Majalahdrise.com – Siapa sih yang nggak seneng sama Idul Fitri? Hari besar yang dirayakan setiap tanggal 1 Syawal ini emang ditunggu-tunggu banget. Secara karena ini adalah hari kemenangan bagi kita semua yang udah berjuang menunaikan ibadah shaum Ramadhan selama sebulan, ada banyak makanan, kue, dan hal-hal seru lainnya. Satu hal yang juga ditunggu adalah bagi-bagi duitnya. Pasti ini nih yang juga kamu tunggu-tunggu, hayo ngaku! Hehehe.

Buat kita yang masih usia sekolah tentunya bakalan punya banyak duit karena biasanya sodara-sodara bakal bagi-bagi duit. Hanya saja tradisi bagi-bagi duit ini nggak bisa disamakan dengan angpao dan nggak boleh juga disebut bagi-bagi angpao. Karena istilah angpao adalah istilah khusus yang udah terkait erat dengan tradisi dan keyakinan agama lain, dan kita sebagai Muslim terlarang untuk menggunakannya.

Pada awalnya, setiap perayaan Tahun Baru Imlek, biasanya etnis Tionghoa akan bagi-bagi angpao pada anak-anak dengan tujuan untuk mengusir setan yang bernama “Sui”. Setan Sui ini setiap tengah malam menjelang Tahun Baru Imlek bakal datang untuk menyentuh dahi anak-anak. Biasanya korban setan Sui ini akan menjadi gelisah, jadi mewek melulu, dan bakalan sakit, menggigil dan demam. Akibat selanjutnya, anak yang disentuh setan Sui ini akan menjadi anak yang bodoh. Nah, untuk menangkal setan Sui ini, akan diletakkan sekantung uang receh yang dibungkus dengan kertas merah di bawah bantal yang dipakai anak-anak. Cara ini diyakini sukses mengusir setan Sui dan pada perkembangan selanjutnya menjadi tradisi sampai sekarang. Karena itulah, bagi-bagi duit pas Idul Fitri nggak boleh disebut bagi-bagi angpao. Catat ya!

Idul Fitri ala Rasulullah

Setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau menemukan bahwa penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang bernama Nairuz dan Mahrajan. Pada kedua hari raya ini, mereka bersenang-senang dan bermain-main. Kota Madinah menjadi ramai dengan suara musik dan senda-gurau. Ketika ditelusuri, kedua hari raya ini ternyata berakar dari tradisi orang Persia yang menyembah api dan menganut agama Zoroaster. Maka Rasulullah saw. menghapuskan kedua hari raya Persia ini dan menggantikannya dengan dua hari raya yang jauh lebih baik, Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha,” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Pastinya kita jarang yang tahu bahwa Perang Badar itu terjadi pada bulan Ramadhan, dan kebayang nggak bahwa Rasulullah dan para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa. Tantangan yang kita hadapi saat ini nggak seberapa jika dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi Rasulullah dan para sahabat. Di sono tuh tanah Arab bro, panas dan gersang. Kebayang nggak sih gimana rasanya kalau kita berperang di tengah-tengah gurun, pas puasa lagi! Perang Badar adalah peperangan skala besar pertama yang terjadi dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi pada tanggal 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah.

Idul Fitri pertama yang dirayakan umat Islam adalah pasca Perang Badar ini. Jadi pada hari raya pertama ini, umat Islam merayakan dua kemenangan besar, yaitu kemenangan melawan hawa nafsu sekaligus kemenangan melawan orang-orang kafir. Menang melawan setan dari bangsa jin dan bangsa manusia.

Salah satu riwayat mengisahkan bahwa saat itu umat Islam merayakan Idul Fitri dengan masih membawa luka-luka dari Perang Badar. Luka-luka itu masih belum kering dan terkadang masih mengucurkan darah. Rasulullah saw. sendiri dalam keadaan luka-luka dan sangat letih. Ketika beliau harus menyampaikan khutbah Idul Fitri di atas mimbar, beliau harus bersandar pada tubuh Bilal bin Rabah saking letihnya.

Selain Perang Badar, Penaklukan Makkah juga terjadi ketika umat Islam sedang berpuasa, yakni tanggal 11 Desember 629 Masehi atau 18 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Pada Idul Fitri tahun itu, umat Islam kembali merasakan kebahagiaan berkumpul dengan sanak keluarga yang dulunya ditinggalkan di Makkah. Kampung halaman telah kembali dan penindasan kafir Qurais telah sirna. Semoga Idul Fitri yang kita rayakan benar-benar menjadi kemenangan hakiki kita di dunia dan akhirat, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat mengisinya dengan aktifitas-aktifitas yang membawa kemenangan. [sayf].

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48