku. Dasar iblis bermata indah.

“Jazakillah, ukhti!!!”

“Hei, mau kemana? Jangan buru-buru. Apa arti kalimat yang eloe bilang tadi??!” aku harus segera menjauh darinya.

Huufft. Ternyata inilah efek kalau aku jarang berolahraga. Napasku terasa berat seberat buku-buku shiroh nabawiyah ini. Damn! Wanita itu terus mengejarku.

“Hei, anak pesantren! Bukuu. . . mu . . . .!!” Suaranya sudah terdengar jauh di belakang sana.

***




Keringatku mengalir sederas air mancur di halaman kampus Mulawarman. Aku harap tak seorangpun yang akan mencium aroma badanku. Mau taruh muka dimana jika mereka tahu, aku barusan kabur dari wanita penggoda itu lagi.

“Berita hangat, berita hangat!!! Berita hangat!!!” si Bino albino itu kumat. Penyakit tukang gosipnya belum sembuh-sembuh. Dari semester awal mengenalnya sampai sekarang udah semester tujuh, kelakuannya masih sama saja.

“Woii, gossip hangat apaan bro?” Damar, si kapten Volley menggebu-gebu seperti biasanya saat si albino datang membawa kabar terbaru.

“Cinta bro . . .” si albino membisikkan sesuatu ke telinga si kapten. Apa penting sekali?

Apa sih yang sedang mereka bicarakan? Tentang cinta? Ya, mungkin saja. Mereka memang sih sering barter kisah. Mulai dari kisah pribadi hingga kisah teman-teman sejagad kampus. Saat di semester tiga, aku pernah kebagian sepenggal ceritanya. Namun langsung ku urungkan begitu ternyata kisah mereka menjurus kepada hal berbau seksualitas. Kalau aku tetap mendengarkan, bisa-bisa gharizah nau’ ini akan bangkit. It’s danger!

Ngomong-ngomong soal Cinta, akhwat satu itu akhir-akhir ini mulai gentayangan di fakultas teknik. Dengar-dengar, dia kan anak fakultas management. Ada apa gerangan yang membuatnya terseret jauh hingga ke kampung para adam?

“Hahahahahaha,” gelak tawa mereka menggaung bersama keramaian pojok kantin. Tempat sakral para atlet yang mengharumkan nama kampus.

Atlet kampus. Sarang nasionalis kecil yang menghancurkan moralitas generasi muda terhadap saudara muslim mereka. Bayangkan saja contoh kecilnya. Saat piala dunia tahun lalu, semua orang bersorak-sorak melantunkan lagu-lagu kebangsaan, padahal Indonesia sama sekali tak memasuki klasemen. Apa lagi menyentuh rumput hijau lapangan world champion. Malahan baru-baru ini timnas dapat hukuman dari FIFA akibat suatu insiden apa gitu. Mereka tetep aja kekeh menunjuk team jagoannya masing-masing. Beberapa mahasiswa malah sampai ada yang membuatnya sebagai ajang taruhan. Ujung-ujungnya mereka menderita kerugian banyak hal. Rugi materi yang digunakan sebagai tumbal taruhan, rugi tenaga sebab bergadang semalaman, rugi waktu karena keesokan harinya UTS telah di selenggarakan. Tapi mereka tak pernah jera, alasannya sih buat cari happy. Dasar mental hedonis bin kapitalis.

“Riski!!!” Mirwan mengagetkanku dengan menepuk pundakku dari belakang secara tiba-tiba.

“Ono opo to, Wan?” hahh, bahasa jawaku belum sefasih dia.

“Sampean mikir opo to??” logatnya itu loh bikin aku tertawa dalam diam.

“Halah sampean mau tau aja.”

“Yo uwes lah, kulo niki Cuma berbaik hati mau nyamperin sampean kok. Piye tugas sampean? Uwes kelar opo mandek??”




3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 − eight =