KARPET PALING JETSET | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> KARPET PALING JETSET
KARPET PALING JETSET

KARPET PALING JETSET




Majalahdrise.com – Pernah dengan kisah Aladin dan Karpet Terbang? Ini kejadiannya di Timur Tengah. Makanya yang dipake karpet. Kalo ceritanya di Indonesia, mungkin diganti tiker atau spanduk terbang. Hehehe… Dari dulu, karpet sudah menjadi ikon Timur Tengah. Karpet memang eksotik dan artistik! Walaupun bukan berasal dari Islam, tapi peradaban berperan besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan penggunaan karpet, sehingga furniture yang satu ini menjadi salah satu karya seni yang berharga dan simbol kemapanan.

Berdasarkan temuan dan catatan sejarah, penggunaan karpet merupakan tradisi yang cukup tua. Karpet tenun tertua yang ditemukan adalah karpet Pazyryk yang ditemukan di Pegunungan Altai (selatan Siberia) yang diperkirakan berasal dari abad ke 6 SM. Sementara itu sejarawan Herodotus dalam catatannya di abad 5 SM menyatakan bahwa penduduk daerah Kaukasus menenun karpet-karpet indah yang warnanya tak pernah pudar.

Di Persia, Anatolia, dan juga jazirah Arab, karpet memiliki posisi yang penting dalam kehidupan, terutama bagi suku-suku badwi yang hidup nomaden. Selain digunakan untuk menutupi lantai, karpet digunakan sebagai salah satu material untuk tenda, juga tirai, pelana, dan selimut. Dengan datangnya Islam, nilai karpet (permadani) semakin bertambah karena disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kekayaan yang diberikan kepada para penghuni surga. Dari dunia Islam, karpet paling tua yang masih bertahan adalah potongan karpet dari tahun 821 M yang ditemukan di Fustat (Mesir).

Industri karpet di Fustat ini diperkirakan berawal di permulaan abad ke 8 M, dan berdasarkan teknik anyaman dan dekorasinya, karpet Fustat ini dianggap sebagai prototipe dari karpet Andalusia yang berkembang belakangan di Spanyol. Pada masa kesultanan Seljuk, karpet dari dunia Islam mencapai level paling tinggi dari segi desain maupun teknik pembuatannya. Karpet buatan mereka tersebar di wilayah Persia dan Baghdad pada abad 11 M. Sejarawan seni Islam seperti Ettinghausen, beranggapan bahwa bangsa Saljuklah yang menciptakan karpet “islami”.

Yup, karpet-karpet muslim memang mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu motifmotifnya yang didominasi oleh pola-pola geometris, floral (tumbuhan), dan kaligrafi. Hal ini karena jumhur ulama Islam melarang gambar makhluk bernyawa, terutama pada karpet yang digunakan untuk shalat. Sementara itu di Eropa, sebelum mengimpor karpet, sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa lantai-lantai di Eropa ditutupi dengan sejenis rerumputan yang disebar di atas lantai dan diganti secara berkala. Praktek ini masih berlangsung hingga abad 15 M. Terkait praktek ini Erasmus (1466- 1536) mengungkapkan;

“Rerumputan dalam ruangan kadang diganti, tapi cuma sebagian, sementara lapisan bagian bawahnya tak disentuh sama sekali, bahkan terkadang sampai 20 tahun tak diganti. Padahal rerumputan itu mengandung ludah, muntahan, air kencing anjing dan orang, tumpahan bir, potongan ikan, dan segala macam najis yang tak layak disebut. Ketika cuaca berubah, maka uap dari segala macam kotoran itu akan terhirup, yang menurut saya sangat merugikan kesehatan”.

Di kemudian hari rerumputan itu kemudian dianyam menjadi tikar, dan segera menggantikan fungsi lapisan rumput sebagai penutup lantai. Sejarah datangnya karpet ke negeri Eropa adalah kontak dengan negeri-negeri Islam di masa Perang Salib. Bangsa Eropa sangat kagum dengan karpet-karpet muslim sehingga dikategorikan sebagai barang mewah. John Sweetman, penulis buku “The Oriental Obsession: Islamic Inspiration in British and American Art and Architecture 1500-1920” mengungkapkan bahwa maskawin yang diberikan Raja Edward I dari Inggris pada Ratu Eleanor pada tahun 1255 diantaranya adalah karpet-karpet Andalusia. Di Perancis karpet muslim sudah populer pada zaman Louis IX (1215-70) yang dikenal dengan nama “tapis Sarrasinois”, bahkan di tahun 1277 ada hak khusus untuk perdagangan tapis-tapis ini.

Bukti dari apresiasi bangsa Eropa terhadap karpet muslim tergambar dalam lukisan-lukisan para seniman Eropa di masa renaissance yang sering menampilkan karpet bermotif kotak-kotak khas karpet Utsmani. Misalnya pelukis Hans Holbein Jr., saking seringnya Holbein menyertakan karpet Utsmani dalam lukisannya, sampai-sampai karpet-karpet itu dikenal dengan “karpet Holbein”. Karpet-karpet itu bisa dilihat misalnya dalam lukisan French Ambassadors karya Holbein, dan The Madonna with Canon van der Paele karya Jan van Eyck.

Menurut Ettinghausen, tak diragukan lagi bahwa karpet melahirkan kekaguman yang sangat pada masyarakat kelas atas di Eropa. Penghargaan mereka bisa diukur dengan fakta penggunaan karpet dalam upacara pemahkotaan raja dan acara-acara penting lainnya. Selain dari karpetnya itu sendiri, posisi negeri-negeri Islam sebagai pusat peradaban juga berkontribusi terhadap penyebaran tren karpet di Eropa. Ya pantas, pada masa itu negeri Islam adalah negeri maju, sementara Eropa adalah negeri-negeri yang baru berkembang. Jadi, sistem Islam atau Khilafah itu tidak akan mengembalikan kita ke zaman onta, justru akan membuat kita maju, sebagaimana bangsa Arab yang dulunya tak beradab menjadi bangkit sebagai mercusuar peradaban. [Ishaak, diolah dari muslimheritage.com]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 53




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fifteen − 11 =