bumi Indonesia lagi gonjang-ganjing karena ulah dua institusi di negeri ini  yang terlibat konflik. Padahal keduanya sama-sama penegak hukum tapi kok  berantem? Negeri yang aneh! Nah, di situlah keanehannya. Kedua lembaga  ini terlibat saling serang dan saling sandera karena yang satu berusaha  mengungkap korupsi di tubuh yang lain.

Karena yang satu merasa diusik, maka dia  cari-cari kesalahan dan kekeliruan yang lain. Ujung-ujungnya yang koprol lalu bilang  wow adalah para koruptor. Hehehe… Korupsi di negeri ini emang udah sampai pada stadium 5 saking  parahnya. Malahan ada anekdot yang populer: kalau era orde lama pejabat korupsi  di bawah meja, pada periode orde baru selanjutnya pejabat korupsi di atas meja  (karena udah nggak tahu malu), dan pada masa reformasi pejabat korupsi sama  meja-mejanya. Bener-bener ngenes banget! Tindak pidana korupsi hakikatnya adalah akibat langsung dari penerapan  sistem demokrasi oleh negara. Iya dong, karena demokrasi itulah yang secara  sistemik menyuburkan korupsi di mana-mana. Coba lihat, dalam sistem demokrasi  yang namanya kekuasaan politik itu kan seperti perlombaan. Setiap periode  pemilihan orang-orang berlomba untuk  menduduki kursi pemerintahan mulai dari  Presiden, anggota DPR, hingga kepala daerah.

Nah untuk ikut perlombaan dapetin  kursi kekuasaan, modalnya mesti kuat bin bejibun. Tak heran kalo ongkos  persaingan untuk mendapatkan jabatan itu bisa sampai ratusan milyar. Kalo dari  awal aja udah kaya gini, nggak aneh kalau nanti pas udah menjabat yang dikejar  duluan itu adalah gimana caranya ngembaliin modal besar yang udah keluar pas  masa-masa perlombaan dulu. Urusan Rakyat? Pending dulu kaleee…! Untuk menghentikan fenomena korupsi yang semakin mengganas,  demokrasi yang jadi biang keladinya itulah yang harus dihancurkan.

Dan diganti  dengan sistem lain yang menjamin terwujudnya pemerintahan yang bersih dan  baik (clean and good government) . Sistem apa itu? Pastinya sistem Islam dong!  The one and only…[Isa]