Majalahdrise.com – Yah. Maklum. Namanya juga anak yang  bersekolah di luar. Lingkungan dengan  pergaulan bebas. Jadi … setinggi-tingginya  benteng, sekokoh-kokohnya bangunan, pasti  ada saja celah kecil yang dapat berakibat  fatal jika tidak segera ditangani dengan  sergap, tangkas dan bijak. Seperti Ramya. Anak alim yang sedikit  polos dan taat itu, baru saja naik ke kelas 2  tingkat SMA dan dia baru merasa bahwa  menahan diri dari virus merah jambu itu  memang rada terbilang susah. Gimana engga  susah coba? Kalau satu kelas atau bahkan  satu sekolah tak ada yang menyabet predikat  jomblo kecuali kamu (dari kalangan anak  cewek)?  Gimana engga susah coba kalau  harus sabar diejek anak-anak kalau kamu  engga laku dan sok ngalim. Pake bawa-bawa  alasan agama cuma untuk nutupin  ketidaklakuannya dirimu. Gimana engga  nyesek coba, kalau sejelek-jeleknya teman  cewekmu—dibanding kamu—aja juga punya  gebetan. Dan terakhir, gimana engga dongkol  coba, kalau guru-guru di sekolahmu aja kepo  dengan masalah cinta murid-muridnya dan  suka godain anak-anak yang belum punya  pacar. And last, gimana enggak bingung,  kalau kamu yang selama ini berdalil engga  pacaran karena hukum syara’ tapi ketua rohis  di skulmu aja malah pacaran.

Lantas, mau  dibawa kemana wajahmu? Wah, apalagi  kalau jadi Ramya, terasa banget deh  nyeseknya. Saat skull lagi ada acara kemah,  study tour dan lainnya, semua bakal sama  gebetannya masing-masing. Sahabat pun  sampai terlupakan. Lalu sisanya, tinggal  Ramya dipacok-pacokin dan digoda-godain  sama si lelaki jerawat batu yang cupu abis. 2  dari 3 orang cowok yang masih memilih  untuk menyandang status jomblo. Yah, gitulah sekolah luar dengan  lingkungan pergaulan rusak yang memang  sudah bobrok dari dasarnya. Yang so pasti  udah jauh banget dari nilai-nilai Islam. Jadi,  jangan heran kalau sampai anak yang paling  taat dan alim satu skulmu pun bisa sedikit  terjerumus ke dalam perkara bathil itu. Atau  malah terbenam ke dalamnya. Naudzubillah

Aku sih Ram, ya sebenarnya juga agak  anti sama yang namanya pacaran. Karena  setahuku, cowok itu … sukanya gombal, gak  setia dan tukang ngibul. Tapi …. Ada  benarnya juga sih kalau pacaran itu gak bisa  dilihat dari sebelah mata doang.

Karena,  pacaran itu sebenarnya punya banyak  dampak positifnya kok. Contohnya kayak aku  Ram. Gara-gara pacaran sama ketua rohis,  aku jadi termotivasi untuk menggunakan  hijab. Selama aku gak mau pakai hijab, Kak  Sofyan maunya kita itu backstreet-an. Tapi  kalau aku udah mau pake hijab … Aaah … Ya  gitulah Ram. You know that! I can’t talk  anymore …. This enough of excitement! I’m  happy because him! Oh God!” ujar Millie yang  lama-lama histeris sendiri ketika bercerita  dengan Ramya. “Jadi … Kamu berhijab gara-gara dia  Mil? Bukan karena kau tahu bahwa menutup  aurat itu kewajiban bagi seluruh kaum  muslimat?” Tanya Ramya hati-hati. Tapi itu  sudah cukup membuat Millie terhenti dari  aktivitas jerit-jerit menyebalkannya. Kini  menatap Ramya tajam. Agak terkejut dengan  pertanyaan yang dilontarkan Ramya rupanya.

“Jadi kamu berhijab benar-benar bukan  karena Allah? Kamu berhijab karena perintah  dia? Lantas, kamu anggap apa Ramya selama  ini Mill? Ramya sudah mengingatkan Millie  bahwa menutup aurat itu wajib baki kita  kamu wanita. Dan mengenakannya karena  iman dan keyakinan serta berlandaskan  karena rasa kecintaan dan ketoatan kita  kepada Allah itu jauh lebih penting daripada  menggunakan hijab karena orang lain!” ujar  Ramya kecewa. Millie yang sebelumnya sibuk  bercermin—melihat penampilan barunya  yang telah mengenakan hijab—kini berkaca-kaca.  “Ram, sebenarnya … Apa sih maksud  kamu ngomong kayak gitu? Kamu iri ya sama  aku yang sekarang sudah punya pacar.

Cowok yang kita berdua sama-sama sukain  lagi. Memangnya aku gak tahu kamu juga  suka sama Kak Sofyan? Tapi seharusnya  kamu mikir Ram, kamu gak berhak menyakiti  perasaaanku seperti itu. Seharusnya kamu  senang sahabatmu sudah tergerak hatinya  untuk mengenakan hijab walau belum  karena Allah! Kamu jahat Ram, jahat!!” Millie  histeris. Marah. Membanting meja lalu  meninggalkan Ramya pergi.

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49