Awal Pebruari 2012, lebih 70 orang tewas dalam  tawuran antar-suporter kesebelasan Al-Ahly vs Al-AMasry di Port Said, Mesir. Peristiwa ini  memperpanjang daftar tragedi dunia sepakbola.  Liga Inggris tak kalah mengerikan.

Laga Liverpool vs  Notthingham Forest di Stadion Hillsborough milik Sheffield,  15 April 1989, menyebabkan 96 suporter Liverpool tewas;  Pada 9 Maret 1946, duel Bolton Wanderers vs Stoke City di  Stadion Burden Park, menyebabkan 33 orang tewas dan  lebih dari 400 orang terluka.

Pertemuan Bradford City vs  Lincoln City, di Stadion Valley Parade, 11 Mei 1985,  menyebabkan 56 orang tewas.  Pertandingan antar-klub antar-negara juga menelan  banyak korban jiwa. Laga Juventus vs Liverpool, 29 Mei  1985, di final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussels,  Belgia, mematikan 39 suporter Juventus. Pada 20 Oktober  1982, laga Piala UEFA Spartak Moskwa vs Haarlem di  Moskwa, menewaskan 61 orang. Bahkan, versi lain  menyebut korban tewas lebih 300 orang. Pun duel bola antar-negara, sama saja.

Tanding  Guatemala vs Kosta Rika, 16 Oktober 1996, menelan tumbal  84 orang tewas. Pada 24 Mei 1964, laga Peru vs Argentina di  babak kualifikasi olimpiade di Stadion National Lima,  menewaskan 318 orang dan lebih dari 500 terluka.  Di Indonesia? Ho, ho, ho… seisi stadion dalam sebuah  pertandingan, tiba-tiba bisa jadi pegulat dan petinju,  bahkan juga sampai jadi pembunuh! Tapi ternyata, seperti kata seorang pelatih Inggris, itu  belum seberapa. “Some people think football is a matter of  life and death. I assure You, it’s much more serious than  that,” kata Bill Shankly, mantan manajer sukses Klub  Liverpool. Sepakbola, kata dia, lebih serius daripada soal  hidup dan mati.

Coba di-koprek. Sebuah akun facebook memajang  nama: Football is My Religion and St Andrews is My Church.  Sorry, domba-domba Yesus jangan girang dulu, Santo  Andrews itu bukan nama gereja, tapi stadion milik Klub  Birmigham FC, Inggris.  Ya, Brasil boleh saja mengklaim sebagai negara  ”penganut agama sepakbola”. Tapi ia masih kalah ”soleh”  dibanding Inggris –negeri kelahiran sepakbola. Sebagaimana dilansir situs Bolapedia,

Produsen Bir  Heineken merilis penelitian bahwa mayoritas (responden)  orang Inggris meluangkan lebih banyak waktu untuk  menyaksikan pertandingan sepakbola, membaca ulasan  media, dan berdiskusi membahas hal-hal yang menyangkut  sepakbola dalam obrolan keseharian. Mereka  menghabiskan dua jam plus 22 menit setiap minggunya  untuk nonton bola di televisi. Orang Inggris juga sedikitnya menghabiskan 28 menit  per pekan untuk mendiskusikan hasil pertandingan, gosip  transfer, gol, dan aksi lainnya di lapangan. Total, penduduk  Inggris menghabiskan 11 jam dan 12 menit setiap  minggunya untuk sepakbola.

Negara penggila bola berikutnya adalah Thailand,  baru kemudian Brasil yang disebut-sebut menganut  sepakbola sebagai “agama kedua”.  Jika bola adalah agama, maka pelatih dan pemain top  sepakbola pun ditahbiskan jadi ”nabi”. Lionel Messi  (Barcelona, Spanyol) disebut El Messiah (Juru Selamat);  Gabriel Batistuta (Fiorentina, Italia), diusulkan mendapat  gelar ”Santo” (The Holy Man). Batistuta   juga dipatungkan  dari logam dan dipajang di alun-alun Kota Firenze.

Bila di  mata uang kertas dolar  Amerika tertera kalimat ”In God We  Trust”, maka dalam laga Birmingham City vs Arsenal,  sebagian supoter  mengusung spanduk berbunyi: “In Arsene  We Trust”. Arsene Wenger adalah manajer Arsenal (Inggris). Yang ugal-ugalan tentu saja orang Argentina. Pada 30  Oktober 1998, di Kota Rosario, para fans ”Nabi” Maradona  mendirikan Gereja Maradona (Iglesia Maradoniana). Kapel  gereja dinamai ”Hand of God” merujuk pada gol tangan  Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986. Kitab  Suci mereka adalah Biografi Maradona. Mereka  mengamalkan kredo ”10 Perintah Tuhan” bikinan sendiri  yang berisi pepujian pada sepakbola dan Maradona.  Iglesia Maradoniana juga membuat kalender sendiri,  yang diawali tahun 1960 (tahun kelahiran Maradona).  Walhasil, tahun 2012 ini disebut Tahun 52  AD (After Diego). Konon, jamaah Iglesia Maradoniana  di seluruh dunia  kini mencapai lebih 15.000 orang.  

Eh, jangan-jangan ente termasuk salah satunya? Jangan ngeles dulu, tapi cobalah bermuhasabah.  Diantara ”10 Perintah Tuhan” agama sepakbola  Argentina adalah: Cinta sepakbola atas segala sesuatu, dan  menyatakan cinta tanpa syarat pada sepak bola.

Driser, kalau demi siaran langsung final Liga  Champions antum rela membuang kesempatan sholat  tahajud bahkan juga sholat Isya; Kalau demi PSSI antum  bersedia konfrontasi sampai titik darah penghabisan  dengan Muslim Malaysia; Kalau demi Persebaya antum jadi  Bonek dan siap mati ketika berjumpa Aremania… maka  antum sudah resmi dalam barisan Iglesia Maradoniana. Dan  kalo udah gitu, siap-siap aja dapat kavling di neraka. Iiih..![]