MAJALAH DRISE EDISI 54 : CINTA DI ATAS GARIS | Majalah Remaja Islam DRise
Monday, September 25th, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Bukamata >> MAJALAH DRISE EDISI 54 : CINTA DI ATAS GARIS
MAJALAH DRISE EDISI 54 : CINTA DI ATAS GARIS

MAJALAH DRISE EDISI 54 : CINTA DI ATAS GARIS




MajalahDrise.com – Ngomongin cinta emang nggak ada abisnya. Karya seni yang terinspirasi dari cinta pun nggak ada matinya. Mulai dari lagu, puisi, novel, hingga film layar lebar nggak pernah sepi dari tema cinta. Sebut saja Yovie Widianto atau Melly Guslaw, dua musisi kenamaan ini paling piawai menciptakan lagu-lagu cinta. Duet Riri Riza dan Mira Lesmana pernah sukses ngegarap film remaja bertajuk “Ada Apa Dengan Cinta”. Dan seorang Habiburrahman el-shirazi alias kang ebik berhasil mengguncang pecinta novel cinta dengan karya best sellernya, “Ayat-Ayat Cinta”. Cinta!

Kenapa Obrolan Soal Cinta Nggak Ada Abisnya?

Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Ibaratnya kalo kita ngeliat mawar, nggak ambil pusing dengan durinya yang berbahaya, tapi justru lebih asyik merhatiin bunganya yang indah mempesona. Makanya, bagi orang yang lagi kasmaran, pepatah nobody’s perfect sementara di-disabled. Karena dimatanya, pujaan hati selalu terlihat sempurna. Itu dia jawabannya. Karena cinta begitu indah! Cinta terasa indah karena mengandung kebahagiaan (happines), menyenangkan (comfort), dan kepercayaan (trust). Ketiga perasaan indah itu ngasih sugesti positif yang melahirkan sikap optimis dan positif thinking. Nggak heran kalo pengidap virus merah jambu hatinya selalu berbunga-bunga. Keliatan tuh dari bahasa tubuhnya. Yang tadinya pendiem, jadi nggak mau diem kaya cacing kepanasan.

Gelisah terus. Yang tadinya doyan pasang muka jutek, jadi hobi obral senyum dan sksd sama semua orang. Hatihati kebanyakan senyumnya, entar dikira pasien RSJ yang kabur lagi. Kan berabe. Kita memang nggak pernah tahu wujud keindahan cinta yang abstrak. Sehingga banyak yang bilang, indahnya cinta itu lebih mudah dialami daripada dijelaskan. Bener juga sih. Tapi bagi para ilmuwan, seluk beluk cinta kudu bisa dijelaskan secara ilmiah. Hasilnya, muncullah istilah Feromon, yaitu zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang spesies (wikipedia).

Ternyata, feromon pada manusia juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengklaim kalo feromon juga punya andil dalam menghasilkan perasaan suka, naksir, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya. Ini mereka buktikan saat melakukan penelitian terhadap reaksi otak 12 pasang pria-wanita sehabis mencium bau senyawa sintetik mirip feromon. Bebauan tersebut langsung bereaksi terhadap hormon estrogen (pada wanita) dan hormon testoteron (pria). Nah, ternyata memang obrolan seputar cinta tak sebatas lisan saja. Tapi juga memancing hormon tubuh dan pastinya bikin nyaman perasaan. Makanya wajar kalo udah ngobrolin cinta, terutama remaja, suka lupa diri saking asyiknya.

DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 54




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nine + eleven =