drise-online.com – menyambung dari tulisan ini Sebagai remaja bermental pemenang, tentu harus steril dari sikap pecundang. Sikap pengecut yang melemahkan semangat kita untuk mengukir prestasi. Sikap pengecut alias mental korban cuman bikin hidup kita diam di tempat. Gak bisa move on. Gagal UAN bukannya evaluasi, malah bunuh diri. Ditolak cinta bukannya bersyukur karena jauh dari maksiat, malah pelihara dendam kesumat. Minta smartphone ke ortu belum dipenuhi bukannya usaha biar bisa beli sendiri, malah nilep uang bayaran sekolah yang bikin ortu sakit hati. #TepokJidat!

Saatnya kita kikis mental pecundang. Biar kita pantas menjadi juara. Berikut mental korban yang harus kita tendang.

  1. Futur. Saat perjuangan ketemu hambatan yang tak kunjung teratasi, seorang pecundang memilih mundur dari pertarungan. Nggak ada semangat untuk cari jalan agar hambatan segera teratasi. Seorang pemenang akan mengevaluasi diri dan perilakunya. Hambatan dilihat sebagai tantangan yang harus ditaklukkan biar naik level. Persis kaya maen game. Segera belajar dan cari tahu, gimana caranya agar hambatan tak jadi batu sandungan. Tapi justru tetap menjaga fokus kita di jalan perjuangan. Yup, hambatan adalah sahabat yang mengingatkan kita akan pentingnya jalani proses perubahan. Nyes!
  2. Kalah sebelum bertanding. Belon juga turun ke medan perang, udah ngeper duluan dengan kehebatan musuh atau terjalnya jalan ujian. Itu juga kata orang, bukan sendirinya yang ngeliat.Bayangannya udah gagal aja. Seorang pemenang punya keyakinan yang kuat dirinya bisa lewati ujian. Dia bakal berusaha persiapkan banyak untuk berikan yang terbaik. Bisikan setan nggak didengar. Bayangannya dia sudah memegang tropi juara. Yup, dia udah menang melawan nafsu setan sebelum bertanding. Keren!
  3. Tak bisa menerima kegagalan. Udah berusaha sekuat tenaga, ternyata hasilnya tak sesuai harapan. Langsung nangis. Ngambek. Mengurung di dalam kamar. Gak papa kalo sedih sebentar lalu bangun dan move on. Tapi jangan dimanjain. Itu godaan setan yang memasung produktifitas. Seorang pemenang nyadar kalo proses gak ada yang mulus kaya jalan raya yang baru diaspal. Kegagalan udah menjadi bagian dari proses yang dijalaninya. Karena dia siap menjadi pemenang dan berani menerima kegagalan. Terus berusaha karena pasti suatu saat kemenangan akan ada ditangan. Hamasah!
  4. Selalu ingin dikasihani. Fokus dengan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Selalunya membesar-besarkan hambatan yang ditemui. Lalu merasa dirinya gak bisa melewati. Dan bilang sama orang agar dimaklumi. Seorang pemenang, tangannya ada di atas untuk memberi bantuan bukan malah selalu menengadahkan tangan dan pasang mimik wajah kasihan. Dia gak cerita kekurangan dirinya, tapi fokus menularkan semangatnya. Biar yang lain juga bisa menjadi pemenang seperti dirinya. Yes!
  5. Nyari pembenaran. Udah jelas dirinya yang bangun kesiangan lantaran begadang semalaman, jadi telat shalat shubuh dan masuk sekolah. Tapi bilang ke guru ibunya telat bangunin, jalanan macet, bla..bla..bla. Dia gak gentle ngaku kalo emang dirinya yang bermasalah, malah mencari kambing hitam untuk disalahkan. Seorang pemenang akan langsung evaluasi diri saat melakukan kesalahan. Segera perbaiki, tambah ilmu dan berusaha lebih baik lagi. Gak ada ceritanya nyari pembenaran. Biar energinya nggak tersedot buat nyari kesalahan orang lain. Tapi fokus keluar dari masalah dan membuka jalan kemenanangan. Mantabs!

Driser, syukurilah nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita. Optimis menatap masa depan. Karena kita adalah pemenang. We are the champion. Go..! [@Hafidz341]

di Muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #39