Kelingking terpaut dengan kelingking lainnya. “Kita  temenan selamanya. Sampai mati.” Ucap dua orang  Kyang terikat persahabatan. Mungkin ini kali ya, yang kadang populer di kalangan  anak-anak sampai remaja dalam pertemanan.

Janji setia  bakal bersama selamanya, tanpa ada saling sakit-menyakiti  (ciee…), tanpa ada pengkhianatan, saling terbuka dan jadi  pundak curhatan. So sweet.. ^^ Sejak kecil, kemana-mana berdua. Jajan satu, jajan  semua. Nggak jajan satu, nggak jajan semua meskipun air liur  sudah di pinggir bibir. Saling mengukir nama di hati masing-masing. Serasa dunia Cuma ada milik berdua. Itu yang orang  bilang teman sejati.

Selalu mendukung apapun keadaannya. Itulah yang sedang terjadi di dunia nyata sekarang.  Teman menjadi bagian penting dalam hidup. Rasanya belum  hidup kalo belum punya teman. Secara, manusia juga adalah  makhluk sosial, yang kerjanya pasti bersosialisasi dengan  orang lain.

Terutama dengan makhluk yang namanya teman  ini. Menurut kalian, teman itu apa sih? Teman, orang yang ada di sekitar hidup kita. Teman  itu adalah orang yang sayang sama kita. Sayang berarti  menjaga. Sepakat?  Di masa sekolah, apalagi masa esempe dan esema,  teman menjadi bagian yang akan dikenang.

Jika punya  masalahpun, teman adalah salah satu sandaran untuk  berkabung, eh, maksudnya untuk bersandar. Karena, dengan  usia yang ngga beda jauh, rasa saling mengerti akan mudah  hadir. Pengertian menjadi hal yang pasti ada pada seorang  teman. Tapi sobat, nggak semua orang bisa menjadi teman  seperti yang kita inginkan. Betul? Pasti setiap insan  menginginkan karakter teman masing-masing.

Tapi maaf-maaf saja, Allah nyiptain manusia dengan karakter-karakter  yang berbeda. Namun jangan khawatir. Di antara 1000 atau bahkan 1  triliun karakter teman, Cuma ada dua tipe yang mendominasi  di dunia ini. Serius Cuma dua? Iya, serius! Tipe teman yang pertama, dia selalu ada buat kita  (sebenarnya ngga juga sih, masa tiap detik ada mulu), kalo  kita ada masalah, dia hadir sebagai sandaran. Apapun yang  terjadi, sekalipun kita salah, dia tetap dukung kita.

Mengusap  pundak kita. Ia akan mengatakan, lakukan apa yang kita mau,  apa yang ada di hati kita. Pokoknya ia bikin kita nyaman  dengan segala keiyaannya. Ia akan ada di pihak kita.  Sekalipun kita melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah.  Kita nggak sholat, dibiarin. Kita pacaran, misalnya, atau nggak  nutup aurat, nggak disentil. Tipe teman yang kedua, dia kritis. Bukan kritis lagi  sakit ya! Kadang-kadang seiya sekata, kadang-kadang  setidakiya setidaksekata.

Saat kita ingin melakukan sesuatu,  dia ngecek dulu, sesuai dengan aturan Allah nggak, ya? Kalo  iya, lanjut, kalo nggak, ya bisa batal. Nah, dari dua tipe tersebut, kira-kira, tipe mana yang  lebih disukai? Yang pertama, atau yang kedua? Ibaratnya seorang ibu deh. Kira-kira, ibu yang baik itu  yang selalu membolehkan apapun kepada anaknya, atau ibu  yang pilih-pilih dan berpikir dulu sebelum anaknya  mendapatkan apa yang dia inginkan?

Pikir saja sendiri. Karena, sia-sia sekali kalo kita berteman tapi kita tidak  mendapatkan kebaikan apapun. Hanya menjalani rutinitas  pertemanan, atau bahkan menjerumuskan tentu kita nggak  mau. Maka dari itu, yuk kita jadi teman super, yang bawel  namun ngangenin. Yang kritis tapi  romantis tis tis. ^^[] Ayo