Gool pada menit ke 40 bintang kesebelasan West Bromwich Albion, Nicolas Anelka, mencetak gol  pertama ke gawang West Ham United di Stadion Upton Park-London, Sabtu (28/12/2013).  

Usai membuat gol, Anelka berlari ke sisi kanan gawang lawan. Kemudian ia melipat tangan kiri  ke arah dada kanan, sedangkan tangan kanan lurus ke depan agak ke bawah. Itulah ekspresi yang disebut Le Quenelle. Akibat selebrasi pada laga yang berakhir imbang 3-3 tersebut, Anelka menuai kecaman. Prestasinya mencetak dua gol seperti terlupakan.

Nah lho! Aksi Nicolas Anelka membuat marah komunitas Yahudi. Telebih, selebrasi dilakukan di markas West Brom, Stadion Boleyn Ground, milik orang Yahudi. Kongres Yahudi Eropa pun meminta polisi untuk menangkap Anelka dan memberinya hukuman.

Nicolas terancam hukuman tak boleh main di lima laga di Liga Primer Inggris.  Seperti dilansir Dailymail, Nicolas Anelka akan jadi pemain West Bromwich pertama yang mendapat sanksi dari Football Association Inggris. Mantan pemain tim nasional Prancis itu dituduh bersikap rasis.

Sebab, dia dikira melakukan gerakan hormat Nazi yang dibalik. Nicolas Anelka dituduh anti-semit. Padahal, begitu banyak pesepakbola Eropa yang selama ini  ”anti-semit” karena mereka pro- Palestina. Misalnya dalam laga Sevilla kontra Devortivo La Coruna di ajang Copa Del Rey (8/1/2009), usai membuat gol, striker asal Mali Frederic Kanoute membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “Palestine”. Saat itu, warga Gaza memang tengah digempur  arsenal Zionis Israel.

Gara-gara selebrasi itu, wasit mengkartu kuning Kanoute. Federasi Sepak Bola Spanyol (REF) juga mendendanya 3000 euro atau sekitar Rp 45 juta. Tapi, Kanoute sudah siap mengambil resiko. ”Itu sesuatu yang saya rasa harus saya lakukan. Setiap orang seharusnya merasa bertanggung jawab saat menyaksikan ada suatu situasi yang sangat tidak adil itu. Saya merasa 100 persen bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan saya tidak takut atas sanksi itu,” tuturnya kepada televisi swasta Telecinco.

Sikap membela Palestina juga ditunjukkan banyak pemain dan ex bintang lapangan hijau non-Muslim seperti Eric Cantona (ex Manchaster United), Maradona (Argentina), Pep Guardiola (pelatih Bayern Munchen), dan Christiano Ronaldo (Real Madrid). Pep Guardiola, sewaktu masih mengasuh Barcelona, menyatakan hukuman terhadap Frederic Kanoute tadi, tidak sepantasnya diberikan.

Sebab, sikap Kanoute mewakili aspirasi kemanusiaan universal.  Christiano Ronaldo, bintang asal Portugal, memberikan sepatu emasnya kepada lembaga amal klubnya dalam rangka membantu anak-anak Palestina.

Dalam lelang, sepatu emas itu laku 1,4 juta euro. Sebelumnya, saat masih di Manchester United, Inggris, dalam sebuah acara Ronaldo sengaja mengenakan kafiyeh Palestina. Akibatnya, ia dikecam habis oleh kekuatan lobi-lobi Zionis. Media massa Inggris menyebut aksi Ronaldo itu sebagai bentuk kepedulian dan solidaritasnya terhadap krisis Palestina dan warga Jalur Gaza.  

“Rasialisme, hak asasi manusia, dan hukum internasional tentang pelanggaran tindak kekerasan setiap hari muncul di negara tersebut. Ini saat yang tepat mengakhiri kekebalan hukum Israel dan memaksa untuk melakukan standardisasi kesamaan hak, keadilan, dan menghormati hukum internasional yang juga telah dilaksanakan oleh negara lainnya,” tulis Eric The King, sebutan Cantona, dalam suratnya kepada Presiden UEFA Michel Platini guna memprotes keputusan UEFA yang menjadikan Israel tuan rumah Euro U-21 tahun 2013.

“Kami, para pesepakbola Eropa, mengungkapkan rasa solidaritas kami untuk rakyat Gaza, yang hidup di bawah ancaman perang dengan harga diri dan kebebasan mereka sebagai manusia telah dikesampingkan,” tulis Kanoute di situs blog-nya, Jumat (30/11/2012) menyoal penunjukan itu. Soal Le Quenelle sendiri, tergantung penafsiran siapa.

Le Quenelle, arti harfiahnya ‘pangsit ikan’. Sedangkan menurut Kamus Arti Nama Anak, Quenelle menunjukkan karakter: ‘pemimpin yang kuat. menarik. penuh semangat, mudah beradaptasi. tidak dibuat-buat dan unik. penuh gairah. memiliki kemampuan berbicara yang baik. sering bepergian. menyukai petualangan dan hiburan.’ Kaum Yahudi mengklaim ekspresi yang dipopulerkan komedian Prancis Dieudonne Mbala Mbala itu sebagai simbol jawaban salam Nazi yang anti-semit. Namun menurut referensi sejarah, Le Quenelle justru mirip dengan gerakan The Sign of Hidden Hand atau The Sign of Devil’s Claw, yang merupakan bagian dari politik simbol gerakan Zionis Freemasonry.

Penzaliman terhadap Nicolas Anelka, menunjukkan kuatnya cengkeraman pengaruh (proxy) Yahudi terhadap Eropa hingga ke lapangan hijau. Tapi, seperti pernah dikatakan Mahathir Mohammad, proxy Yahudi bisa dikalahkan asalkan ada kemauan dan kekuatan sebuah negara.

Yup, tingkah Yahudi yang menguasai dunia udah saatnya dapat lawan yang seimbang. Dan hanya Islam dengan kekuatan negara dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah yang bakal menundukkan kecongkakan Yahudi. Saatnya umat bersatu dan bergerak mengembalikan kejayaan Islam![]