Penggalan lagu ‘Cita-Citaku’ yg disuarakan oleh boneka Susan  Ria Enes di atas cukup populer di tahun 90-an. Pas banget  Pdengan bahasan Drise kali ini. Yup, sedari kecil kita sering kena  tembak pertanyaan soal cita-cita.

Kepo banget tuh orang tua,  paman, bibi, atau tetangga yang tanya-tanya soal cita-cita kita kalo  gede nanti. Padahal kan gak ada ngaruhnya buat mereka.  Hehehehe… Eits, jangan salah lho. Kalo dari kecil kita udah bisa jawab cita-cita yang mau dicapai, setidaknya udah punya bayangan masa depan  mau diukir seperti apa. Coba bedakan anak yang sudah punya cita-cita dengan yang tidak, perilakunya lebih terarah yang punya cita-cita.

Makanya di tingkat sekolah taman kanak-kanak, para playboy  and playgirl, maksudnya cewek-cowok yang suka bermain,  dikenalkan lebih jauh tentang profesi dan seluk-beluknya. Biar  mereka punya bayangan lebih jelas, kelak mau jadi seperti apa  setelah besar nanti.  Kalo driser hari gini gak punya cita-cita alias mimpi  besar, kebangetan. Tengsin ama anak TK dong yang jawab  cepat tapi asbun alias asal bunyi. Gak papa kok kalo saat  kita ngasih jawaban soal cita-cita loadingnya lambretta kaya  prosesor intel 486 jaman Bill Gate ingusan. Itu karena orang  yang sudah gedean, cara berpikirnya udah lebih maju  dibanding anak kecil. Apalagi saat ditanya tentang masa  depan.

Nggak cuman asal jawabnya. Tapi juga mesti ikut  mikirin gimana cara mencapainya? Terus apa yang mau  dikerjain kalo udah tercapai? Yup, pertimbangannya lebih  panjang dan lengkap untuk urusan bingkai masa depan  yang mau diukir. Driser, udah dapat mimpi besarnya?

Pentingnya Punya Mimpi Besar Mungkin masih ada teman-teman kita yang  mengabaikan pentingnya punya mimpi, apalagi mimpi  basah, eh mimpi besar. Mungkin mereka belon kepikiran  untuk punya mimpi, karena memang nggak ada yang ngasih  tau tentang pentingnya mimpi. Atau mereka masuk dalam  komunitas fatalisme alias orang-orang yang memasrahkan  hidupnya mengalir gitu aja. Buat apa punya mimpi, toh  hidup akan mengantarkan mereka pada keberhasilan atau  kegagalan dengan sendirinya.

Gitu kata mereka.  Driser, kita berdoa semoga temen-temen nggak ada  yang masuk dua kategori di atas ya. Beneran karena  mengenali mimpi besar kita, bukan cuman penting, tapi  puenting buanget..! 😀 Mimpi besar itu adalah sebuah  energi yang bisa menggerakan seseorang untuk meraih  cita-cita dengan segala keterbatasannya. Kalo diibaratkan,  mimpi besar itu seperti ambisi pemain sepakbola yang  berkeinginan melesakkan goal ke gawang lawan. Dia akan  berusaha sekuat tenaga melewati hadangan pemain  bertahan, bersinergi dengan kawan, dan mengarahkan  tembakan ke sudut yang sulit dijangkau penjaga gawang.  Jadi mimpi besar itu secara otomatis memompa dan  memotivasi seluruh sumber daya yang dimiliki seseorang  untuk tujuan hidupnya.

Jadi bisa dibayangin kalo seseorang nggak punya  mimpi besar alias big dream? Hidupnya dijamin garing bin  kering kerontang. Nggak ada semangat untuk menjadikan  dirinya lebih hebat. Hidupnya nggak terarah atau malah  nggak punya tujuan mau dibawa ke mana endingnya.  Tinggal tunggu mati aja. Padahal tanpa mimpi, kita  bagaikan mayat hidup. Jasadnya ada tapi tanda-tanda  kehidupannya nol. Yup, nggak punya mimpi membuat  hidup kita tidak bergairah. Lemah syahwat bin loyo  semangat.

Hanya mereka yang punya mimpi besar  hidupnya punya nilai tambah dan bergairah.  Syahid Hasan Al Banna pernah menyatakan  “kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin dan  kenyataan esok hari adalah mimpi hari ini” artinya apa  yang kita dapatkan sangat ditentukan dengan mimpi-mimpi  kita. Karena mimpi-mimpi kitalah yang akan menggerakkan  

langkah kaki untuk menempuh jalan hidup yang  mendekatkan kita pada raihan mimpi. Mimpi kitalah yang  menjadi amunisi untuk membakar semangat kita menjalani  kehidupan. Karena ada target yang ingin dicapai.  Temukan Mimpi Besarmu Tentu aja bukan hanya mimpi yang sifatnya materi  atau yang hanya berorientasi pada kesenangan duniawi.  Sebuah mimpi besar seorang muslim harus tembus sampe  akhirat dan berdimensi ‘kemanfaatan’ bagi orang banyak.  Karena mimpi seorang muslim itu harapan sekaligus doa.  

Maka dengan selalu menautkan mimpi besar kita kepada  idraq sillah billah (kesadaran hubungan kita dengan Allah),  menjadikan mimpi besar kita mulia sehingga penting dan  kudu binti harus untuk segera terwujud. Boleh aja kita menginginkan sukses harta, tahta,  keluarga, dunia, tetapi tetap harus direm biar nggak  kebablasan. Selalu bertanyalah pada dua hal “apakah  keinginan itu bertentangan dengan Islam?”, dan “apakah  keinginan itu berdimensi akhirat atau nggak?”.

Yup,  pertanyaan itulah yang akan mengendalikan sekaligus  mengarahkan kemana mimpi besar  kita akan kita bawa. Sahabat Rasul Saw seperti  Mushab bin Umair, telah  menggadaikan hidupnya untuk  menempuh mimpi besarnya  berkontribusi dalam dakwah  Islam. Mushab adalah simbol  cowok ideal. Udah kaya, ganteng  pula, trus juga cerdas dan dari  keturunan bangsawan. Tapi bukan itu semua yang  mempesona dari seorang Mushab. Karena setelah Mushab  kenal Rasulullah Saw dan masuk Islam, Mushab  meninggalkan semua atribut dunia tadi dan rela  dihapuskan namanya dari garis keturunan keluarga  Konglomerat Umair. Sejarah mencatat dengan kecerdasan  dan kegigihannya, Mushab berhasil mengislamkan  pimpinan dua suku besar di Madinah Aus dan Khazraj, serta  membawa mereka untuk membela Rasulullah Saw.

Dari  sinilah berawalnya pendirian negara Islam di Madinah.  Selain Mushab, ada Muhammad al-Fatih, yang  mempunyai mimpi besar menaklukkan Konstantinopel. Al-Fatih yang hidup ratusan tahun setelah masa Rasulullah,  tapi mimpi besarnya terinspirasi dari hadits Rasulullah Saw  tentang penaklukan dua kota, Roma dan Konstantinopel.

 Guru beliau Aa’ Syamsudin pun selalu mendengungkan  tentang hadits itu ke telinga al-Fatih, bahwa dirinyalah sang  penakluk itu. Maka al-Fatih pun memantaskan diri menjadi  sang penakluk, mulai dari belajar mengatur strategi,  melatih pasukan unggulan, serta juga membina  nafsiyah/kejiwaan beliau dan pasukannya. Hasilnya, pada  tahun 1453 M, kota Konstantinopel yang saat itu jadi  simbol peradaban Romawi Timur, takluk dibawah tangan  seorang pemuda berumur 24 tahun! Inspirasi pencapaian mimpi besar juga kita bisa ambil  dari kisah Syaikh Abdurahman As-Sudais imam Masjidil  Haram.

Ternyata Ibu Syaikh Abdurrahman As-Sudais selalu  menanamkan dan mengarahkan mimpi besarnya itu kepada  anaknya. Ibunya sering mengingatkan, “Wahai  Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah,  kamu adalah Imam Masjidil Haram…” “Wahai  Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam  Masjidil haram…” Wahai Abdurrahman,  jangan malas menghafal kembali  hafalan harianmu, bagaimana kamu  bisa menjadi Imam Masjidil Haram bila kamu malas?”  Akhirnya, Syaikh Abdurrahman As-Sudais kini menjadi  imam Masjidil Haram. Dan menjadi salah satu ulama besar  yang disegani di dunia Islam. Driser, semoga kisah inspiratif dari periode yang  berbeda di atas bisa merangsang kita untuk menemukan  mimpi besar pribadi.

Nggak usah takut punya mimpi besar,  toh nggak kena biaya ini alias gratis. Kenalilah mimpi  besarmu dan jadikan target pencapaian dalam kehidupan.  Bayangkan jika mimpi besar itu tercapai, berapa banyak  orang yang akan mendapat manfaatnya. Indah tenan! Pantaskan Diri Yuk! Jika sudah kenali mimpi besarnya, jangan lupa  pantaskan diri untuk meraihnya.

Yup, mimpi akan mampu  kita wujudkan kalo kita memang pantas untuk  menerimanya. Ikuti deh kisah orang-orang hebat yang  berhasil wujudkan mimpi besarnya. Semua nggak ada yang  berdiam diri nunggu keajaiban datang lalu sim salabim  mimpinya terwujud. Halah..itu mah cuman ada di negeri  dongeng. Yang ada, orang-orang hebat itu memantaskan  diri sebelum impiannya terwujud.  Memantaskan diri berarti mendekatkan kehidupan  kita pada raihan mimpi. Muhammad al-Fatih memantaskan  dirinya menjadi penakluk Konstantinopel. Sedari kecil  diajarkan semua hukum Islam.

Terutama yang berkaitan  dengan militer, strategi perang, alat bersenjata, hingga  hukum Islam seputar peperangan. Tak lupa beliau juga  dibekali dengan penguasaan bahasa selain bahasa Arab.  Ditambah polesan nafsiyahnya sehingga getol bertahajud,  ibadah sunnah dan menjauhi perilaku maksiat. Lalu  ditularkan kebiasaan positifnya itu pada pasukannya. Allah  pun meridhoi mimpi besarnya, memudahkan jalannya,  menunjukkan jalan keluar baginya, dan Konstantinopel pun  takluk di tangannya. Itulah sebuah kepantasan diri.

Driser, saatnya mengenali mimpi besarmu dan  memantaskan diri untuk meraihnya. Jangan biarkan hidup  kita tak bermakna. Tinggalkan jejak manfaat di muka bumi  sebelum kita meninggal nanti. Sudah seharusnya remaja-remaji Islam, punya mimpi besar. Mimpi yang akan selalu  bikin kita semangat untuk selalu dan terus menebarkan  kebaikan serta manfaat di muka bumi ini. Mimpi besar yang  akan mendongrak produktifitas kita dan mengoptimalkan  segala sumber daya yang kita punya. Kenali mimpi besarmu  dan wujudkan untuk mengembalikan kejayaan Islam dan  kaum Muslimin! [follow @LukyRouf]