drise-online.com – Positif! Test pack itu nunjukkin dua garis. Buat pasangan suami istri yang sangat merindukan sang buah hati, tentu hasil positif ini sebuah berkah. Tapi bagi pasangan ilegal alias pacaran, hasil positif ini bisa berarti masalah. Tekdung alias kehamilan yang tidak dikehendaki bukan kejadian yang dinanti. Oh tidaak..!!!

Panik tujuh turunan pastinya dialami remaja yang pacarannya kebablasan terus kedapetan hamil diluar nikah. Secara gitu lho status masih siswi, tapi kelakuan udah kaya suami istri. Udah dibilangin jangan pacaran, masih ngeyel bemesraan sama pujaan hati. Giliran udah berbadan dua, cowoknya gak mau tanggung jawab atau malah lari. Remaja jadi lupa diri hadapi situasi yang diluar kendali. Aborsi pun dijabanin untuk nutupin aib, meski tak sesuai dengan suara hati nurani. Padahal aborsi bisa mengancam masa depannya atau bahkan kehilangan nyawa. Seperti yang pernah dialami oleh Tia Setiawati (19 tahun), warga Desa Leuwibudah, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, yang meninggal dunia sekitar September 2010 lalu usai melakukan aborsi. Miris.

Gaya hidup aborsi sudah seharusnya diperangi. Biar bangsa ini nggak kehilangan generasi. Terutama remaja yang terhanyut dalam perilaku gaul bebas yang bikin miris hati. Mau enaknya, tapi gak mau anaknya. Cupu!

 

Aborsi Dilegalisasi, Bikin Sakit Hati!

Masyarakat Indonesia kecolongan. Bukan dalam urusan sumber daya alam yang diangkut investor asing kaya tambang emas di freeport. Itu mah udah dari dulu kelees..! Kali ini kecolongannya terkait pengesahan peraturan yang pro aborsi oleh pemerintah SBY. Saat masyarakat  terhanyut dalam euforia menanti calon presiden terpilih, secara diam-diam pada tanggal 21 Juli 2014 lalu SBY telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.

Kontroversi  timbul karena pasal 31 ayat (2) PP Nomo 61 tahun 2014 mengatur kebolehan aborsi bagi perempuan hamil yang diindikasikan memiliki kedaruratan medis dan atau hamil akibat perkosaan, sesuai materi pasal 75 ayat (1) UU Kesehatan.  Penjelasannya, indikasi kedaruratan medis meliputi kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu dan/atau janin, termasuk yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.  Sedangkan aborsi akibat perkosaan dibolehkan dengan alasan dapat menimbulkan trauma psikologis bagi korban.

Kalo dilihat sepintas, PP pro aborsi ini sepertinya gak masalah. Tapi kalo diliatnya dua, tiga bahkan sepuluh pintas, bakal semakin jelas cacatnya. Terutama pasal yang melegalisasi aborsi. Apapun alasannya, legalisasi aborsi bisa dijadiin modus oleh aktivis seks bebas untuk menutupi aibnya. Seolah mereka punya payung hukum untuk melindungi perilaku bejatnya. Lantaran, bukti perkosaan bukan hitam di atas putih. Aparat bisa dikibulin. Ngakunya perkosaan padahal hasil perzinaan. Bukannya menekan angka aborsi, malah memfasilitasi. Berabe!

Padahal udah banyak yang jadi korban aborsi. Pada sebuah seminar yang dilakukan BKKBN dan Pusat Unggulan Asuhan Terpadu Kesehatan Ibu dan Bayi (PU-ATKIB), Universitas Indonesia pada 9 Agustus 2014, Direktur PU-ATKIB, Prof Biran Affandi SpOG (K), FAMM menyajikan data sekitar 2,1-2,4 juta perempuan setiap tahun diperkirakan melakukan aborsi, 30 persen di antaranya remaja!

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, dr Julianto Witjaksono SpOG, KFER, MGO juga mengungkapkan sebuah realitas yang cukup mengejutkan.  Sekitar 46 persen remaja berusia 15-19 tahun belum menikah sudah berhubungan seksual.   Realitas itu dikuatkan oleh penilaian Ketua PB GRI Dr Sulistyo MPd yang mengatakan, “… usia aktivitas seksual remaja makin menurun dari SMA ke SMP. Anak usia SD di beberapa daerah juga mulai ada tanda-tanda aktivitas seks.” Bahkan dari data Riskesdas 2010 disebutkan, 0,5 persen perempuan dan 0,1 persen laki-laki pertama kali berhubungan seksual di usia 8 tahun!  (bkkbn, 9/8/2014).

Kalo berdasarkan data BKKBN, setiap tahun terjadi 2,4 juta jiwa tindakan aborsi berarti sekitar 2 juta per bulan atau 500 ribu per minggu atau 7.000 janin dibutuh setiap harinya. Ini sih sama dengan aksi genocide alias penghapusan generasi. Masya Allah!

Akibat kemunculan PP Pro aborsi bukan hanya penghapusan generasi. Tapi juga masalah sosial yang memicu pelaku seks bebas bin kumpul kebo. Mereka bisa bebas menyalurkan hasrat biologisnya tanpa khawatir tekdung. Kalo kebablasan, tinggal datang ke klinik ajukan permintaan aborsi dengan alasan perkosaan. Beres!

Kalo seks bebas makin beringas, penyakit sosial lain bakal tumbuh subur selain aborsi. Mulai dari prostitusi karena remaji udah ngerasa nggak suci lagi atau ketagihan perilaku hewani, penyakit menular seksual, hingga penyebaran wabah AIDS. Rasul saw udah ngingetin kita, “Jika perzinahan dan riba sudah merajalela di suatu negeri maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan adzab Allah atas mereka.” (HR. al-Thabrani & al-Hakim)

Udah jelas-jelas aborsi itu perilaku tak terpuji. Eh malah dilegalisasi. Sakitnya tuh di sini..! *tepuk dada

 

Atasi Aborsi, Jangan Setengah Hati

Pemerintah memang baik pengen melindungi kesehatan reproduksi kaum hawa. Tapi bukan dengan melegalisasi aborsi caranya. Karena bukan itu inti masalahnya. Legalisasi aborsi cuman upaya atasi akibatnya aja. Tapi penyebabnya yang berupa pergaulan bebas malah dibiarin dan justru dipelihara. Bila kasus aborsi tak ingin terus meroket angkanya, tentu harus ada penyelesaian total. Jangan setengah-setengah!

Maraknya tindakan aborsi ilegal yang dilakoni generasi muda nggak datang tiba-tiba. Tapi efek dari gaya hidup seks bebas yang kian merajalela. Awalnya pacaran, lalu jalan berduaan, lanjut bermesraan, sampe akhirnya tidur barengan. Gaya pacaran remaja milenum memang makin menyeramkan. Tak sekedar ekspresi cinta, tapi sudah menjadi sarana pemenuhan hasrat biologi ilegal. Persis kaya tingkah hewan.

Makanya kalo emang bener negara mau serius menjaga kesehatan reproduksi perempuan, cegah kondisi yang memicu masalahnya. Mulai dari budaya pacaran terutama dikalangan remaja, praktik paramedis yang jual jasa aborsi ilegal, sangsi bagi pelaku aborsi, hingga bisnis pornografi dan pornoaksi pemicu tindakan pemerkosaan.

Masalah aborsi nggak bisa diatasi setengah hati. Karena hasilnya cuman bikin illfil. Sakit hati ngeliat benih-benih generasi dengan sadis dihabisi sebelum mereka ngeliat bumi. Semuanya terjadi akibat aturan sekuler yang dipake buat ngatur negeri ini . Dari mulai pendidikan hingga siaran televisi. Steril dari aturan agama malah menyuburkan pahama liberalisasi. Masyarakat dan remaja digiring untuk hidup bebas berekspresi. Akhirnya, hawa nafsu dijadikan Tuhan. Kehidupan masyarakat tak ubahnya seperti keseharian hewan. Allah swt mengingatkan,

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”(Surat Al-Furqon 43-44)

Kalo pemerintah serius mau beresin masalah aborsi, segera singkirkan sekulerisme dari pijakan dalam membuat aturan negara. Ganti dengan syariah Islam yang jelas-jelas menyelamatkan. Tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Agar keberkahan menaungi masyarakat dan menjauhkan kita semua dari gaya hidup penuh maksiat. Yes!

 

Selamatkan Generasi Dari Bahaya Aborsi

Solusi yang ditawarkan Islam emang jos gandos dalam mengatasi masalah manusia. Nggak setengah-setengah. Karena yang setengah-setengah biasanya kualitas ‘kw’. Kalo solusi Islam pasti kualitasnya original dan beresin masalah sampai tuntas. Berikut beberapa hal yang mesti dibenahi untuk atasi aborsi.

         Pertama, memperbaiki pola pikir dan pola sikap remaja dan masyarakat. Mereka harus memahami bahwa Islam dipelajari untuk diamalkan, bukan sekadar teori. Syariah Islam nggak cuman ibadah, tapi juga mencakup pola pergaulan hingga pemerintahan.

         Kedua, meningkatkan pengawasan sosial bagi remaja dan masyarakat. Sudah saatnya diberlakukan aturan yang ketat dan keras dalam masalah pergaulan. Coba pemerintah dan aparat keamanan bersikap tegas dengan menyetop mereka yang doyan pacaran, mojok, apalagi sampai berani melakukan z-i-n-a.

Memang sih nggak ada remaja yang berani berzina terang-terangan. Biasanya mereka yang check in di hotel melati atau losmen dengan tarif short-time. Malah ada juga yang menjadikan warnet tertutup sebagai tempat mesum. Makanya aparat mesti rajin-rajin adakan razia hotel melati, losmen, atau warnet yang berpeluang dijadikan tempat mesum. Kalau terbukti ada unsur kesengajaan, tutup saja tempat mesum itu dan seret pemiliknya ke pengadilan.Termasuk menutup tempat-tempat yang rawan terjadi kemaksiatan; diskotek, bar, dan sebagainya. Juga membreidel media-media yang “menjalankan” pornografi.

         Ketiga, memberikan sanksi yang berat untuk pelaku zina dan aborsi. Mereka yang bergaul bebas itu sebenarnya adalah pelaku tindak kriminal yang layak diganjar hukuman berat. Apalagi kalau nekat sampai berzina. Dalam Islam, sanksi berat bagi para pelaku zina sudah menanti. Yakni, dijilid bagi yang lajang, atau dirajam sampai mati bagi yang sudah menikah. Dijamin kapok tujuh turunan.

Untuk kasus aborsi, Islam juga memberikan sanksi yang tidak ringan, yang dijamin akan membuat kapok pelakunya. Abu Hurairah R.A meriwayatkan bahwa Rasulullah S.A.W memutuskan (hukuman) dalam perkara janin milik seseorang wanita dari Bani Lihyan yang mati (janinnya) dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau wanita.

Persoalannya, bagaimana kalau tidak ada budak wanita atau laki-laki? Ibnu Abi Asim meriwayatkan satu hadist bahwa Rasulullah S.A.W memerintahkan pengganti hamba sahaya (pria/wanita) dengan 10 ekor unta atau sama dengan 1/10 diyat orang sempurna.

Driser, kalau para remaja juga terikat dalam aturan-aturan Islam, insya Allah tidak akan terjadi kasus aborsi yang memalukan dan bergelimang dosa. Karena itu penting bagi remaja untuk selalu tune in dengan Islam. Agar perilakunya bisa dijaga dan nggak tergoda gaya hidup hedonis yang menuhankan hawa nafsu. Mari kenali Islam lebih dalam. Ikuti pengajian dan jauhi budaya pacaran. #YukNgaji! [@Hafidz341]

 

BOX:

Aborsi, Rugi Dunia Akhirat

Driser, tindakan aborsi terutama yang ilegal memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan dari perempuan itu sendiri.Berikut ini resiko aborsi:

  1. Kematian karena terlalu banyak pendarahan
  2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
  3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
  4. Sobeknya rahim (Uterine Perforation)
  5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
  6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
  7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
  8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
  9. Kanker hati (Liver Cancer)
  10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
  11. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
  12. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
  13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
  14. Infeksi alat reproduksi karena melakukan kuretase (secara medis) yang dilakukan secara tak steril. Hal ini membuat remaja mengalami kemandulan dikemudian hari setelah menikah.
  15. Pendarahan sehingga remaja dapat mengalami shock akibat pendarahan dan gangguan neurologist. Selain itu pendarahan juga dapat mengakibatkan kematian ibu maupun anak atau keduanya.
  16. Resiko terjadinya reptur uterus atau robeknya rahim lebih besar dan menipisnya dinding rahim akibat kuretase. Kemandulan oleh karena robeknya rahim, resiko infeksi, resiko shock sampai resiko kematian ibu dan anak yang dikandungnya.
  17. Terjadinya fistula genital traumatis adalah suatu saluran atau hubungan antara genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan yang secara normal tidak ada.

Masih mau aborsi? Mikiir…!! []

di muat di Majalah Drise Edisi #40