Salah satu mukjizat Al-quran adalah pemberitaan yang terdapat di dalamnya, baik masa lalu atau masa yang akan datang, terbukti kebenaranya. Salah satunya adalah pemberitaan tentang Raja Firaun sebagaimana yang di sebutkan dalam al-quran: Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikutpengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (QS. Al-Baqarah [2]: 50).

Informasi ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai kereta kuda dan tulang-belulang manusia di Laut Merah yang diduga merupakan pasukan dan pengawal Firaun. Kisah Nabi Musa membelah Laut Merah tersebut diperkirakan terjadi sekitar 3.500 tahun silam. Hebatnya, ternyata Mumi Firaun baru ditemukan pada tahun 1898 M, belasan abad setelah Al-Qur’an. Kemudian, pada tanggal 8 Juli 1907, Elliot Smith, seorang purbakalawan yang mengarang buku The Royal Mummies (1912), membuka perban-perban mummi dan ternyata kondisinya dalam keadaan baik dan utuh walaupun ada kerusakan di beberapa bagian.

Kemudian mummi tersebut dipamerkan di musium Cairo dengan kepala dan leher terbuka tanpa perban supaya setiap pengunjung dapat melihat dengan nyata, sedang badannya ditutup kain sedemikian rupa supaya dapat terlindungi dari kerusakan karena kelembaban udara dan bakteri. Pada pertengahan tahun 1975 perancis menawarkan diri pada pemerintah Mesir untuk meneliti mumi firaun. Setelah di setujui, mumi Firaun di bawa ke Perancis untuk diteliti lebih lanjut dibawah pimpinan Prof Dr Maurice Bucaille. Seorang ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920.

 

Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Setelah melakukan pembedahan, ternyata hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Setelah ditemukan dari laut jasadnya segera dikeluarkan dan kemudian dibalsem untuk dijadikan mumi agar awet. Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor.

Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut? Karena penelitian ini ia di ganjar penghargaan Le prix Diane- Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis. Di tengah kepuasan atas prestasinya itu, ada seorang teman Bucaille mengatakan jangan ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil. Bagaimana tidak , pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Di tengah kebingungan ini, Bucaille bertanya kepada ilmuwan muslim dan tentu saja langsung di tunjukan salah satu ayat al-quran ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus [10]: 92). Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar dan mengakui ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuanpenemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia. Driser, kisah mualafnya Prof. Dr. Maurice Bucaille sejatinya mencerahkan kita.

 

Bahwa keimanan yang sebenarnya, lahir dari sebuah peroses berfikir, bukan semata-mata karena ikut-ikutan atau warisan orang tua. Ini juga menjadi bukti kebenaran Al-quran sebagai wahyu Allah. Makanya, sudah pasti kalo hidup kita diatur oleh hukum-hukum Islam yang bersumber dari Al-qur’an, Sunnah, Ijma Shahabat dan Qiyas, dijamin akan berkah dunia akhirat. Mau?![Ridwan]