wow..!!” (tanpa koprol apalagi keliling lapangan sepakbola  Gelora Bung Karno), itu ungkapan takjub begitu lihat  ‘semangat kebangkitan’ Islam mulai muncul bak jamur di  musim hujan. Coba aja lihat, meski banyak kaum hawa  yang berlomba-lomba mengumbar aurat, tapi nggak  sedikit yang dengan berani menunjukkan identitasnya  sebagai muslimah, lengkap dengan kerudung dan  jilbabnya. Bahkan 4 September, di launching sebagai  ‘International Hijab Solidarity Day”. Mantabs! Semangat yang sama juga kita dapetin saat saat  tuduhan miring ditujukan kepada rohis sebagai sarang  teroris. Remaja en remaji muslim bahkan menggelar aksi  besar-besaran di bundaran HI, Jakarta. Dan kalau mau  ‘lebih dalam’ lagi menyaksikan ‘semangat kebangkitan’ itu  bisa dibuktikan dengan makin gencarnya pengajian yang  digelar di kampus, sekolah, hingga perkantoran. Kita harap  semangat itu terus menyala. Setiap saat.

 Jangan Cuman Semangat Dong!

Tapi tunggu, emang bener gejala maraknya busana  muslim dan aksi turun ke jalan itu menandakan  kebangkitan? Atau hanya perilaku para penikmat Islam aja.  Ups! Maaf ya, bukan bermaksud su’udzon atau meragukan  keikhlasan mereka yang ghirahnya lagi semangat dua  mangat. Tapi sekedar bentuk koreksian untuk kita bersama.  Biar bisa saling mengingatkan. Apakah fenomena  ‘semangat’ teman-teman kita itu bisa konsisten bin tahan  lama atau sementara? Sekali lagi lho ya, ini bukan  bermaksud mengolok-olok. Sebab kalo ‘semangat  kebangkitan’ itu hanya bertahan sebentar plus nggak  ‘tahan banting’ jadi kaya gelembung sabun. Keliatannya  besar, padahal dalemnya hampa bin kosong. Duar..! Ada beberapa faktor yang memicu semangat  kebangkitan umat Islam bak gelembung sabun. Yaitu: Pertama, bisa jadi ‘semangat’ yang dimiliki teman teman kita itu untuk jaga eksistensi. Persis kayak teman  kita yang aktif menggandrungi k-pop, terus menular ke  teman yang lain sehingga melahirkan demam k-pop. Ya,  nasib yang sama juga bakal dialami ajaran Islam kalo  cuman dijadikan sekedar trend. Lagi hot-hotnya isu Palestina, berbondong-bondong ikut aksi solidaritas biar eksis  dan diakui komunitas. Pasang profil  picture di BBM dan sosial media yang  mendukung perjuangan muslim gaza.  Aktif posting yang berkaitan dengan  Palestina.

Giliran gencatan senjata dan PBB  mengakui negara Palestina, kembali adem ayem.  Nanti kalo ada isu lain yang gak kalah hot-nya, ikut-ikutan lagi. Begitu seterusnya. Seolah Islam hanya  dipake buat tumpangan eksis di dunia nyata dan dunia  maya. Hadeuh..! Kedua, boleh jadi, apa yang sekarang dikenakan,  diperjuangkan tentang Islam, itu hanya sekedar symbol  alias formalitas belaka. Fakta ini bukan asal bunyi lho.  Dengan bermodal semangat berhijab, banyak muslimah  yang mengenakan penutup aurat sekenanya aja dan  cenderung ngikutin mode daripada ngikutin aturan yang  benernya. Sampe-sampe kebolak-balik pengertian antara  kerudung dan jilbab. Karena hanya modal semangat tanpa  dibarengi ilmu, pake jilbab dan kerudung pun nggak sesuai  tuntutan Islam. Ada yang pake jilbab ketat, dipadu dengan  legging, sementara kerudungnya pun dimodif jadi  kerudung punuk onta. Baru sekedar menutup aurat tapi  tidak menjaga aurat.

Berpakaian seperti telanjang! Ketiga, mungkin semangat yang dimiliki oleh teman-teman kita itu lebih karena cari penyejuk hati. Tahu sendiri,  ditengah demam galau yang mewabah di dunia nyata dan  dunia maya bisa bikin gerah. Kayanya adem kalo account  sosial media itu isinya yang islami dan menyejukkan hati.  Bukan curcol atau info gak penting lainnya. Nggak heran  kalo di facebook dan twitter banyak sekali yang nge-add  atau nge-follow akun-akun ‘islami’ dan ‘menyejukkan’.  Apalagi di dunia nyata banyak event  pelatihan/training islami yang menawarkan  kesejukan hati. Katanya biar seimbang,  nggak cuman cari duit melulu tapi juga cari  ridho Allah. Nggak heran kalo pelatihan  islami banyak digandrungi. Bener sih. Pas  ikut pelatihan, semangat keislamannya  berkobar, menangis karena penyesalan, dan  bertekad untuk tobat. Giliran kembali ke  kantor, kampus, atau sekolah, lengket lagi  kehidupan sekulernya. Sahabat, ngeliat ketiga faktor di atas  ngeri juga ya. Kapan sampenya Islam di garis  kebangkitan kalo kebanyakan umatnya  masih nyaman menjadi “para penikmat  Islam”. Yup, mereka PDKT dengan Islam  karena bermodal semangat, ngikutin trend,  pake symbol islam sebagai media eksistensi,  hingga ajang penyejuk hati. Sebagai awalan  sih bagus aja. Tapi kalo nggak dibarengi dengan mengenal  Islam lebih dalam terus dipraktekkin dalam keseharian,  belon afdhol! Jadi jangan hanya pake Islam yang ‘enak’,  ‘nyaman’, ‘sejuk’, ‘nikmat’ aja. Setuju?

Jadilah ‘Pendaki Sejati’ (The  Climbers)

Gampang banget kita mengukur tingkat keseriusan  seseorang terhadap kegiatan keislaman yang digelutinya.  Lihat aja gimana sikap doi ketika berhadapan dengan  tantangan yang berhubungan dengan keislamannya.  Awalnya bisa dimaklumi berbusana muslim semaunya  karena belum paham. Lalu setelah dikasih tahu yang  benernya, lihat deh sikapnya apa dia mau berubah menjadi  lebih syar’i dan konsisten menjaga auratnya atau tetap  dengan kondisi semula? Alhamdulillah banget kalo banyak remaja yang udah  pacaran tapi mau ikut ngaji. Setelah kenal islam lebih  dalam, lihat deh gimana sikapnya dalam menjaga  pergaulan dengan lawan jenis.

Segera memutuskan  pacarnya atau tetep menjaga jalinan asmaranya dalam  label pacaran?  Kita acungi jempol dengan antusias umat Islam yang  pada ikut pelatihan motivasi Islami. Semangatnya  menggebu-gebu saat pelatihan untuk ikut ambil bagian  dalam dakwah islam. Lalu coba perhatikan setelah  pelatihan berlalu. Tetep tune in dengan dakwah islam?  Aktif mengkaji Islam secara rutin? Atau sudah lupa dan  kembali asyik dengan kesibukannya masing-masing.  Setiap orang boleh kok punya sikap berbeda dalam  menghadapi tantangan.

 Apa pun yang dia pilih, masing-masing ada konsekuensinya. Allah udah ngasih dua jalan,  kebaikan yang berakhir di surga. Atau keburukan yang   mentok di neraka. Karena itu, kita bisa kategorikan tipe  orang bedasarkan sikapnya dalam menghadapi tantangan.  Pertama, tipe Quiters. Dia tipe yang tergesa-gesa, ingin cepat sampai, mudah menyerah dan mudah bertekuk  lutut. Ia selalu menggunakan jurus langkah seribu ketika  ada masalah. Orang semacam ini selalu dihinggapi su’uzon  thinking. Memilih jalan aman daripada menghadapi  tantangan.  Kedua, tipe Campers. Dia adalah tipe yang mendaki  sampai ketinggian tertentu, kemudian memutuskan  berhenti setelah dirasa nyaman dan bisa menikmati  kesuksesannya. Dia memilih jalan yang tidak berhadapan  dengan resiko besar. Memang lebih baik dari tipe quiters,  tapi bukanlah yang terbaik. Ketiga, tipe Climbers. Dialah tipe pendaki sejati yang  siap menghadapi tantangan apa pun.

Mengubah kesulitan  menjadi kemungkinan. Tidak lemah, tidak putus asa, dan  selalu memandang optimis kedepan. Dia yakin, Allah selalu  bersamanya ketika menjalani keistiqomahannya dalam  Islam dan di jalan dakwah. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:  “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan  pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada  mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa  takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan  bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang  telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di  dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan  memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.  Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat, 30 –  32)

Driser, hanya orang-orang yang punya tipe climbers  saja yang bisa mencatatkan dirinya sebagai pembangkit  umat. Ya, dia yang punya semangat, istiqomah dan  perlahan tapi pasti selalu berusaha memperbaiki diri dan  pemikirannya dengan ikut ngaji sampai nanti sampai mati.  Sehingga bisa bangkit menjadi pribadi yang berprestasi  dalam naungan ridho illahi. Cetaaar….!!! Pantang Mundur Pantang Futur Driser, gak ada ceritanya istiqomah di jalan Islam bisa  bebas hambatan tanpa resiko seperti di jalan tol. Apalagi di  tengah kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Pasti  banyak tantangannya karena syariah Islam dianggap asing  dan berbeda. Jauh-jauh hari, Rasul saw sudah ngasih kabar  dalam sabdanya: “Sesungguhnya Islam datang dalam  keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan  asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.”  (HR. Muslim)

Makanya gak pake ciut nyali kita kalo dianggap asing  lantaran istiqomah pake aturan Islam dalam keseharian.  Lantaran Rasul udah menjamin kebahagiaan bagi mereka  yang istiqomah. Para ulama bilang, kebahagiaan yang  dimaksud adalah jaminan ketenangan hidup, kemantapan  hati, dan berbagai bantuan Allah selama di dunia serta  jannatun na’im (surga na’im) di akhirat. Hmm…yummy! Pastinya penasaran dong siapa yang dimaksud al-ghuraba atau orang asing dalam hadits di atas. Rasul  menjawab: “Orang-orang yang mengadakan perbaikan  ketika manusia sudah rusak, orang yang maksiat lebih  banyak daripada orang yang taat.” (HR Ahmad)

Jadi al-ghuraba adalah mereka yang selalu berpegang  teguh pada al-Quran dan Sunnah dalam menyelesaikan  permasalahan hidupnya. Mereka juga yang tidak hanya  memperbaiki diri sendiri, tapi juga aktif mendakwahkan  Islam ke orang lain dengan menyeru pada kebaikan dan  mencegah kemungkaran. Terakhir, yang nggak kalah  pentingnya mereka juga sabar menghadapi berbagai ujian  dan cobaan. Karena mereka yakin, bakal dapat  kebahagiaan yang tak ternilai dibalik setiap tantangan yang  dihadapi. Seperti sabda rasul:

 “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang  memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu  bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang  mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan  mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan  semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah,  apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?”  Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di  antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud)  Nah driser, jadi nggak ada alasan bagi kita untuk  sekedar ikut kegiatan Islam cuman modal semangat dan  ogah menghadapi resiko. Sayang beribu-ribu sayang.  

Tinggal sedikit lagi kita bisa meraih predikat al-ghuraba  yang mulia. Masa iya sih cuman kenal Islam nyampe di  permukaan aja. Entar berkah kebaikannya juga cuman  seupil. Ayo kita nyebur sekalian. Rasakan sensasinya  menjadi pribadi yang disayang Allah. Nikmati setiap  tantangan yang menjadikan kita lebih dewasa. Kalo udah  PDKT with Islam, pantang mundur pantang futur (loyo).  Tetep semangat karena kapling di surga tengah menunggu  kedatangan kita. Allahu akbar! [LBR]