Luar biasa! Ternyata inspirasi teknologi super canggih touchscreen  yang kini sering mangkal dalam smartphone dan sejenisnya,  Rberasal dari Indonesia. Ceritanya berawal dari sebuah warteg  alias rumah makan pinggiran. Ketika salah satu konsumen ditanya mau  makan apa, dengan spontan dia menempelkan telunjuknya pada etalase  kaca warteg. Hal itu dia lakukan beberapa kali untuk menunjuk jenis  makanan favoritnya. Setelah selesai, tak lama sepiring nasi lengkap  dengan sayur dan lauk pauk terhidang di depan hidungnya.

Yup, itulah  keajaiban dari sebuah sentuhan! Driser, keajaiban sebuah sentuhan sebenarnya emang paling pas  kita tujukan pada teknologi touchscreen. Pada tahun 1971, pertama kali  “Touch Sensor” ini dikembangkan oleh Doktor Sam Hurst (pendiri  Elographics) sekaligus sebagai seorang instruktur di University of  Kentucky. Sensor ini disebut “Elograph,” dan telah dipatenkan oleh  University of Kentucky Research Foundation. “Elograph” ini tidak  transparan seperti touchscreens modern namun telah menjadi tonggak  sejarah yang signifikan dalam teknologi touchscreen.  

Pada tahun 1974 touchscreen pertama yang telah dilengkapi  dengan permukaan transparan dikembangkan oleh Doktor Sam Hurst  dan Elographics. Pada tahun 1977 Elographics dikembangkan dan  dipatenkan dengan teknologi lima-kawat resistif, yaitu teknologi  touchscreen yang paling populer digunakan saat ini. Tak heran jika teknologi touchscreens akhirnya menjadi hal yang  biasa dalam kehidupan sehari-hari. Perusahaan menggunakan layar  sentuh untuk sistem kios dalam pengaturan penjualan ritel dan  pariwisata, pusat penjualan, ATM, dan PDA, di mana stylus (pensil  elektronik) kadang-kadang digunakan untuk memanipulasi GUI dan  untuk memasukkan data. Popularitas smartphone, PDA, game konsol  portabel dan berbagai jenis peralatan informasi telah mendorong  permintaan dan penerimaan touchscreens.

Jenis-jenis touchscreens.

  1. Resistive Screen Sistem resistif layarnya dilapisi oleh lapisan tipis berwarna metalik yang bersifat konduktif dan resistif terhadap sinyal-sinyal listrik. Maksud dari lapisan yang bersifat konduktif adalah lapisan yang bersifat mudah  menghantarkan sinyal listrik, sedangkan lapisan resistif adalah lapisan  yang menahan arus listrik.

Kedua lapisan ini dipisahkan oleh sebuah  bintik-bintik transparan pemisah dalam keadaan normal yang jika  disentuh akan menghasilkan gangguan listrik untuk menggerakkan  sebuah aplikasi.  Layar dengan teknologi ini  memiliki tingkat kejernihan gambar  sebesar 75% saja, sehingga monitor  akan tampak kurang jernih. Touch  sensor jenis ini sangat rentan dan  lemah terhadap sentuhan benda-benda yang agak tajam. Teknologi ini tidak akan  terpengaruh oleh elemen-elemen  lain di luar seperti misalnya debu  atau air, namun akan merespon  semua sentuhan yang  mengenainya, baik itu  menggunakan jari tangan langsung  maupun menggunakan benda lain  seperti stylus. Sangat cocok  digunakan untuk keperluan di  dalam dunia industri seperti di  pabrik, laboratorium, dan banyak  lagi.

  1. Capacitive Screen Sistem kapasitif memiliki sebuah lapisan pembungkus yang merupakan kunci dari cara  kerjanya, yaitu pembungkus yang  bersifat capasitive pada seluruh  permukaannya. Panel touchscreen  Jenis  -Jenis  Touchscreen ini dilengkapi dengan sebuah lapisan  pembungkus berbahan indium tinoxide  yang dapat meneruskan arus listrik secara  kontinyu untuk kemudian ditujukan ke  sensornya. Capasitive touchscreen baru dapat  bekerja jika sentuhan-sentuhan yang ditujukan kepadanya  berasal dari benda yang bersifat konduktif seperti misalnya jari.  

Tampilan layarnya memiliki kejernihan hingga sekitar 90%,  sehingga cocok untuk digunakan dalam berbagai keperluan  interaksi dalam publik umum seperti misalnya di restoran, kios  elektronik, lokasi Point Of Sales, dsb. Contoh HP yg menggunakan layar kapasitif adalah Samsung  Corby Touchscreen, iPhone.

  1. Surface Acoustic Wave System Teknologi touchscreen ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi kejadian di permukaan layarnya. Di dalam monitor touchscreen ini terdapat dua tranduser, pengirim  dan penerima sinyal ultrasonik. Selain itu dilengkapi juga dengan  sebuah reflektor yang berfungsi sebagai pencegah agar  gelombang ultrasonic tetap berada pada area layar monitor. Teknologi ini tidak menggunakan bahan pelapis metalik  melainkan sebuah lapisan kaca, maka tampilan dari layar  touchscreen jenis ini mampu meneruskan cahaya hingga 90  persen, sehingga lebih jernih dan terang dibandingkan dengan  Resistive touchscreen.

Tanpa adanya lapisan sensor juga membuat touchscreen  jenis ini menjadi lebih kuat dan tahan lama  karena tidak akan ada lapisan yang dapat  rusak ketika di sentuh, ketika terkena air,  minyak, debu, dan banyak lagi.  Kelemahannya kinerja dari touchscreen ini  dapat diganggu oleh elemen-elemen seperti  debu, air, dan benda-benda padat lainnya.  Sedikit saja terdapat debu atau benda lain  yang menempel di atasnya maka touchsreen  dapat mendeteksinya sebagai suatu  sentuhan. Touchscreen jenis ini cocok digunakan  pada ruangan training komputer, keperluan  dalam ruangan untuk menampilkan  informasi dengan sangat jernih dan tajam  dan saat presentasi dalam ruangan.

Driser, semoga informasi di atas bisa  bantu kamu pas lagi giliran dapet rizki lebih  tuk beli smartphone dengan teknologi  touchscreen. Pilih yang resistive atau  capasitive, masing-masing ada plus  minusnya. Dan pastinya, perawatannya juga  beda. Apapun pilihan kamu, yang penting  jangan sampe deh nih barang cuman nguras  dompet kamu. Tapi kasih nilai tambah  sebagai ladang pahala  dan ladang rizky. Be  productive with touchscreen  technology![341]