Majalahdrise.com – Pemblokiran 19 situs media Islam (31/03/15) oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menuai kritik keras dari para pengguna media sosial.Melalui tagar #KembalikanMediaIslam netizen mencaci maki keputusan pemerintah yang tidak berpihak kepada umat Islam.

Gokilnya, salah satu politisi ada yang mengatakan situs media Islam radikal lebih berbahaya dengan situs porno. Sama-sama merusak jiwa generasi muda. Jadi harus diblokir. Pernyataan ngaco ini menunjukkan gerahnya musuh-musuh Islam yang dibuat kewalahan dengan kebangkitan dakwah Islam. Label radikal dijadikan alat propaganda untuk memberangus dakwah Islam. Padahal, label-label ini adalah buatan musuh Islam untuk menciptakan islamophobia masyarakat terhadap syariah Islam.

Pemblokiran situs-situs Islam secara sepihak bisa jadi gelagat buruk bagi kembalinya bibit-bibit kebijakan represif (sewenang-wenang) ala pemerintah Orde Baru. Pemerintah sering bilang agar mengambil jalan dialog sebelum bertindak mengumber emosi kepada para peserta aksi. Tapi sendirinya, menjilat ludah sendiri. Nggak pake intro apalagi mediasi, depkominfe meloloskan rekomendasi BNPT atas nama memberantas ISIS tanpa sempat mengecek situs-situs islam yang diblokir. Padahal kebanyakan situs Islam yang diblokir adalah situs dakwah Islam biasa. Sebagiannya malah menentang paham dan tindakan ISIS. #GagalPaham

Tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap pemblokiran media islam emang harus dilawan. Kalo didiemin, bisa dipake pembenaran untuk membungkam sikap kritis terhadap pemerintah dan berbagai kezaliman negara-negara penjajah di negeri-negeri Islam.Propaganda besar-besaran seputar radikalisme itu juga akan menggiring opini ‘monsterisasi’ dan kriminalisasi syariah Islam. Dampaknya, umat Islam merasa termasuk remaja takut untuk sekadar ikut pengajian, misalnya, karena takut dicap radikal.#KembalikanMediaIslam #YukNgaji! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47