Majalahdrise.com – Di aula utama, Gyorgi melihat ada mayat seorang gadis. Di dekatnya ada lagi tubuh seorang gadis yang penuh dengan luka, yang mengerikan ternyata gadis itu masih hidup. Pada ruang-ruang tahanan ditemukan lebih banyak lagi mayat gadis-gadis, diantara mereka ada yang sekarat. Yang lebih mengerikan adalah apa yang terlihat di ruang bawah tanah kastil Cachtice. Ada banyak gadis yang digantung dengan posisi kepala di bawah, pada tubuh mereka terlihat luka-luka menganga dengan darah yang masih menetes dan ditampung pada ember-ember besar di bawahnya. Sepertinya semua itu adalah untuk kegiatan mandi darah Elizabeth. Gyorgi memerintahkan agar bagian lantai ruang bawah tanah itu digali, dan ditemukanlah 50 mayat lagi dalam kondisi yang amat mengerikan. Kastil mimpi buruk itu pun digeledah, dan ditemukanlah sebuah buku catatan milik Elizabeth yang memuat daftar korban kekejiannya, yang mencapai angka 650 orang. Maka Gyorgi segera meringkus Elizabeth dan seluruh anteknya. Pengadilan pun digelar, walaupun amat sangat tidak adil.

Beberapa antek Elizabeth adalah: Dorottya Szentes (dikenal sebagai Dorko); Ilona Jo; Katarina Beneczky (perempuan tukang cuci; dan seorang kerdil bernama Janos Ujvary (dikenal sebagai Iblis atau Ficzko). Seorang anak buah Elizabeth yang bernama Erzsi Majorova berhasil melarikan diri ketika penangkapan itu terjadi, namun dia berhasil ditemukan dan kemudian ditangkap. Seluruh anak buah Elizabeth itu pun digiring ke pengadilan, dan mereka semua harus menerima seluruh dakwaan dan menanggung seluruh hukuman, sementara Elizabeth sendiri hanya dijadikan tahanan rumah. Elizabeth tidak pernah datang ke hadapan meja hijau. Ada tekanan yang cukup kuat dari raja Matthias Corvinus untuk menghadirkan Elizabeth ke pengadilan. Sepertinya dia hendak membuktikan bahwa dia berkuasa penuh atas seluruh bangsawannya dan hendak memperlihatkan bahwa keluarga Báthory yang amat berpengaruh itu tidak bisa macam-macam dengannya. Namun berbagai lobi yang dilakukan Gyorgi berhasil membuat Elizabeth tetap sebagai tahanan rumah, padahal 200 orang saksi amat memberatkannya dan amat banyak pula bukti yang memperlihatkan betapa kejinya dia. Pada serangkaian pengadilan itu terungkap lebih jauh tentang betapa jahatnya Elizabeth. Seperti nasib malang yang menimpa seorang gadis berusia 12 tahun bernama Pola.

Seperti dikisahkan Brenda Ralph Lewis, pengadilan pertama bagi antek-antek Elizabeth digelar pada 7 Januari 1611. Sidang ini dihadiri oleh 20 orang hakim yang diketuai oleh Theodosius Syrmiensis Szulo. Pada sidang ini dihadirkanlah berbagai bukti dan saksi yang kesemuanya memberatkan para tertuduh termasuk Elizabeth sendiri. Dihadirkanlah seorang saksi, pelayan Elizabeth, namanya Zussana. Dia berkata bahwa Elizabeth memiliki buku catatan yang merekam semua korbannya, tentang nama-nama mereka, tentang berbagai tindak penyiksaan atas mereka dan bagaimana kondisi saat mereka mati. Namun wujud buku ini tidak pernah diperlihatkan. Dalam sidang ini pula terungkap bagaimana sadisnya kematian Pola.

Pola adalah seorang gadis berusia 12 tahun. Antek-antek Elizabeth menculiknya dan menjebloskannya ke dalam penjara di Kastil Cachtice, tetapi dia berhasil melarikan diri. Sayangnya, Dorko dan Ilona Jo berhasil menangkapnya kembali dan menghadapkannya kepada Elizabeth yang murka. Elizabeth kemudian memerintahkan untuk memasukkan Pola ke dalam sebuah kerangkeng berbentuk bola, yang bagian dalamnya memiliki duri-duri yang runcing. Dorko dan Ilona Jo menarik bola besi berduri itu dengan tambang dan katrol sementara Pola terombang-ambing di dalamnya sembil menjerit dan merintih karena duri-duri itu mulai menusuk-nusuk tubuhnya. Di bawah, si orang kerdil Fizcko menarik talinya sehingga membuat bola itu berputar dan berayun, tubuh Pola yang malang jelas saja semakin tertusuk duri-duri dari besi dan terus teriris-iris hingga dia mati.

Walaupun dalam keadaan sakit, hobi Elizabeth untuk menyiksa orang tetap saja berjalan. Dia duduk di atas ranjangnya dan mengawasi Dorko yang menyeret-nyeret seorang gadis. Begitu gadis itu didekatkan kepadanya, segeralah digigitnya pipi gadis itu hingga dagingnya lepas dan darah berhamburan ke mana-mana. Belum puas, Elizabeth menggigit pundak dan payudara gadis malang itu hingga daging-dagingnya lepas dan berdarah-darah.

Dalam persidangan itu, Dorko dan Ilona Jo dinyatakan sebagai penyihir. Jari-jari mereka kemudian dipatahkan oleh sebuah tang yang dibakar hingga menjadi merah, kemudian mereka dibakar hidup-hidup, seperti kematian para penyihir. Fizcko dipandang hanya memiliki sedikit kesalahan, namun dia juga dieksekusi dengan dipenggal dan tubuhnya dibakar hingga menjadi abu. Erzsi Majorova pun dieksekusi, dan hanya Katarina Beneczky yang lolos dari kematian, tetapi dia harus mendekam di dalam penjara seumur hidupnya.

Keluarga Báthory yang berkuasa itu masih tetap saja membela Elizabeth, walaupun mereka tetap memandang bahwa Elizabeth adalah aib dan telah mencorengkan arang ke wajah keluarga. Elizabeth tetap dikurung di kamarnya sendiri di kastil Cachtice. Pintu kamarnya disegel dan hanya disisakan celah kecil untuk memasukkan makanan dan minuman. Dia hidup di sana dan tidak pernah keluar. Tiga tahun lamanya harus dijalani Elizabeth dalam keadaan terpenjara seperi itu, hingga malaikat maut datang mengunjunginya dan mencabut nyawanya. Pada 21 Agustus 1614 dia ditemukan di dalam kamarnya dalam keadaan menelungkup dengan wajah tersungkur di lantai. Rezim terornya pun berakhir.

TAMAT