Sobat islam apa yang kita rasakan ketika orang – orang yang ada di sekeliling kita adalah orang hebat, genius, konglomerat, hafidz qur’an, dan orang-orang yang berasal dari keluarga terpandang? Kemungkinan terbesar dari hasil analisis yang akurat menghasilkan jawaban MINDER.

Ya, Minder,tapi sebenarnya apa sih Minder itu sendiri? MINDER, satu kata penuh makna yang sebenernya merupakan cikal bakal keputusasaan alias futur bin galau. MINDER itu sendiri biasa hadir saat kita mengukur diri dengan orang yang lebih daripada kita.  

Mungkin lebih keren, lebih jago, lebih pinter, lebih shalih, de el el. Minder bisa diartikan dengan perasaan rendah diri atawa nggak PD dengan apa-apa yang kita punya atau kita nggak punya apa-apa. Padahal orang lain belum tentu mandang rendah kita, iya kan?  Dan dari sikap Minder itu sendiri manusia jadi sombong en kufur nikmat.

Kenapa jadi sombong? Karena untuk menghilangkan rasa Minder itu kebanyakan kita malah menyombongkan kelebihan di atas kekurangan kita, yang tujuannya sih untuk menutupi kekurangan en kita makin PD. Sobat Islam, cara basi yang kebanyakan orang pilih itu bukan bikin kita PD, tapi malah bikin orang lain yang kemampuannya mungkin di bawah kita jadi Minder, dan bisabisa kita termasuk sebagai seorang  pengecut.

Nah lho! Seseorang bernama Jacques Audiberti mengatakan  “Kepengecutan yang paling besar adalah ketika kita membuktikan kekuatan kita  kepada kelemahan orang lain.” Dengan begitu juga kita bisa jadi Kufur Nikmat, tentu saja, karena berawal dari MINDER itulah kita nggak nyadar kalau setiap manusia punya kelebihan yang berbeda,  en jatuhnya malah jadi nggak besyukur.

Sobat, setiap manusia pasti punya  kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun terkadang kita nggak nyadar dengan kelebihan yang kita punya, padahal kita semua itu multitalent lho! Thomas Alva Edison aja pernah bilang “Keberhasilan dicapai dengan 1% bakat dan 99% kerja keras.” Yang jadi permasalahan sebenarnya bukan kerena kita nggak berbakat, tapi kemauan kita dalam mengolah bakat yang kecil menjadi besar itu yang bikin kita males  dan melahirkan Si Minder, en merasa diri ini nggak bisa apa-apa. Kalau bicara soal MINDER, sebetulnya Minder juga ada pembagiannya lho. Ada Minder Statis (pasif), ada juga Minder Dinamis (aktif).

Minder Statis atau minder pasif yakni minder yang hanya jalan di tempat alias nggak ada kemauan dalam mengasah bakat menjadi luar biasa. Contoh, ketika kita belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, kita jadi enggan datang ke acara-acara kajian karena merasa nggak sepadan dengan orang-orang shalih yang ada di dalamnya.

Dan MINDER itu akhirnya bersarang terus dalam diri kita tanpa kita alirkan menjadi motivasi. Itu namanya Minder Statis, yang biasanya dimiliki oleh orang-orang NATO (no action talk only). Dalam Al-Qur’an dijelaskan secara gamblang.  ‘… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. …” (TQS Ar-Ra’d : 11).

Yang kedua yakni Minder Dinamis atau minder aktif adalah minder yang dapat mengalirkan arus motivasi. Atau bisa juga diartikan, bahwa perasaan MINDER tersebut telah dapat menerapkan hukum sebab akibat (kaidah kausalitas) dengan benar.

Kayak contoh tadi, kalau kita menggunakan Minder Dinamis maka kita harus terlebih dahulu memperhatikan akan sebab dan akibatnya. Karena nggak ada akibat yang kagak ada sebabnya, dan juga sebaliknya. Jadi nggak ada juga orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik hanya dengan simsalabim abracadabra.

Hey, life isn’t a movie! Kalau sekiranya belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik,maka kita harus mempelajarinya terus,bisa juga dengan misalnya minta ajarkan ke teman yang bisa. Dan yang muncul dari Minder Dinamis adalah sikap ingin memantaskan diri untuk berkumpul dengan orang-orang shalih ,bukan malah memelihara MINDER tersebut sampe busuk.

Nah, Minder Dinamis lah yang biasa dimiliki oleh orang-orang Mustanir atau orang yang berpikir cemerlang. Kalau memang ingin menerapkan Minder Dinamis meski ngerasa banyak kekurangan, semuanya pasti bisa! Man jadda wajada.

Sekarang, kalau kita merasa kekurangan kita banyak, berarti banyak juga  dong benih-benih kelebihan yang kita punya. Toh, sebatang pohon yang rindang pun awalnya hanya sebiji benih. Dan bisa jadi Allah member kita kekurangan tersebut untuk menguji kita, apakah kita mau memperbaiki keadaan atau malah mengambil sikap fatalisme (pasrah secara total dengan keadaan). Allah swt mengingatkan,

“… Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupanya. …” (TQS. Al-A’raf : 42)

So, sekarang mulailah menerapkan Minder Dinamis yang sejatinya bisa membuang perasaan MINDER itu sendiri en jadilah seorang muslim yang PD! PD untuk berprestasi, PD menjadi diri sendiri, dan tentunya harus PD menjadi seorang PD alias Pengemban Dakwah! Are you ready?![]