OLEH MUHAMAD MULKI MULYADI NOOR

Sore itu langit tampak kemerahan,  bagai semburan api yang merata  Sdilangit. Matahari mulai beristirahat  diperaduannya, setelah seharian  menyinari bumi. Waktu menunjukkan  setengah lima sore, kutarik nafas dalam  dalam. Sore ini aku, seperti biasa tengah  duduk di depan kosan sambil memandang  langit ciptaan tuhan yang kemerahan itu.  Pikiranku beradu, sulit untuk  diterjemahkan, gelisah tak terkira.

Tak  tahu lah kenapa, yang penting saat ini aku  lagi risau yang tak ada sebabnya.  Sudah  dua hari ini pikiranku tak tenang  setelah  hampir sebulan aku dijakarta, berniat  menuntut ilmu dari kampung halaman,  mencari pengalaman dan hakikat  kehidupan. Tapi Mata ini terus saja  menerawang seolah ingin menembus  langit.  Tiba tiba aku merasa tersihir, kata  kata yang ku ikrarkan tempo hari harus  kucapai.

Setidaknya mendekati  pencapaian tersebut , bisakah aku  mencapainya dengan keadaanku saat ini.  Tentu saja tidak, ini baru permulaan, baru  awal. Baru ancang ancang yang  melangkah saja pun belum. Saat ini pun  aku belum kuliah, masih menunggu saat  pendaftaran mahasiswa baru di perguruan  tinggi yang kudambakan sejak masih di  madrasah.

Yaitu lembaga pendidikan islam  dan arab LIPIA. Tapi kenapa perasaanku  terasa tidak enak akhir akhir ini.  Aku ingin lebih, lebih dari ini.  Menuntut ilmu lebih jauh lagi, berkelana  ke berbagai penjuru dunia. Padang sahara  di afrika, padang es di alaska, menyusuri  kota kota bergaya abad pertengahan di  turkey, persia, prancis, spanyol, india.  Benyebrangi sungai-sungai eksotik di  china, menikmati panorama yang indah di  australia, berkunjung ke pulau-pulau di  samudra pasifik yang luas. Ah… impian  yang terlalu tinggi, serasa menyesakkan.

Buktinya, aku masih harus duduk disini,  dikosan yang sempit ini. Melamun dan  tidak melakukan apa apa. Hanya mampu  menatap langit merah jakarta yang  berpolusi, tercemar oleh tangan-tangan  anak bangsa perusak warisan penjajah  belanda. Tapi menurutku, penjajah  belanda masih lebih baik dari bangsa yang  dijajahnya, minimal lebih baik dalam satu  hal. Kebersihan.  Dikatakan bahwa djakarta zaman  penjajahan lebih bersih seribu kali lipat  daripada ketika zaman republik. Bukti  bahwa bangsa ini masih harus banyak  belajar soal kebersihan.

Aku kembali menerawang, pikiran  pikiran bebeda datang silih berganti, mulai  dari keluarga dirumah, sampai masalah  bangsa yang sulit terpecahkan. Kadang  kuberfikir, apa sih masalahmu para anak  bangsa, sampai tega merusak tanahmu  sendiri, demi keuntungan sesaat yang  merugikan. Aku bosan, bosan dengan  pemandangan kota-kota di negeriku sendiri,  bosan dengan sampah yang berserakan, tata  kota yang tidak teratur dan tak rapi.

Keterbelakangan dan kemiskinan yang  merata diseluruh penjuru negeri. Bukti  ketidakbecusan para pemimpin.  Kuingin belajar dengan bangsa bangsa  lain yang lebih maju, belajar tata kehidupan  mereka, keteraturan, cara pandang mereka  terhadap lingkungan. Dan bagaimana para  pemimpin mereka mampu dan dapat  mensejahterakan rakyat mereka.

Dan ketika  aku menjadi pemimpin suatu hari nanti, aku  dapat menularkan ilmuku. Lalu berharap  dapat membuat negeri ini lebih sejahtera  dan makmur. Gemah ripah loh jinawi,  baldatun toyyibatun wa Robbun ghofur…  sekali lagi kutersadar dari lamunanku, kali ini  aku mendengar suara adzan berkumandang.  Ternyata waktu telah menunjukkan pukul  enam tepat.

Saatnya menunaikan  kebutuhanku terhadap Robbku, semoga  dengan terus beribadah, bertaqorrub, serta  berikhtiar. Ia akan mengabulkan cita citaku  suatu hari nanti. Amin. Sepulang shalat aku ingin membaca  alqur’an, itu menenangkan hati dan pikiranku  yang sedang kacau ini. Ayat demi ayat kubaca  dengan seksama serta penuh penghayatan.

Lembar demi lembar kutartilkan, kadang  kuberhenti membaca. Mencoba meresapi  kandungan di dalam ayat ayatnya dan tak  terasa aku pun terhanyut dalam lamunan di  tengah samudra kalam ilahi yang tak bertepi.  Satu jam berlalu. Mataku terasa lemah dan  berat. Perlahan lahan kututup lembaran  alqur’an suci dan kusimpan di atas meja.

Ngantuk pun tak tertahankan, akhirnya. Aku  ambruk di atas sajadah tempatku shalat. Satu  kata, sungguh nikmat. Akhirnya setelah beberapa minggu hari  pendaftaran LIPIA yang kutunggu-tunggu  telah datang, aku pun sibuk mengutak atik  ingatanku akan pelajaran yang ku terima dari  madrasah dulu, terutama bahasa arab.  Nahwu, sharaf dan balaghoh. Buku-buku aku  pinjam dari temanku karena aku tidak  membawa satu pun buku dari kampung,  ijazah ku persiapkan dengan semua  persyaratan yang ada dan kusatukan  dalam map.

Hari itu aku bersama  beberapa teman datang ke kampus,  ternyata sudah banyak orang yang  mendaftar, jumlahnya sekitar dua ratusan  orang. Mereka menyemut di depan  kampus mengantri panggilan dari bagian  administrasi. Kami terlambat pikirku,  pertanda buruk pertama.  Dan singkatnya setelah antrian  panjang yang melelahkan, aku  menyerahkan persyaratan yang diminta.  Pertugas administrasi menatapku dengan  mata mengejek, aku jadi gugup sendiri.   Setelah memeriksa berkas berkasku, Dia  pun berkata kata dalam bahasa arab yang  tak mampu aku tangkap, lantaran  cepatnya. Aku berusaha sedapat mungkin  mencerna ucapannya, dan mungkin  setelah ia yakin aku tak dapat mengerti  ucapannya.

Dengan gaya yang di buat buat  Akhirnya ia mengucapkan kata-kata dalam  bahasa indonesia namun langsung  mengagetkanku. Maaf anda tidak bisa  kami terima untuk test disini. Katanya sok,  sambil membetulkan kacamatanya.  Ia sepenuhnya menguasaiku.  Pertanda buruk kedua, pikirku lagi.  “Tap, tapi kenapa pak?”, tanyaku  tergagap.  Nilai rata rata anda tidak mencukupi  untuk test di sini. Mataku membelalak.  “Tapi pak saya datang dari jauh,  tolonglah pak beri saya kesempatan untuk  test. Agar saya tidak pulang kampung  dengan tangan hampa pak, setidaknya  ikutkan saya test.” Kataku mantap. Dia  mendehem kecil lalu berbisik bisik dengan  teman disampingnya agak lama. Tak  terasa kakiku bergetar saking tegangnya.

Lalu ia pun bersuara dengan mengambil  posisi yang dramatis. Orang ini sok, kataku  dalam hati.  “Sebenarnya anda tidak bisa  diterima untuk test, tapi untuk kali ini  boleh lah.” Ia tersenyum.  “Yah, ikutlah” Katanya lagi. Ia  memberiku selembar kartu ujian disertai  foto. Aku pun bernafas lega. Tapi Sial, aku  dikerjain. Pikirku sambil mengambil kartu  dari tangannya. Pertanda buruk ke ke tiga. Keesokan harinya aku pun datang untuk menjalani test.

Testnya kujawab dengan lancar dan tanpa kesulitan yang  berarti, bahkan aku pula yang paling pertama mengumpulkan  diantara sekian banyak pendaftar lainnya. Aku kelihatan  mantap, tapi hatiku ragu, akankah aku di terima. Aku pun  meninggalkan ruang test dengan perasaan yang galau. Pagi pagi benar temanku itu datang, ia membawa kabar  baru dari website yang ia baca kemarin. Ahmad, begitu aku  memanggilnya.

Ia datang tergopoh gopoh bak orang  kesetanan. Wajahnya girang luar biasa. Ada apa Ahmad,  tanyaku. Ahmad tersenyum seraya menyodorkan beberapa  lembar kertas berisi pengumuman sekaligus formulir  pendaftaran. Mataku menyipit membaca tulisan di atas kertas  itu, disana tertera pendaftaran beasiswa universitas Al-azhar  kairo. Mataku membelalak. Aku tak percaya lamunanku  beberapa hari yang lalu dijawab kontan oleh Allah, ini dia  jalannya. Kataku dalam hati.  ”Kapan nih pendaftarannya mad”. Kataku menoleh  kepadanya. Ia tersenyum makin lebar. Cepetan siap siap, kita  ke kemenag sekarang. Apa, tanyaku kurang paham. Ngapain  ke kemenag.

Ayolah cepat, katanya menarik tanganku. Tanpa  banyak cincong aku langsung mandi dan berpakaian. Dalam  setengah jam aku sudah siap meluncur. Sekarang aku paham.  Pendaftaran beasiswa itu baru dibuka dua hari di Kementrian  Agama. Kami harus segera kesana selagi ada kesempatan.  Sudan, pikirku. Apakah negara berpenduduk miskin ini  adalah jalan untukku ke luar negeri, apakah orang tuaku akan  mengizinkanku. Ah sudahlah, yang penting daftar dulu nanti  baru informasi ketika sudah diterima. Sip aku suka ide itu, toh  kalau aku tidak lolos test, aku tak perlu bilang apa apa. Kami  berdua dengan semangat segera meloncat kedalam  metromini yang akan membawa kami ke Kementrian Agama.  Hampir satu jam berlalu karena macet, aku dan Ahmad segera  menuju ke lantai delapan. Bagian urusan luar negeri.

Pak  qosim yang sedang bertugas menyambut kami dengan  senyum mengembang.  “Mau daftar beasiswa sudan ya?” Sambutnya riang.  Kami mengangguk bersamaan. Lalu kami di persilahkan duduk  untuk mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan berkas  yang diperlukan. Aku mengisi dengan cepat, Ahmad juga.  Entah karena terlalu bersemangat atau bagaimana, Ahmad  salah menulis sampai tiga kali dan terpaksa harus mengganti  kertas. Aku mencibirnya agar lebih berhati hati. Setelah  mengisi formulir dan menyelesaikan semua prosedur yang  berlaku. Kami pun pamit mohon diri.

Semoga sukses ya adik-adik, testnya akan diadakan pada akhir bulan, Jadi jangan  sampai lupa. Kata pak qosim sambil menyalami kami, ia juga  mengingatkan bahwa pesaing kami banyak maka kami  diharapkan dapat belajar untuk bisa lolos test ini. Kami berdua  hanya bisa mengangguk dan berkali kali mengucapkan insha  Allah. Sepulang dari Kementrian Agama, sensasi yang  kudapatkan pagi tadi saat membaca pendaftaran beasiswa  sudan belum juga sirna, sensasi tegang, semangat, dan sedikit  rasa takut. Lalu rasa syukur tentunya, masih jua kurasakan.  Apalagi Ahmad, ia yang paling bersemangat dalam hal ini.

Ke  Mesir adalah impiannya sejak dulu, sejak masih di madrasah.  Kali ini ia mendapat kesempatan, aku yakin ia akan belajar  lebih keras. Mesir yang eksotic, Mesir yang menawan, Mesir  yang menawarkan sejuta keindahan. Sejuta ilmu dari ulama-ulama kelas dunia yang menggenggam sunnah dengan gigi-gigi geraham mereka.  Al-azhar syarif yang telah berabad-abad berdiri kokoh  ditengah pergantian kekuasaan dan politik menjadi simbol  kekuatan agama islam yang tidak akan pernah lekang dimakan  zaman.

Tujuan utama bagi para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Namun kini rasa gelisahku bertambah, aku datang  ke jakarta ingin mendaftar ke lembaga ilmu pengetahuan islam  dan arab. Tapi sampai saat ini aku masih menunggu pengumuman  hasil test untuk semester ganjil tahun ini, masih menunggu. Dalam  hati aku terus berdoa, ya Robb pilihkan hamba jalan yang terbaik,  kuatkan hamba. Amin.

****

Hari berlalu dengan cepat, akhirnya kabar buruk itu datang.  Namaku tidak tertera di papan pengumuman, aku terus mencari  dengan sia-sia. Air mataku meleleh membasahi pipi, aku  tertunduk lesu tak bergairah. Ahmad berusaha menghiburku  berkali kali namun tak berhasil. Aku seperti orang stress, linglung  dan tak berdaya. Apalagi yang kuharapkan, sia-sia lah semua  impianku. Semua cita-cita ku. aku hanya bisa meratapi nasib  dalam diam ditemani Ahmad yang juga diam seribu kata. Tapi  siang itu Ahmad mendatangi kost ku dan mendapatiku sedang  tidur berselimut.

“Hey bro, jangan sedih gitu dong. Cepet bangun dan belajar,  minggu depan kita ada test. Kamu tidak mau pulang kampung  dengan tangan hampa kan?” Katanya riang. Aku seperti tersengat  mendengar kata-katanya barusan.  “Apa mad, test apa?” tanyaku bingung. Kusingkap selimut  yang menutupi badanku, aku penasaran. Ahmad memperlihatkan  selembar kertas yang bertuliskan tanggal dan tempat test Mesir  yang aku tunggu-tunggu. Aku seperti tak percaya, aku seperti  mendapatkan cahaya lagi, semangat baru untuk terus melaju dan  menggapai impian. Mungkinkah ini adalah takdirku, untuk  mendapatkan yang lebih baik dalam hidup. Sepertinya doaku tidak  sia-sia. Akhirnya aku bangkit  dengan wajah cerah.

“Ayo belajar”. Kataku, Ahmad hanya menatapku dengan  senyum gembira. Ternyata kesuksesan itu tidak datang dengan sendirinya,  melainkan ia butuh pengorbanan dan perjuangan keras penuh lika  liku dan sandungan. Butuh lebih banyak doa ekstra dan tirakat.  Begitu pula dengan mimpi dan cita-cita. Tak hanya di raih dengan  berdiam diri dan menatap kosong. Aku ingin keliling dunia, itulah  cita-citaku, itulah mimpiku.

Tapi aku tak tahu bagaimana cara  memulainya. Tapi aku percaya seseorang yang bermimpi mestilah  harus dekat-dekat dengan apa yang ia impikan, sehingga ia  mendapatkan apa yang ia impikan.  Hari ini aku berada diruangan kelas di salah satu SMA model  di jakarta. Bukan untuk kembali belajar sebagai murid SMA, tapi  untuk menjalani test beasiswa Al-azhar Mesir. Luar biasa, ini  impianku. berhari hari aku belajar, kudekati impianku sedekat  mungkin.

Dan kuyakin bahwa pertolongan Allah pasti ada, Allah  pasti menjawab doa orang-orang yang meminta kepadaNya.  lembar soal pun telah dibagikan, aku menatap soal itu satu  persatu dan ku jawab. Pena ku serasa berjalan sendiri saat  menjawab. Lancar dan halus, laju tapi pasti.

Setelah test tertulis  dilanjutkan dengan test lisan, entah apa dan bagaimana tiba-tiba  saja aku merasa gugup. Tapi aku terus memompa dan memotivasi  diriku sendiri. Aku tak ingin kalah seperti aku kalah dalam test  LIPIA sebelumnya. Langkahku mantap, jawabanku pun mantap.  Ayat-ayat suci yang kuhafal sebelumnya terasa melekat di  benakku, pertanda baik kurasa. Pertanyaan sang syeikh habis  kubabat, sang syeikh hitam sehitam bilal bin rabbah itu pun  tersenyum memperlihatkan giginya yang seputih es. Pertanda baik  kedua.

Aku pun pulang ke kosan dengan hati tenang, ku ambil air  wudhu. Ku basuh seluruh anggota badanku. Aku ingin shalat, aku  ingin menumpahkan segala kesyukuranku kepada Sang Khalik.  Meskipun belum tentu aku diterima dalam test ini, aku masih  harus bersyukur karena Allah masih memberiku semangat untuk  terus belajar, semangat untuk terus menggapai mimpi dan cita-cita.

Aku memang harus bangkit. Gagalnya aku dalam test sebelumnya memberi pelajaran baru bagiku bahwa tidak semua  orang dapat menggapai cita-citanya secara instan dan cepat. Ia  harus dimulai dengan proses.  Ibarat bayi yang baru lahir, ia harus mengalami proses yang  panjang sampai akhirnya bisa berjalan. Tak jarang sang bayi terus  gagal ditengah usahanya dan berkali-kali terjatuh, namun ia terus  berusaha semaksimal mungkin sampai akhirnya Allah yang maha  pemurah memberikan jalan kepadanya, mengabulkan doanya,  tidak menyia-nyiakan usahanya. Akhirnya sang bayi yang cepat  belajar mulai bisa melakukan banyak hal.

Dan karena kemurahan  Allah pun sang bayi dapat tumbuh besar dan cukup kuat untuk  meraih mimpi barunya. Angan terindah untuk menggapai surga  ilahi yang tinggi.  “Ya Robb, hambaMu ini lemah maka kuatkanlah hamba.  hambaMu ini fakir maka kayakanlah hamba. Ya Robb, Jadikanlah  hamba selalu bersyukur atas segala anugerah yang Engkau berikan  kepada hamba, dari hamba kecil sampai pada sekarang ini. Dan  jadikanlah hamba selalu bersabar atas segala musibah dariMu,  yang hamba tak kuat untuk menanggungnya. Amin.” Waktu adalah relatif. Setidaknya itulah teori Einstein yang  kutahu. Waktu adalah tergantung orang yang memanfaatkan  waktu itu.

Terasa lama bagi yang menunggu-nunggu. Terasa cepat  bagi yang menikmati. Tak terasa beberapa minggu berlalu, aku  bersiap-siap melaksanakan plan B yang sudah ku rencanakan jauh-jauh hari bila aku tidak lulus test ini. Aku tidak akan putus asa, aku  tidak akan menyesal, aku akan tetap bersemangat menuntut ilmu  walaupun di kampung halaman sendiri. Setidaknya aku masih bisa  keliling dunia dengan cara yang lain, dengan cara yang di tentukan  Allah, bukan dengan cara yang ditentukan manusia. Manusia  hanya berusaha, Allah lah yang mengabulkan.

Koper pun sudah di pack. Aku sudah siap pulang ke  kampung halaman bila namaku tidak tertera dalam daftar. Aku  pun sudah menghubungi seorang teman yang akan mengurusi  tiket kepulanganku nanti. Aku orang yang gagal untuk sementara  waktu, tapi lain waktu aku akan bangkit dan menunjukkan kepada  dunia siapa aku sebenarnya. Itulah tekadku. Tapi aku masih  berharap banyak akan lulus, maka setelah shalat dhuha aku  bersama Ahmad berangkat ke warnet untuk melihat hasil  pengumuman. Tiba-tiba di perjalanan aku teringat pengemis tua  itu, seorang nenek renta yang menggigil di sebuah gubuk di  pinggir jalan saat hujan deras mengguyur jakarta hampir sebulan  lalu. Aku tiba-tiba teringat doa nenek itu lalu tanpa sadar aku  melamun.

Waktu itu selepas shalat dhuhur. masih saja seperti ini tiap  harinya, gerutuku dalam hati. Bengong dan melamun sudah  seperti sahabat karib. Bedanya adalah hari pendaftaran masuk  kampus LIPIA sudah di umumkan, yaitu mendekati akhir bulan  setelah liburan semester genap. Waktu- waku itu pun aku mulai  banyak shalat tahajjud dan puasa senin kamis. Aku berharap Allah  mengabulkan doaku dan memberiku anugerah semangat agar  tetap istiqamah. Namun hari-hari yang berlalu tak semuanya ku isi  dengan yang bermanfaat. Ada pula yang tak berguna, main-main  dan refreshing.

Setelah ashar aku berjalan jalan sore di lingkungan sekitar  kos, tanpa terasa aku telah berjalan terlalu jauh sampai tiba tiba  langit menjadi gelap dan mendung. Aku tersadar dan segera  berbalik arah, tapi sudah terlambat. Angin kencang berhembus  sangat kencang diikuti gemuruh hujan yang mendekat. Aku berlari  mencari tempat berteduh namun sialnya aku berlari di sekitar  komplek perumahan berpagar tinggi. Tak ada satu pun tempat  berteduh yang kutemui, singkat kata setelah kelelahan berlari dan  baju basah kuyup.

Barulah kutemukan sebuah gubuk kecil di ujung  jalan, kulihat seorang nenek meringkuk menggigil di pojok gubuk  dengan selimut lusuhnya, di depannya teronggok mangkuk berisi  beberapa lembar ribuan. Rupanya nenek ini seorang pengemis,  aku menatapnya iba dan tanpa sadar aku meletakkan selembar  sepuluh ribuan ke atas mangkuk. Tiba- tiba Si nenek melotot  seakan mendelik tak percaya, aku jadi ketakutan.  Kukira nenek ini akan menyerangku dengan kuku kukunya  yang tajam, hampir saja aku lari jika tidak mendengar suara si  nenek yang parau berterima kasih kepadaku.

“Makasih nak, nenek sudah dua hari belum makan”. Suara  parau si nenek terdengar bergetar. Hah, yang bener aja masa dua  hari belum makan. Kalo aku sudah teler bin kurus alias hampir  mati. Kataku dalam hati. Si nenek beringsut ingin menyentuh  kakiku sambil terus mengucapkan terima kasih. Aku reflek  menggeser kakiku dan mengamit lengannya yang kurus.  “Tidak usah berterima kasih nek, anggap saja ini rezeki dari  Allah untuk nenek”. Kataku sambil mengeluarkan uang sepuluh  ribuan lagi dari kantongku, seketika jatuh lah air mata si nenek  yang membuat aku jadi khawatir si nenek akan struk sebab  tangisannya yang ringkih.

“Sudahlah nek, bersyukur saja kepada Allah yang telah  memberikan nenek rezeki ini. Kalo nenek ingin berterima kasih  padaku. Doakan saja aku biar diberi jalan terbaik buat  kesuksesanku”. Kataku menatap si nenek yang ringkih dengan  sungguh sungguh.  “Amin” jawab si nenek kontan, “iya nak nenek doakan agar  sukses selalu dan bisa mendapatkan segala cita-cita yang nak  dambakan walau pun itu keliling dunia”. Aku terkejut, bagaimana  bisa nenek tua itu mengetahui cita-cita terpendamku itu, tapi toh  aku juga mengamininya tanpa banyak bicara.

Tak terasa hujan  yang tadinya lebat sekarang sudah menjadi gerimis tipis. Aku  pamit pada si nenek dan langsung berlari ke luar gubuk menuju ke  tempat kost ku. Dengan perasaan campur aduk, beribu  pertanyaan beradu di benakku. Aku tersadar dari lamunan setelah  dicoel oleh Ahmad.  “Woy, jalan atau ngelindur bro”, katanya mencibir sambil  terkikik.  Aku terkaget dan jadi malu sendiri ketika tanpa sadar diriku  sudah ada di teras rumah orang. Wajahku memerah karena malu,  berkali-kali aku meminta maaf kepada sang empunya rumah yang  juga tersenyum geli.

Tapi doa nenek tua itu seakan benar-benar  menyihir diriku, membuncahkan kembali semangatku, aku masih  ingat setelah itu aku makin rajin belajar dan mengkaji ilmu.  Seakan-akan Allah mengabulkan separuh doa nenek itu.  Mungkinkah kali ini doanya terijabah, kalo iya berarti nenek ini  bukan orang sembarangan. Mungkin juga orang sholeh yang  menyamar atau… atau. Belum sempat aku menyelesakan  pikiranku.

“Hey bro, jangan ngelamun mulu, entar kesambet setan”.  Kata Ahmad seraya menarikku masuk kedalam warnet. Aku Cuma  tersenyum kecut. Setelah itu kami berdua langsung membuka  situs yang melansir daftar nama-nama peserta yang lulus dalam  test beasiswa ke sudan kali ini. Aku dengan tak sabar  mengurutkan nama-nama yang tertera menggunakan jariku. Aku  sampai kepada nama Ahmad Husain al-faruqi, ya dia Ahmad  temanku, dia lulus.

Ahmad pun berhasil dengan suksesnya  membuat seisi warnet menatap aneh kepadanya ketika ia  melonjak kegirangan. Aku pun terus mengurut ke bawah dan terus  mencari namaku. Aku tersigap ketika membaca satu nama,  pikiranku langsung tertuju kepada doa nenek tua itu, doa yang  sangat membekas dalam diriku.

Air mataku terasa menetes karena  haru, aku tahu doa itu sekarang terkabul, tiada kata yang  terungkap kecuali syukur yang mendalam. Aku membaca nama  yang tertera di daftar itu…. Itu namaku, yah benar itu namaku.  NASIF AKBAR MULYADI.[]