drise-online.com – Amazing Islam kali ini akan mengangkat sebuah hikayat dikisahkan bahwa salah seorang raja Arab yang dijuluki dengan Abu Hamzah menikah dengan seorang perempuan. Sang raja sangat ingin memiliki seorang anak lelaki, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Sang istri melahirkan anak perempuan. Abu Hamzah sangat marah, sehingga ia meninggalkan istrinya dan tinggal di tempat lain. Sekitar setahun kemudian, Abu Hamzah berjalan-jalan dan tanpa sengaja melewati rumah sang istri. Ketika itu, istrinya sedang menimang anak perempuannya, sambil mengucapkan beberapa syair.

Mengapa Abu Hamzah tidak datang kepada kami,

Dia hilang dari rumah yang kami tempati.

Marah karena kami tidak melahirkan seorang anak laki-laki,

Padahal kami tidak punya kehendak dalam urusan kami.

Akan tetapi, kami hanya mengambil apa yang diberikan kepada kami,

kami bagaikan tanah, bergantung yang menanami,

kami tumbuhkan apa yang telah mereka tanam pada diri kami.

 

Abu Hamzah tertegun. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya, lalu mencium kepala istri dan anaknya. Akhirnya, timbullah rasa kasih sayang di dalam hatinya, hingga perasaan benci itu berubah menjadi cinta.

Kisah di atas adalah salah satu kisah yang menggambarkan betapa pentingnya anak laki-laki bagi bangsa Arab di zaman jahiliyah dulu. Mereka menganggap anak laki-laki lebih penting karena mereka adalah kaum yang fanatik dan gemar berperang. Kelahiran anak laki-laki adalah anugerah, sementara anak perempuan adalah musibah. Anak perempuan dianggap tidak berguna, tidak berharga, dan diperlakukan dengan semena-mena. Anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup, ditenggelamkan, disembelih, ataupun dijual. Sadiz!

Alhamdulillah, Islam kemudian datang dengan cahayanya yang menyinari seluruh dunia. Perbuatan yang menistakan perempuan pun dihilangkan. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Umar bin Khattab ra. Dia berkata bahwa Qais bin ‘Ashim datang menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, pada zaman jahiliyah, aku pernah mengubur hidup-hidup anak-anak perempuanku.”

“Merdekakanlah (sebagai ganti) setiap satu dari mereka satu budak” kata Rasulullah Saw.

“Ya Rasulullah, aku punya banyak unta,” lanjut Qais.

“Sembelihlah (sebagai ganti) setiap satu dari mereka satu unta,” jawab Rasulullah Saw.

Begitu Islam datang, perempuan dikembalikan ke kedudukannya yang mulia. Kehadiran Islam telah menghancurkan kekufuran, kebodohan, dan kekejaman yang dilakukan terhadap perempuan. Hak-hak perempuan yang hilang dikembalikan pada tempatnya, dan mereka memperoleh kemuliaan yang tidak bisa didapatkan di tempat lainnya.

Mari kita perhatikan perbuatan Ummul Mukminun Aisyah ra. berikut ini.

“Datang kepadaku seorang wanita miskin dengan kedua anak perempuannya. Lalu kuberi dia tiga kurma dan dia memberikan kepada kedua anaknya masing-masing satu butir kurma. Ketika dia ingin memakan kurma yang masih tersisa, kedua anaknya memintanya, sehingga perempuan itu membagi dua kurma tersebut dan memberikannya kepada kedua anaknya. Aku sangat kagum dengan sikapnya itu. Lalu kuberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah Saw., maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mewajibkan wanita tersebut masuk surga dan membebaskannya dari api neraka.’

Kalo kita lihat di jaman sekarang saat ideologi Kapitalisme-sekular merajalela, kaum wanita diperlalukan seolah-olah seperti ‘bidadari’. Mereka didandanin sampe kayak Barbie dan digiring ikut kontes-kontes kecantikan untuk menyematkan mahkota kemuliaan di atas kepala mereka. Padahal sebenernya yang terjadi adalah sebaliknya. Kaum wanita justru direndahkan serendah-rendahnya. Kecantikan dan kemolekan tubuh mereka hanya dijadikan alat untuk menarik pelanggan dan melariskan barang dagangan. Miris!

Islam memperlakukan wanita selayaknya bidadari. Aturan Islam telah memuliakan wanita sebagaimana fitrahnya sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga. Islamlah yang paling mengerti kebaikan bagi wanita. So, berbahagialah menjadi muslimah yang taat syariah. Karena, mahkota kemuliaan bakal tersemat di atas kepalanya. Di dunia hidup berkah, di akhirat jadi penghuni jannah. Mau?[Isa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#36