Sejak awal tahun 2011 lalu, gelombang kebangkitan  umat Islam bergejolak di Timur Tengah. Kondisi ini  Sbisa kita cium dari kejatuhan beberapa kepala negara  yang memerintah dengan tangan besi. Di awali dari  tumbangnya Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, mundurnya  Mubarak di Mesir, hingga berakhirnya rezim represif  Gadzafi secara tragis di Libya.

 

Saat ini beberapa wilayah  masih terus bergolak seperti Yaman dan Suriah. Malah  negara-negara yang selama ini dikenal benar-benar ‘under  control’ penguasanya pun dipastikan akan turut bergoyang  seperti Yordania, Saudi Arabia, Bahraian, dan lain-lain.  Tinggal tunggu waktu aja.  Gencarnya opini penerapan syariah Islam yang  mengisi ruang pemberitaan media massa nasional maupun  internasional, bikin masyarakat melek tentang jalan  kebaikan yang ditawarkan Islam untuk mengatasi  kebobrokan aturan sekuler kapitalis yang selama ini  mengatur kehidupan mereka. Bukan cuman melek, umat  Islam juga bergerak menuntut perubahan. Ini yang terjadi  dalam rangkaian aksi di Tunisia, Suriah, Libanon, atau  Mesir.

 

Gimanapun juga, Umat adalah pemilik sejati  kekuasaan. Sekuat apapun dukungan asing terhadap  sebuah rezim, jika umat telah bergerak untuk mengambil  alih kekuasaan, rezim tersebut akan jatuh. Kena deh!

Status Perubahan Hakiki: Pending! Siapa yang nggak sumringah ngeliat tanda-tanda  kebangkitan Islam dan kaum Muslimin makin menguat di  Timur Tengah. Sayangnya arah kebangkitan belum berada  di jalur perubahan yang hakiki. Lantaran tuntutan  mayoritas umat Islam masih sebatas pada pergantian  rezim. Belum menyentuh persoalan dasarnya, yakni sistem  yang diterapkan. Kejadiannya persis saat aksi  penumbangan rezim order baru di negeri kita. Semua  masyarakat bersatu untuk menuntut lengsernya RI-1 yang  udah berkuasa selama 32 tahun.

 

Namun setelah lengser,  era pemerintah selanjutnya gak banyak ngasih kebaikan  buat masyarakat. Karena yang diganti cuman orang yang  duduk di pemerintah aja. Sementara sistem yang dipake  buat ngatur rakyatnya, masih stay tune dengan kapitalis  sekuler. Podo wae! Perubahan yang hakiki di negeri-negeri Islam  seharusnya mengandung 2 (dua) unsur utama agar  arahnya benar; Pertama, menjadikan Islam, baik aqidah  maupun syariahnya, sebagai panduan ideologis untuk  mendirikan negara Khilafah, yang akan menerapkan Islam  secara utuh di dalam negeri dan menyebarkan Islam  dengan jihad ke luar negeri. Kedua, menolak secara total  segala bentuk intervensi asing ke negeri-negeri Islam dan  tidak minta bantuan kepada asing. (Al-Waie [Arab], No  291, Rabiul Akhir 1432/ Maret 2011, hlm. 4).

 

Sementara yang tengah terjadi di Timur Tengah,  hanyalah ganti sosok penguasa aja, bukan perubahan  sistem menjadi negara Khilafah. Artinya, unsur pertama  tidak terpenuhi. Unsur kedua juga tidak terpenuhi karena  intervensi Barat, khususnya dari Amerika, Inggris, dan  Prancis telah berlangsung baik di Tunisia, Mesir, Libia  maupun; juga di negeri-negeri yang sedang bergolak kini,  yaitu di Yaman dan Suriah. Negara Barat segala  kecanggihan politiknya sukses membajak arah perubahan  Timur Tengah ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.  Berbagai cara digunakan Barat untuk membajak arah  perubahan ini. Yang terpenting ada 5 (lima) cara.

Pertama:  memanfaatkan politisi boneka.

Kedua: memberikan  bantuan ekonomi (utang).

Ketiga: melakukan intervensi  militer.

Keempat: mempropagandakan Islam moderat.

Kelima: mengendalikan media massa guna mempengaruhi  opini publik.

 

Nggak jelasnya arah perubahan yang  dikehendaki oleh umat Islam di Timur Tengah dengan jeli  dimanfaatkan oleh negara adi daya.  Media-media Barat mengopinikan bahwa rakyat di  Timur Tengah menuntut dilakukan demokratisasi dan  liberalisasi. Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam aksi itu  pun tokoh-tokoh sekular, liberal, dan pro Barat, seperti  Muhammad Elbaradei, Amr Mousa, dan sebagainya.  Padahal tuntutan demokratisasi dan liberalisasi itu  bohongan, setidaknya bukan menjadi arus utama.  Sebaliknya, masyair dan syiar Islam justru sangat  menonjol. Tuntutan penerapan syariah juga banyak  disuarakan di tengah kerumunan massa di Lapangan Tahrir  Kairo, Alexandria dan wilayah-wilayah Mesir lainnya.  Demikian pula yang terjadi di Yaman, Suriah, Libya, dan  lain-lain. Tapi semuanya ditutup-tutupi oleh musuh-musuh  Islam yang menguasai media massa. Untuk melakukan perubahan hakiki, setidaknya ada  tiga pemahaman yang harus dimiliki.

Pertama:  pemahaman mengenai buruknya realitas yang sedang  berlangsung.

Kedua: pemahaman tentang realitas yang  menjadi penggantinya, yakni sistem yang menjadi  alternatifnya.

Ketiga: metode yang tepat untuk melakukan  perubahan itu. Nah, dua hal terakhir ini yang belum dimiliki secara  sempurna. Akibatnya, perubahan hakiki tidak terjadi.  Bahkan seperti yang kita saksikan, tuntutan mereka bisa  dibajak dan dibelokkan oleh negara-negara penjajah.  Capek deh!

 

Secercah Harapan, Sebuah Keniscayaan Negara Barat yang urat malunya udah putus, boleh  aja ngaku-ngaku paling berjasa mendorong perubahan di  Timur Tengah. Amerika, Inggris, dan Prancis yang paranoid  dengan kebangkitan Islam silahkan aja membajak  perubahan di Timur Tengah. Namun demikian, ada hal  yang nggak bisa mereka klaim apalagi dibajak, yaitu  kesadaran umat akan kebobrokan sistem Kapitalis sekuler.

 

Realitas ini dapat melahirkan keberanian pada diri umat  untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar. Sebuah pesan yang jelas bergemuruh di jalanan kota  Sanaa setelah sholat Jumat (10/2), saat puluhan ribu  demonstran Yaman menyatakan bahwa revolusi mereka  akan terus berlanjut hingga orang-orang Yaman yakin  terhadap semua tuntutan mereka. Para pengunjuk rasa  juga menyatakan bahwa pemilu presiden mendatang  adalah rencana para kapitalis yang bertujuan untuk  memalingkan tuntutan rakyat Yaman yang sebenarnya  sehingga banyak diantara mereka mengumumkan tidak  akan berpartisipasi dalam pemilu, dan akan terus turun ke  jalan untuk menyerukan jatuhnya kapitalisme dan  kebangkitan Islam. Sementara Franklin Lamb, seorang pengamat dan  pengacara internasional mengatakan, kebangkitan Islam  saat ini begitu luas dan begitu dalam.

 

Gerakan ini tidak  hanya terjadi di Timur tengah dan Asia, namun juga  mempengaruhi publik Amerika Serikat, Eropa dan berbagai  belahan dunia pada umumnya. Protes juga menyebar ke  AS dan Eropa, di mana demonstran bangkit untuk  melawan kapitalisme dan korporatisme. Sedangkan di sisi  lain ekonomi Islam terus mendapat perhatian dunia barat  menjawab sistem ekonomi baru ke depan. (republika.co.id,  29/1/2012).

 

Driser, secara i’tiqadi, kita yakin bahwa kekuasan  hakiki di tangan Allah SWT. Dialah yang memberikan atau  mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Kekuasaan, sebagaimana umur manusia, juga ada ajalnya.  Nggak ada yang awet. Sekuat apa pun kekuasaan itu  dipertahankan, kalo udah waktunya, bakal lengser juga.  Inilah yang dialami oleh para penguasa Timur Tengah dan  lainnya. Kita juga yakin kuadrat kalo janji pertolongan Allah  SWT seperti disebutkan dalam QS an-Nur [24]: 55 bakal  kejadian.

 

Kabar gembira tentang tegaknya Khilafah juga  udah diberitakan dalam banyak Hadis Nabi saw. Salah  satunya dalam riwayat Ahmad, Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah akan datang setelah masa mulk[an] jabriyyan  (penguasa diktator), mulk[an] ‘adhdh[an] (penguasa yang  menggigit).  Belum lagi fakta yang ada di depan mata  menunjukkan kehancuran Ideologi Sosialisme. Dan  Kapitalisme juga sudah gonjang-ganjing, keropos dan  banyak dikritik karena terbukti gagal  mensejahterakan manusia. Orang kafir saja ada  yang yakin tegaknya Khilafah.

 

Michael Loreyev,  direktur sebuah perusahaan dan Wakil Presiden  Rusia Union of Industrialists dan Wakil Ketua  Duma (Rusia Assembly) memprediksi pada tahun  2020 akan muncul beberapa negara besar di  dunia. Salah satunya adalah Khilafah. Ini juga  sejalan dengan prediksi The National Intelligence  Counted menyebut kemungkinan munculnya  Khilafah baru pada tahun 2020.

 

So, udah seharusnya janji Allah dan kabar  gembira tentang kemenangan Islam dari  Rasulullah serta prediksi dari lembaga penelitian  orang kafir ditambah keseriusan negara-negara  kafir penjajah yang melakukan berbagai cara  untuk menghalangi perjuangan Khilafah semakin  menguatkan keyakinan kita bahwa mereka  kebangkitan Islam yang ditandai dengan tegaknya  Khilafah bukan utopia alias khayalan semata,  namun sebuah keniscayaan yang pasti terjadi.  Just a matter of time! [341]

 

Di muat di majalah drise edisi 20