Sob, kalo kamu tergolong bukan manusia MASKULIN alias   manusia kutinggalan informasi (he he…singkatan yang   Smaksa ya) pasti ngeh dengan berita yang bisa dibilang   heboh beberapa waktu yang lalu. Sebuah prestasi yang   ditorehkan anak-anak putih abu-abu. Yup, berita tentang mobil   EseMka alias mobil yang dibikin (lebih tepatnya dirakit) oleh anak-anak yang sekolah di SMK.

Apalagi setelah Walikota Solo Joko   Widodo dan Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menjadikan   mobil SUV produksi Kiat Esemka ini menjadi mobil dinas,   menggantikan mobil dinasnya Toyota Camry.  Trus, nggak cuman   itu, anak-anak putih abu-abu juga sukses bikin pesawat terbang,   dan merakit laptop. Heeum…, sebuah prestasi yang patut   diacungi empat jempol dan layak dapat gelar, LIKE THIS !  Sebenarnya cukup banyak ‘prestasi-prestasi’ anak negeri,   mulai dari juara olimpiade, sampe perlombaan iptek dan robot   tingkat nasional maupun internasional.

Tapi kayaknya prestasi itu   harus rela tertelan berita heboh, pemenang audisi, atau ajang   pencarian bakat, yang masih menempati prime time di televisi-televisi kita. Sepertinya cara pandang tentang sebuah “prestasi”   bagi masyarakat kita, masih seputar yang bersifat glamour,   sensatif, dan pastinya heboh. Lihat saja, ketika ada ajang audisi,   teman-teman kita pada bejibaku pengin mendaftar. Para orang   tuanya juga bangga banget kalo anaknya lolos audisi.

Ditambah   keluarga besar, tetangga, handai taulan sampe orang yang nggak   kenal sekalipun, ikutan heboh dengan mendukungnya via sms   premium.  Coba bayangkan, tentu akan berbeda hasilnya, andaikata   ketika mulai dari perhatian sampe duit yang dicurahkan di audisi   itu diarahkan ke prestasi-prestasi yang sifatnya lebih ilmiah,   macam mobil esemka tadi. Bisa jadi karena kurang dukungan,   kurang diperhatikan, bahkan bisa jadi karena kurang duit, mobil   esemka yang harusnya bisa jadi kebanggan prestasi anak negeri,   tapi uji emisi aja nggak lolos, sehingga harus dikaji ulang, untuk   diproduksi dalam jumlah banyak.

Soal pemberitaan di media pun antara berita prestasi anak   SMK dengan berita audisi, bisa dibilang nggak berimbang. Ya,   sekaligus ini menjadi bukti kalo media kita lebih berorientasi   materi (baca:duit). Tentu saja, karena lebih banyak disukai   masyarakat, ajang audisi itu lebih banyak mengundang sponsor   untuk beriklan di teve. Disamping memang, kita tiap hari dicekoki   (baca: dipaksa) oleh media untuk menelan berita dan hiburan   macam audisi itu. Bahkan kalo boleh bin perlu, presiden sampe   wakil rakyat pun bisa di audisi oleh media.

Padahal sadar atau nggak, pemaksaan yang dilakukan oleh   media tersebut menggiring  generasi kita kepada jurang lost   generation. Iya, secara tidak langsung berita dan hiburan tentang   audisi tersebut membawa kita kepada budaya konsumtif,   hedonistic, yang menghasilkan   manusia-penikmat bukan pencipta.   Generasi dreamers bukan players.   Coba perhatikan saja, siapa-siapa   yang bisa berprestasi di bidang   ilmiah, seperti juara olimpiade   tingkat nasional maupun   internasional? Bisa di hitung dengan jari   kan, kalo mau dibandingkan dengan generasi kita yang   lebih doyan jejingkrakan, teriak histeris, pemuja dan   pendukung pujannya di audisi atau pencarian bakat?

Remaja disodorin sebuah gambaran kesuksesan yang bisa diraih   secara instant!  Kalo gini ceritanya, kebayang dong kaya gimana potret   remaja nusantara di masa depan? Kayanya kekhawatiran akan   lost generation, bukan isapan jempol. Tapi isapan telunjuk, jari   tengah, jari manis hingga kelingking. Hehehe…  Ngomong-ngomong soal prestasi, sekali lagi ini soal cara   pandang tentang sebuah “prestasi” dan tentu saja tentang   standar kita dalam menentukan sesuatu layak disebut prestasi   atau nggak. Bagi para bola mania, boleh jadi kiprah Lionel Messi   atau Christian Ronaldo di La Liga adalah sebuah prestasi. Begitu   juga yang hoby moto GP, sepakat dua pakat kasih acungan jempol   bagi Valentino Rossi, Casey Stonner, atau Lorenzo. Nggak   ketinggalan, penikmat film laga kasih applause dengan prestasi   Iko Uwais yang lagi naik dauh dengan film The Raid (Bukan D’Rise   lho) yang mendunia.   Tapi bagi yang nggak suka bola, nggak doyan balap motor,   atau nggak ngeh film laga, deretan prestasi-prestasi di atas   dianggap angin lalu. Nggak ngaruh bagi mereka. Dan mungkin gak   terdorong untuk ngasih apresiasi.

Lantaran prestasi para pesohor   itu gak bikin kehidupannya jadi lebih baik.   Nah sialnya, gencarnya media remaja yang menanamkan   gaya hidup barat di benak kawula muda sukses menghipnotis   Berkiblat pada Gaya Hidup Barat  mereka. Sehingga merasa perlu untuk berdandan ala   artis K-Pop atau ngerasa wajib makan junk food. Itu karena   mereka menganggap itulah sebuah “prestasi” lantaran   sudah bisa menyamai atau meniru gaya hidup Barat.

Remaja Muslim : kiblatnya Islam donk 

Kalo sahabat jeli, soal prestasi yang selama ini   dimiliki Barat, ada 3 (tiga) hal yang harusnya jadi perhatian   kita.

  1. , prestasi Barat di satu sisi lebih karena mereka menanggalkan agama untuk mengatur kehidupan   mereka, alias sekular. Kalo mau disepadankan prestasi   sebagai sebuah kebahagiaan, maka sejatinya kebahagiaan   semu. Gimana nggak semu, kalo yang mereka sebut   prestasi adalah ketika mengumbar aurat alias pornografi   dan pornoaksi untuk mendapatkan uang. Gimana bisa   dikatakan kebahagiaan yang kekal, kalo yang mereka sebut   prestasi adalah ketika merampok kekayaan negeri-negeri   muslim, seperti yang dilakukan Amrik dengan perusahaan   PT. Freeport-nya di pegunungan Jayawijaya, Papua.
  2. , “prestasi” nya Barat sekarang ini lebih karena dulunya ‘mencontek’ Islam. Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, “Penyelidikan telah   menunjukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa   tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan   semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance,   secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari   bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara   langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di   antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka”
  3. , prestasi yang dimiliki Barat saat ini, lebih karena hegemoni dan dominasi negara-negara macam Amrik dan Inggris. Artinya, mereka lah yang saat ini yang menjadi “penguasa” di   dunia saat ini, sehingga wajar kalo mereka yang dijadikan kiblat,   atau memaksakan diri untuk harus jadi kiblat bagi negara-negara   lain.  Sehingga sebagai muslim, harusnya kita nggak silau dengan   prestasi yang selama ini ditebar Barat lewat media apapun.

Karena sejatinya, kita sebagai seorang muslim harusnya lebih   bangga berkiblat pada Islam. Sekedar mengingatkan, coba kita   simak kutipan berikut:  “Patut diingat, bahwa Quran memegang peranan yang   lebih besar terhadap kaum muslimin daripada Bibel dalam agama   Kristen. Demikianlah, setelah melintasi masa selama 13 abad   Quran tetap merupakan kitab suci bagi seluruh Turki, Iran, dan   hampir seperempat penduduk India. Sungguh, sebuah kitab   seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa   kini” (E. Denisen Ross, seperti dikutip dalam buku Kekaguman   Dunia Terhadap Islam).

Itulah sob, pengakuan orang Barat terhadap Islam. Itu   artinya, Islam itu pernah berprestasi dan pasti masih menyimpan   prestasi, jika diterapkan lagi seperti pernah diterapkan selama 13   abad. Bahkan pada masa kejayaan yang 13 abad tersebut, Islam   memang menjadi super power, menjadi kiblat bagi dunia saat itu.   Bisa dibilang, ilmuwa-ilmuwan Barat yang sekarang lebih kita   kenal dalam pelajaran sekolah kita adalah terilhami dari ilmuwan-ilmuwa Muslim saat itu.   Maka bangunlah the dreamers, saatnya untuk beraksi   menjadi the players dengan menjadikan Islam satu-satunya kiblat   dalam ukuran berprestasi. Cayo (LBR)