KITAB PALING OTENTIK 2 | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Digital >> KITAB PALING OTENTIK 2
KITAB PALING OTENTIK 2

KITAB PALING OTENTIK 2




Majalahdrise.com – Imam Jalaluddin al-Sayuti menjelaskan  bahwa mukjizat itu adalah “Suatu hal atau  peristiwa luar biasa yang disertai  tantangan dan selamat (tidak ada yang  sanggup) menjawab tantangan tersebut”.   Walid bin al-Mughirah, dedengkot  kafir Quraisy pun mengakui keindahan Al-Qur’an; “Demi Allah, sungguh aku baru saja  mendengar dari Muhammad suatu  perkataan yang bukan merupakan  perkataan manusia maupun jin. Sungguh ia  berasa manis dan penuh pesona, bagian  atasnya berbuah dan bagian bawahnya  subur.

Ia tinggi dan tidak ada yang lebih  tinggi darinya”. Al-Qur’an juga jelas bukan  karangan Nabi Muhammad, biar gimana  pun juga, beliau kan tetap orang Arab,  apalagi beliau nggak dikenal sebagai  seorang penyair. Ditambah lagi ada  perbedaan besar antara gaya bahasa Al-Qur’an dengan sabda-sabda beliau. Jauh  banget. Jadi kalau ada yang bilang Al-Qur’an itu bikinan Nabi Muhammad, itu  fitnah banget! Apalagi kalau ada yang  bilang Al-Qur’an itu karangan orang non-Arab atau jiplakan dari kitab non-Arab. Lah  orang Arab paling fasih aja nggak bisa  bikin, apalagi orang ‘ajam (non-Arab), ya  nggak sih.

Jadi, Al-Qur’an itu perkataan siapa  dong? Hmm… nampaknya kemungkinan terakhir yang bisa  diterima akal sehat  cuma satu, yaitu  kalam Allah SWT yang  diwahyukan kepada  Nabi Muhammad  Saw(QS Al-Insan:23).   Kalau boleh ngutip  kata-katanya Sir  Arthur Conan Doyle  melalui karakter  Sherlock Holmes;  “when you have  eliminated the  impossible, whatever  remains, however  improbable, must be  the truth”. Ketika  kamu sudah  menyingkirkan  (kemungkinan-kemungkinan) yang  mustahil, maka apapun yang kemungkinan  tersisa, walaupun kelihatannya gak  mungkin, tapi pasti itulah yang benar! Yup! Ketika ada wahyu turun kepada  Rasulullah Saw, beliau memerintahkan para  sahabat dan juru tulisnya untuk menghafal  dan menuliskan ayat tersebut, sambil  menunjukkan dimana ayat itu ditempatkan  dalam surat.

Jadi, susunan ayat dan surat Al-Qur’an itu juga merupakan tuntunan wahyu,  bukan asal-asalan.  Hanya saja, pada masa Rasulullah  Saw hidup, tulisan-tulisan ayat itu masih  berceceran, walaupun banyak di antara para  sahabat yang hafal seluruh ayat Al-Qur’an.

Sepeninggal Rasulullah, Allah Swt  mengilhamkan kepada para sahabat  terkemuka di masa Khalifah Abu Bakar ra.  untuk mengumpukan dan merapikan  tulisan-tulisan Al-Qur’an yang berceceran itu  dalam satu tempat.  Tugas mulia ini diemban oleh Zaid  bin Tsabit ra. dengan amat sangat teliti  banget. Walaupun banyak penghafal,  namun pengumpulan ini nggak cukup  mengandalkan hafalan para huffazh saja,  tetapi harus didukung dengan adanya  manuskrip tertulis. Manuskrip ini pun nggak  akan diterima, kecuali setelah disaksikan  oleh dua orang saksi bahwa lembaran ini  ditulis di hadapan Rasulullah saw. Masya  Allah.

Pada masa Khalifah Utsman ra.,  mushaf Al-Qur’an kemudian ditulis ulang  untuk mengatasi perbedaan cara membaca  Al-Qur’an dan mengantisipasi fitnah yang  bisa timbul akibat perbedaan bacaan itu.  Setelah selesai ditulis ulang, mushaf ini  disalin sebanyak 7 buah dan dikirimkan  masing-masing ke kota Makkah, Syam,  Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan  Madinah, agar orang-orang tidak berbeda  pendapat lagi tentang al-Qur`an. Mushaf  inilah yang dikenal dengan mushaf Utsmani.

Salah satu langkah antisipasi yang  lain adalah perintah untuk memusnahkan  selain mushaf Utsmani, yang diamini para  sahabat radhiallahu ‘anhum ‘ajmain.  Selanjutnya kaum muslimin menyalin  mushaf-mushaf lainnya dari mushaf  Utsmani, dengan tulisan dan bacaan yang  sama hingga sampai kepada kita sekarang.  Pada masa Khalifah berikutnya Al-Qur’an  diberi tanda baca untuk menghindari  kesalahan bacaan bagi yang kurang mengerti  tata bahasa Arab. Benarlah firman Allah Swt,  “Sesungguhnya Kami menurunkan adz-Dzikru  (Al-Qur’an) dan susungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS al-Hijr:9).

Sudah lebih  dari seribu tahun lamanya kitab ini  mempunyai bacaan dan tulisan yang sama di  seluruh dunia. Coba, kitab mana yang lebih  otentik dari Al-Qur’an?[]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twenty + 18 =