Majalahdrise.com – Ada begitu banyak kisah persahabatan di dunia ini, namun kisah persahabatan antara Rasulullaah dan Abu BakarAsh-Siddiq, tak pernah lekang oleh waktu. Persahabatan yang dibangun karena Allaah, satu dan yang lainnya saling mempercayai dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Diceritakan bahwa saat hijrah tiba, Rasulullah segera mendatangi Abu Bakar dan mengabarkan bahwa waktu hijrah telah tiba untuk mereka.

Aisyah RA yang saat itu berada di rumah Abu Bakar mengatakan “saat kami sedang berada di rumah Abu Bakar, ada seorang yang mengabarkan kepada Abu Bakar kedatangan Rasulullah dengan menggunakan cadar (penutup muka), beliau datang pada waktu yang tak biasa. Kemudian beliau saw meminta izin untuk masuk, dan Abu Bakar menjawab “mereka semua adalah keluargamu wahai Rasulullah”, Rasulullah kembali mengatakan “sesungguhnya Aku sudah di ijinkan untuk berhijrah “,

Abu Bakar menanggapi “Apakah Aku menemanimu (dalam hijrah) wahai Rasulullah?”, beliau menjawab “iya”. Lalu Rasulullah menunggu malam datang. Pada malam hari, Nabi SAW keluar dari rumahnya yang sudah terkepung oleh orang kafir quraisy. Lalu Allaah jadikan mereka tidak bisa melihat beliau. Abu bakar menangis bahagia karena di beri kesempatan menemani Rasulullah berhijrah. Aisyah menyatakan “Demi Allaah! Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menangis karena bahagia. Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”, perjalanan berat yang mempertaruhkan nyawa itu, Abu Bakar sambut dengan tangisan bahagia. Dalam perjalanan hijrah, Rasulullaah tiba di sebuah gua yang dikenal dengan nama gua Tsur.

Sampai di mulut gua Abu Bakar berkata “Demi Allaah janganlah Anda masuk ke dalam gua ini sampai Aku memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek) maka Akulah yang mendapatkannya, bukan Anda”, Abu Bakar pun masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Setelah itu Abu Bakar menutup lubang-lubang di gua dengan kainnya, karena khawatir ada hewan yang membahayakan Rasulullah keluar dari lubang-lubang tersebut. Hingga tersisa dua lubang yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya.

Setelah itu Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun masuk dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ia pun menahan dirinya agar tidak bergerak karena tidak ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu bakar adalah manusia biasa, rasa sakit akibat sengatan seekor hewan membuat airmatanya terjatuh dan menetes di wajah Rasulullah, Rasulullahpun terbangun kemudian bertanya “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?”, Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”.

Kemudian Rasulullah mengobatinya. Demikianlah dua orang sahabat ini. Rasulullah ingin bersama Abu Bakar ketika hijrah dan Abu Bakar pun sangat ingin menemani Rasulullah. Demikian besarnya cinta Abu Bakar kepada sahabatnya, hingga Rasulullaah menempatkan Abu Bakar sebagai sahabat yang sangat dicintainya, “Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku, pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja.” (HR. Bukhari).

 ***

Dalam Islam, persahabatan adalah hubungan yang sangat mulia, karena sahabat berperan dalam membentuk karakter kita. Katanya nih, kalau kita sahabatan ama penjual parfum,kita bakal ketiban wanginya juga. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Nah, jadi gak salah dong kalau kita juga kudu milih-milih siapa yang bakal kita jadiin sahabat. Selain berakhlak baik, kita berharap bahwa seorang sahabat bisa hadir dalam suka maupun duka. Emang sih, Ada sahabat yang sanggup bersusah-payah membersamai kita dikala duka, namun gak sedikit juga sahabat yang hanya nampak saat kita senang aja.

Driser, tentu kita berharap memiliki sahabat yang bisa membuat kita semakin cinta kepada Allaah. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (HR. al-Hakim). Yang kayak gini nih yang dicontohkan oleh Rasulullaah SAW dan sahabat beliau Abu Bakar As-Siddiq. Sahabat yang baik adalah ia yang senantiasa memberi kita nasehat, utamanya dalam perkara agama. Inget lho, agama adalah Nasehat. Maka nasehat itu adalah perkara yang urgen, bukan perbuatan orang yang kurang kerjaan. Jika di nasehati, terimalah. Jangan memusuhi sahabat yang mengingatkanmu dalam perkara agama bahkan menyebutnya sok alim.

Catet nih ya, “Kalimat yang paling Allaah benci (adalah ketika) seseorang menasehati temannya, “bertaqwalah kepada Allaah..”, namun dia menjawab “urus saja dirimu sendiri”, (HR. Baihaqi). Nah lho… nasehat tanda cinta lho!. Pokoknya nih, Kalau udah membangun persahabatan karena Allaah, in syaa Allaah barokah deh![Juanmartin]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 54