ada yang pernah nonton film Jackie chan yang judulnya  Around the World in 80 days? Film yang diambil dari buku  karangan Jules Verne tahun 1873 ini menceritakan  A seorang Phileas Fogg yang bertaruh uang sebesar £20.000  dengan kawan-kawannya di Klub Reform, London. Doi bilang ia  bisa mengelilingi dunia dalam tempo 80 hari! Dan ternyata, bisa!  Seru ya bisa keliling dunia kaya Phileas Fogg. Tapi lebih asyik lagi  kalo kita keliling dunianya dengan Ibnu Batutah.

Eits, siapa nih? Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin  Abdullah Al-Lawati Al-Tanji adalah seorang pengembara  (traveler), petualang (adventurer), dan pengamat (observer) yang  membuat catatan harian tentang negeri-negeri yang ia kunjungi  dalam pengembaraannya. Catatan perjalanan yang dikenal  dengan buku “Rihlah Ibnu Bathuthah” ini ditulis setelah dirinya  mengunjungi berbagai belahan dunia, kemudian mengamati  kebudayaan, adat istiadat, dan perilaku masyarakat di negeri-negeri yang ia kunjungi, terutama wilayah yang dipimpin oleh  kesultanan Islam. Beliau dilahirkan di Tangiers, Morocco, Afrika  Utara pada 24 Februari 1304M. Besar dalam keluarga yang taat  memelihara tradisi Islam, Ibnu Batutah giat mempelajari fiqh dari  para ahli yang sebagian besarnya menduduki jabatan qadhi  (hakim).

Beliau juga mempelajari sastra dan syair Arab. Beliau melakukan perjalanannya yang panjang, jauh  sebelum Columbus (1451-1506M) menemukan Benua Amerika.  Perjalanannya dimulai ketika beliau menunaikan ibadah haji pada  usia kurang dari 21 thn. Menurut catatan sejarah, kepergian itu  tepat pada 14 Jun 1325M. Beliau menyeberangi Tunisia dan  hampir seluruh perjalanannya ditempuh dengan berjalan kaki.  Beliau tiba di Alexandria pada 15 April 1326 dan mendapat  bantuan dari sultan Mesir berupa uang dan hadiah untuk  bekal menuju Tanah Suci.

Menurut sejarahwan Barat, George Sarton, yang  mengutip catatan Sir Henry Yules, Ibnu Batutah telah  mengembara sejauh 75,000 batu melalui daratan dan lautan.  Jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marco Polo  dan penjelajah mana pun sebelum datangnya zaman mesin  uap. Ketika Marco Polo meninggal dunia, Ibnu Batutah baru  berusia 20 thn. Ahli sejarah seperti Brockellman  mensejajarkan namanya dengan Marco Polo, Hsien Teng,  Drake dan Magellan. Keterangan yang lain menyebutkan  Perjalanan itu baru sepenuhnya berhenti 27 tahun kemudian  (menurut tarikh Masehi — sekitar 30 tahun menurut tarikh  Hijriah), setelah ia menempuh jarak total sekitar 120.000 km.

Dalam perjalanannya keliling dunia, ternyata Ibnu  Batutah juga pernah mampir ke Indonesia. Tepatnya  singgah  di kerajaan Samudera Pasai (kini Aceh). Kedatangan Ibnu  Batutah disambut Amir (panglima) Daulasah, Qadi Syarif  Amir Sayyir Al-Syirazi, Tajuddin Al-Asbahani dan beberapa  ahli fiqh atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Walau hanya berkunjung selama 15 hari, beliau  berpendapat “negeri nan hijau dan subur”, “rakyat dan  alamnya indah dan menawan”, “negeri yang menghijau dan  kota pelabuhannya besar dan indah”.

Dalam versi lainnya,  beliau menulis pulau Sumatra sebagai “Pulau Jawa yang  menghijau”. Kisah seluruh perjalanan Ibnu Batutah didiktekan dan  ditulis oleh Ibnu Jauzi, juru tulis Sultan Morroco, Abu Enan. Karya  itu diberi judul Tuhfah Al-Nuzzar fi Ghara’ib Al Amsar wa Ajaib Al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-kota Asing  dan Perjalanan yang Mengagumkan). Lebih di kenal dengan  Rihlah Ibnu Bathuthah.  Pada tahun 1829 di Inggris, kisah  perjalanan ini diterjemahkan oleh Samuel Lee diterbitkan dengan  judul  The Travels of Ibn Battuta. Kini judul lengkap buku ini  menjadi The Travels of Ibn Battuta in the Near East, Asia and  Africa 1325-1354. 

Terbit tahun 2004 (Dover Publications, New  York) , karya ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan di  Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis,  Inggris dan Jerman. Tahun 1369 pada usia 65 tahun Ibnu Battuta meninggal  dunia.12 tahun setelah dia selesai menulis rihlah. Karya  fenomenal Ibnu Batutah mengingatkan kita tentang kebesaran  peradaban Islam dan kecerdasan para ilmuwan Islam. Terbukti,  kiprah ilmuwan Islam seperti Ibnu Batutah memberikan  kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.  

Makanya, gak ada alasan bagi kita untuk minder sebagai remaja  muslim yang istiqomah dengan aturan Islam. Seperti Rasul bilang,  Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. So,  bangga deh sebagai remaja muslim dan terus berdakwah!  [Ridwan]