Majalahdrise.com – Problem adalah hal yang senantiasa dijumpai makhluk hidup, apalagi manusia. Setiap hari ada saja bentuknya, durasinya, bahkan menyelesaikannya juga beragam cara. Ada yang ketika berhadapan dengan problem baik kecil atau besar langsung menitikkan airmata (ini biasanya cewe-cewe) bahkan terkadang karena melihat problem yang notabene nya itu ecek-ecek alias sandiwara sinetron pun, sempat-sempatnya mewek sampai habiskan tissue tetangga hehe.. #OhNo

Itu baru satu sikap yang lahir akibat masalah atau problema, karena sebenarnya ada segudang ekspresi yang dilahirkan saat menghadapi problem. Namun umumnya, sebelum problem itu terselesaikan dengan solusi yang jitu, terkadang ada hal ini nih yang selalu dilalui dan menjadi pilihan yang kita lakukan. Hal itu adalah berkeluh kesah. Iya kan? Tuh pada senyum-senyum karena ketahuan sering ngeluh hehe.. saya juga ikutan senyum-senyum juga nih, karena sebab yang sama.

Pernah ga sih terpikirkan oleh kita atau kita renungkan, kenapa ya kita sukanya ngeluh? Rasanya walaupun masalah belum kelar, tapi ngeluhnya sudah terlaksanakan ibarat berhasil nyusun puzzle yang berantakan, lega gitu. Ngeluh seakan jadi menu utama nya kita. Duh gawat tuh. Jika kita telusuri lagi, ternyata ngeluh itu ada karena manusiawinya kita sebagai manusia, alias manusia itu punya naluri. Naluri itu adalah bagian dari potensinya diri manusia yang dikaruniakan Dzat yang Maha Pencipta. Nah dari naluri ini kita kenal ada tiga jenisnya : 1. Naluri mensucikan sesuatu (tadayyun), 2. Naluri mempertahankan diri(baqa’) dan terakhir Naluri berkasih sayang (nau’)

Usut punya usut ternyata keluh atau mengeluh itu terkategori dalam naluri baqa’ kita untuk menjaga eksistensi diri, gengsi gitu. Jadi dalam hal ini, problem itu diibaratkan seperti musuh yang menyerang lawannya. Nah, lawan yang diserang oleh musuh ini otomatis merasa takut (jika ia bersalah terhadap musuhnya) atau merasa kesal atau jengkel (jika ia diserang tanpa sebab oleh musuhnya tersebut) otomatis juga si lawan berpikir dengan akalnya untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, bisa jadi dengan tindakan serang balik atau malah melipir pergi dan muntaber alias mundur tanpa berita hehe agar aman dari kejaran musuh tadi. Nah, gitu pula halnya dengan diri kita yang suka ngeluh, berkeluh kesah semata-mata untuk melampiaskan naluri mempertahankan diri.

Cerita keluh mengeluh ini bukan hanya beredar di kalangan manusia, ternyata dalam Al-qur’an Allah SWT juga mengabarkan tentang ini yaitu di surah Al-Ma’arij ayat 19-21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

Jleeb banget ketika baca ayat tersebut. Astahgfirullah baru nyadar bahwa selama ini tiada hari tanpa mengeluh, persis seperti apa yang Allah katakan dalam Al-qur’an. Hmm.. tapi ayat diatas bukan juga dijadikan justifikasi atas keluh kesah yang kita tuturkan tiap harinya yaa, ternyata sekalipun Allah kabarkan didalam kitab suci bahwa Allah ngasi naluri baqa sama kita yang berpotensi untuk berkeluh kesah dan kikir, tapi disinilah Maha Mudabbir nya Allah, yap apalagi kalau bukan Allah Sang Pengatur hidup dan kehidupan kita, atas segala yang telah diciptakannya, tak terlepas rasa keluh kesah ini D’Riser.. karena itu pula lah Allah takkan membiarkan kita terlunta-lunta dengan apa yang kita alami dan rasakan. Sehingga dalam penciptaan kita, Allah barengi dengan manual instruction yang sudah tentu sesuai dengan ciptaannya. Karena kita sama-sama mengetahui bahwa Allah Maha Tahu, begitu juga Allah tau atas keluh kesah ini. Bahkan lebih dari itu, Allah juga nyediakan langsung jurus ampuh agar kita terbebas atau meminimalisir rasa keluh kesah ini.

Yups, ga perlu jauh-jauh nyari jurus jitunya D’Riser, kamu cukup buka mukjizatNya Rasulullah saw (Al-qur’an,red) dan cari di Juz 29 surah ke 70, ayat ke 22-34, nah ada yang udah nemuin ? yups, exactly masih di surah yang sama dengan ayat yang kita bahas sebelumnya. Kita masih di surah Al-ma’arij. Begini redaksi ayatnya : kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang(miskin) yang meminta dan yang tidak meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab tuhannya, sesungguhnya terhadap adzab tuhan mereka,tidak ada seseorang merasa aman (dari kedatangannya) dan seterusnya J. Check al-qur’annya masing-masing yah hehe..

Dan pada akhirnya, bagi hambaNya yang sukses dan complete ngejalani manual instruction yang ada di beberapa ayat diatas tadi dengan sebaik mungkin maka akan ada yang akan di petik dan didapatkan, ga nanggung-nanggung loh, yaitu apa yg dijelaskan di ayat berikutnya (ayat 35), begini bunyinya : “mereka itu kekal disurga yang dimuliakan”. Nah, siapa yang mau masuk surga? Saya !!! 😀 maka apalagi yang ditunggu dan dinanti. Yuk manage diri agar jadi pribadi yang enggan berkeluh kesah tapi sebaliknya senantiasa bersyukur atas nikmatnya dan menjadikan problema sebagai instrumen yang mampu menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sebagaimana Allah juga ingatkan kita di Surah Ibrahim:7 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah(nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari(nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” Duh bergidik merinding dengan azabnya Allah, ngeri kan D’Riser?

So, ayo bergerak, bertindak, dan berfikir menjadi hamba yang senantiasa dalam RidhaNya. Bagaimana caranya? Pastinya tak semudah membalikkan telapak tangan namun tetap ingat ya D’Riser setelah kesulitan ada kemudahan, So kamu pasti bisa !! caranya dengan banyak belajar dan menggali ilmu islam sampai kamu ngeh, ngerti, paham, teraplikasi dan sharing itu semua ke seluruh penjuru mata angin hehe, makanya #YukMoveOn dan #YukNgaji[]

Oleh : Islamideena

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #44