Majalahdrise.com – Koloni cumulu nimbus yang mendekor sebagian besar langit sore ini berhasil menyembunyikan matahari di balik punggungnya. Sedikit lebih teduh. Baru saja kusandarkan punggungku pada tiang-tiang penyangga di teras masjid ketika dia datang. Tangannya melambai-lambai kearahku. Kentara sekali dari raut wajahnya jika dia sedang gembira saat ini.

“Aiissy, aku dapet jam tangan kucing dari kakakku. Lihat! Lucu kan?” Ah, benar saja. Diamenghambur ke arahku kemudian memperlihatkan pergelangan tangan kirinya. Jam tangan berwarna gold dengan kepala kucing melingkar manis di sana.

“Lucu,” jawabku pendek setelah melihatnya sekilas.

“Ih, kok cuma gitu doang?”

“Ya, emang lucu. Terus apalagi?” Aku mengendikkan bahu. Menurutku jam itu tak perlu kukomentari lebih jauh. Atau aku iri karena tak memilikinya? Entahlah.

“Eh, ini tas baru kamu, ya?” Perhatiannya beralih. Kini tangannya meraba-raba tas selempang baruku.

“Iya, ini Mamah yang membuatkannya untukku. Ada sisa kain jeans, jadi dia buatkan tas ini.”

“Waaaah, Mamah kamu kreatif banget, ya? Pasti kamu seneng banget bisa pake tas bikinan Mamah kamu sendiri?”

Aku ber’hmmm’ pendek untuk menjawab pertanyaannya.

“Eh, aku belum shalat ashar. Aku shalat dulu ya. Nanti baru kita ke toko buku.”

Aku mengangguk kemudian dengan cepat tubuhnya menghilang dibalik pintu tempat wudlu.

Apakah perlu kuperkenalkan dirinya? Ah. Sebenarnya aku tak ingin. Tapi biarlah, agar kalian lebih memahami cerita apa yang kubawakan dengannya. Dia adalah Ratna. Sahabat dekatku. Begitu dia dan orang-orang bilang. Ya, karena aku tak pernah mengatakan itu. Kami menjadi dekat setelah ditempatkan pada bidang yang sama di ekstrakulikuler yang kami ikuti, rohis. Dia sosok yang periang. Setiap harinya ada saja alasannya untuk merasa bahagia. Awalnya aku biasa saja, tapi lama kelamaan aku mulai merasa risih, muak, entah karena apa. Atau mungkin karena dia memiliki sesuatu yang tak kumiliki? Wajah cantik? Seorang kakak yang baik? Keluarga yang berkecukupan?

Terkadang aku merasa bersalah karena telah membencinya dengan alasan yang tak jelas. Dia tak pernah melakukan kesalahan padaku, jangankan untuk menyakitiku, berkata ‘tidak’ padaku saja sepertinya dia enggan.Dia gadis yang baik. Bahkan sangat baik.

“Dor! Malah ngelamun.”

Ya Allah, untung aku tak punya penyakit jantung. Kedatangannya yang tiba-tiba sukses mengagetkanku.

“Siapa yang ngelamun?” aku berkilah. Kutekukkan wajahku sebagai tanda tak suka atas kelakuannya barusan.

“Itu tadi. Ngelamunin A Rizal ya?”

“Sssstttt.” Refleks kutempelkan telunjuk di depan bibirku. Ah, kenapa dia mengungkit-ngungkit masalah itu di tempat ramai seperti ini? Bagaimana kalau ada orang lain yang tahu jika aku menyukai A Rizal.

“Iya, iya, iya, maaf.” Dia menggerak-gerakkan tangan di depan mulutnya seperti orang yang memutar kunci.

“Awas ya, kalau sampai ada orang lain yang tahu!” Kuacungkan telunjukku di depan hidungnya.

Dia hanya mengangguk sambil menahan tawanya.

Ah, menyebalkan!

 

***

Di depanku berjejer rapi novel-novel Tere Liye. Ingin sekali aku membeli semuanya atau paling tidak salah satunya. Selama ini aku harus cukup puas dengan meminjam novel-novel Tere Liye pada Tika, teman sebangkuku. Sudah kubulatkan tekad jika uang tabunganku satu bulan ini akan kugunakan untuk membeli Bidadari-bidadari Surga. Tapi begitu aku akan membawanya, rengekan si bungsu tiba-tiba saja berkelebat dalam benakku.

“Teteh, Lala pengen buku cerita nabi-nabi kayak Reza,” rengeknya seminggu yang lalu padaku.

Kusimpan kembali Bidadari-bidadari Surga ke tempatnya semula kemudian menyusuri rak buku anak-anak.

 

“Aisy, jadi beli novel Tere Liyenya?”

Aku hanya memperlihatkan buku yang kupegang untuk menjawab pertanyaan Ratna.

“Loh, kok malah beli buku Kisah 25 Nabi?”

“Minggu lalu Lala nangis pengen buku kisah nabi-nabi,” jawabku datar nyaris tanpa ekspresi.

“Oh,” mulutnya membulat dan tak berkomentar lagi.

Sekilas, kuperhatikan buku yang ada di genggamannya. “Jadi beli dua buku grammarnya?”

“Iya. Kemarin aku dapet kiriman uang dari A Mawan. Katanya buat nambah beli buku. Ini buku kiat-kiat untuk mengikuti tes tofel.”

Wajahnya sumringah memamerkan buku-buku barunya. Ratna sangat menyukai bahasa inggris, karena itu dia sangat senang mengoleksi buku-buku grammar. Ah, dia sangat beruntung punya kakak yang baik.

 

***

Pagi ini kelas masih lengang saat aku tiba. Belum ada anak lain yang membuka daun pintu sembarangan lantas melempar begitu saja tasnya. Baru aku sendiri yang datang. Kubuka PR matematika yang belum kutuntaskan karena semalam adik bungsuku tak henti memintaku untuk membacakan buku barunya. Hhh, kuhembuskan napas perlahan. Turunan dan integral kini bermain-main dalam otakku.

Tak berapa lama kulihat Tika memasuki kelas. Seperti ada suatu hal yang penting, setengah berlari dia mendapatiku di bangku.

“Aiiiissssssyy! Tahu nggak, ternyata A Rizal itu suka sama Ratna loh?” kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut Tika.

Glek! Bagai menelan biji salak aku mendengar perkataannya. Tanganku bergetar. Keringat dingin langsung mengucur deras dari pori-pori kulitku. Kualihkan perhatianku pada Tika meskipun aku berharap ini hanya mimpi belaka.

“Ini kata A Rully tetanggaku. Dia kan temen sekelasnya A Rizal. Nah dia bilang katanya A Rizal itu suka sama Ratna. Cuma A rizalnya nggak mau bilang ke Ratna. Katanya dia nggak mau pacaran. Pacaran itu haram. Jadi dia nunggu waktu yang tepat sampai dia siap untuk melamar Ratna.”

“Melamar?”Setengah tak percaya aku mendengar kabar ini. Allah bangunkan aku. Bangunkan aku.

“Iya. Hebatya A Rizal? Dia bener-bener tipe cowok yang menghargai wanita. Ratna juga beruntung. Wajar aja sih A Rizal suka sama ratna. Ratna itu kan cantik, baik lagi. Iya kan?”

Ah, ingin sekali kucabut mulut Tika dari wajahnya. Kuremas-remas lalu kuinjak-injak dan terakhir kulempar ke tempat sampah agar dia berhenti bersuara. Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil. Aku yang suka sama A Rizal. Bukan Ratna.

 

***

Aku masih berdiam diri di mushola. Mataku masih sembab setelah sepanjang jam istirahat tadi menangis sejadi-jadinya. Kenapa harus selalu Ratna? Kenapa setiap apa yang aku inginkan selalu dia yang memilikinya?

Biipp, biippp

Handphoneku bergetar. Kutekan tombol ok untuk membaca pesan yang masuk ke ponselku.

Sahabat Aisyah, setiap orang punya rizkinya masing-masing. Allah yang Mahaadil sudah mengaturnya sedemikian rupa, jadi tak pantas jika kita sering mengeluh dan dengki terhadap apa yang orang lain miliki.

Ternyata SMS tauhid gratis dari Aa Gym yang aku terima. Kenapa isi SMSnya sangat pas dengan keadaanku sekarang? Tapi walaupun begitu tetap saja aku belum bisa menerima kenyataan ini. Aku belum menemukan letak keadilan itu, Rabb.

Biip, biip.

Handphoneku bergetar lagi. Kembali kutekan tombol ok untuk membaca pesan yang masuk.

Aisy, kamu dimana? Tadi pas istirahat aku cari-cari kamu. Mamah masuk rumah sakit lagi 🙁 minta doannya ya. Aku pulang duluan.

Itu SMS dari Ratna. Sebenarnya aku tertawa dalam hati. Hihi, rasakan. Itu balasan untukmu.

Sabar ya, Na. Aku selalu berdoa agar Mamahmu cepat sembuh.

Lekas-lekas kujawab dengan setengah hati. Aku masih cemburu padanya.

Terima kasih ya Aisy. Kamu memang sahabat yang baik. Tahu nggak? Kita itu seperti kaset tape. Kita memang dua sisi yang berbeda, tapi karena itulah kita bisa merangkum bermacam-macam lagu menjadi sebuah album yang indah ^^

Kaset tape? Alisku beradu.

 

***

“Assalamu’alaikum.” Kulempar tasku begitu saja lantas kujatuhkan tubuhku ke kursi.

“Wa’alaikumsalam.” Mamah menjawab salamku dengan tak lepas dari mesin jahitnya. Sudah hampir setahun Mamah menerima jahitan dari tetangga untuk membantu perekonomian keluarga. Jika melihat punggungnya yang bergerak-gerak ketika menjalankan mesin jahit,ingin sekali aku memeluknya dan menangis di sana.Akan sangat menenangkan mendengar denyut jantungnya dan merekam hembusan napasnya yang mewujud kasih sayang.

“Mamah dapet kain sisa lagi. Alhamdulillah, kata Bu Warni kain sisa ini buat Mamah saja. Mau dibikin apa Teh? Baju tidur aja ya? dipadukan sama kain sisa yang waktu itu.”

Kutatap kain bermotif bunga-bunga yang diperlihatkan Mamah. Norak. Terlihat seperti ibu-ibu jika aku memakainya nanti.

“Maaf ya Teh. Mamah nggak bisa beliin Teteh baju bagus. Mamah cuma bisa jaitin baju buat Teteh dari kain-kain sisa.”

Seolah mengerti reaksi tak sukaku, Mamah tiba-tiba saja berkata seperti itu. Kutatap mata Mamah yang mulai berair. Namun cepat-cepat dia sembunyikan dan kembali sibuk dengan mesin jahitnya. Sekuat tenaga kutahan butiran bening yang berjejalan di kelopak mataku. Tiba-tiba saja aku teringat SMS Aa Gym, Ratna, dan Mamahnya yang tengah dirawat.

***

Angin berhembus mendinginkan setiap kepala yang membara sepanjang hari ini. Koloni cumulu nimbuz yang mendekor sebagian besar langit sore ini berhasil menyembunyikan matahari di balik punggungnya. Kulihat dia bersandar pada salah satu tiang penyangga di teras masjid. Kulambaikan tangan padanya. Dia tersenyum dan setelah mendapatinya, kuceritakan padanya jika aku baru saja mendapat hadiah jam tangan kucing dari kakakku. Tapi ternyata dia punya sesuatu yang jauh lebih istimewa,tas selempang yang dibuat Mamahnya sendiri. Pasti senang sekali memakainya.

Andai dia tahu

Betapa menyenangkannya menjadi dirinya

By: Aisyah Al Farisi

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47