remaja, idealnya menjadi harapan bangsa, negara, dan  agama. Seiring bertambahnya usia, kelak mereka yang  bakal dapat giliran untuk memimpin umat. Jika masa  R remaja gencar diisi dengan kegiatan positif dan menebar  manfaat, tentu kebangkitan Islam dan kaum Muslimin yang  dimotori para pemuda tinggal tunggu waktu.

Namun kalo yang  terjadi sebaliknya, remaja pada galau dihantam virus hedonis  alamat kebangkitan cuman jadi khayalan.  Remaja ideal sejatinya selalu punya rencana dalam  menjalani hidupnya. Lantaran hidup cuman sekali kudu  dioptimalkan untuk meraih prestasi. Makanya wajar kalo  memasuki awal tahun, remaja antusias bikin resolusi. Sebuah  resolusi adalah semacam planning alias perencanaan untuk  mewujudkan mimpi di tahun ini.

Saat bikin resolusi, kita mesti  perhatikan dua hal. Pertama, mengevaluasi langkah, peristiwa,  fakta yang telah terjadi di tahun sebelumnya. Kedua,  merencanakan atau memproyeksi apa yang akan terjadi dan  dilakukan di tahun depan. Yup, biar kegambar jelas bagian mana  yang mesti diperbaiki dan langkah strategis apa yang mesti  dijalani demi meraih mimpi. Untuk itu, penting kita evaluasi  kondisi remaja sebelum membuat resolusi. Yuk mari! Tahun 2012, dunia remaja masih belepotan tinta hitam  yang menambah buram potret generasi muda.

Data Badan  Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan,  51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan  Bekasi atau Jabodetabek telah berhubungan seks  pranikah. “Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak  perawan,” kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai  memberikan sambutan pada acara grand final Kontes  Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir  IRTI Monas, Ahad (28/11/2012) Data BKKBN mengenai estimasi aborsi di  Indonesia per tahun mencapai 2,4 juta jiwa, sebanyak  800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja.

“Dari  2,5 jutaan pelaku aborsi tersebut, 1 – 1,5 juta di  antaranya adalah remaja. Remaja sudah bisa aktif  secara seksual, namun sulit memperoleh alat  kontrasepsi. Akibatnya terjadi kehamilan yang tidak  diinginkan,” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang  Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK)  Potret Buram Remaja 2012 BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012) Dari total kasus HIV/AIDS di Indonesia yang  dilaporkan pada 1 Januari-30 Juni 2012 tercatat  sebanyak 9.883 kasus HIV dan 2.224 kasus AIDS,  dengan 45 persen di antaranya diidap oleh kaum  muda. Masalah narkoba juga nggak kalah hebatnya  seperti dikutip detikhealth (6/6/2012), bahwa BNN  melansir 50-60% pengguna narkoba adalah remaja.  

Tahun 2012 lalu, tawuran pelajar kembali naik  daun pasca perseterua pelajar SMAN 70 dengan  SMAN 6 yang menewaskan Alawi, siswa kelas X SMA  6. Tawuran pelajar seolah menjadi bagian yang tak  terpisahkan dari perilaku pelajar. Meski sudah banyak  jatuh korban, ‘perang kolosal’ ala pelajar terus  terjadi. Data dari Komnas Anak, jumlah tawuran  pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada enam  bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan Juni, sudah  terjadi 139 tawuran kasus tawuran di wilayah Jakarta.  Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Pada  2011, ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak  meninggal dunia (Vivanews.com, 28/09/12)

 Jika mau diurai lebih detail lagi, masih cukup  panjang daftar kebobrokan dunia remaja selama  tahun 2012. Data di atas cukup mewakili untuk  menggedor keprihatinan kita akan nasib calon  pemimpin bangsa. Idealnya, pemerintah selaku  instusi tertinggi yang ngurus rakyat bergerak cepat untuk  menyelamatkan generasi muda. Cari deh tuh akar masalah  yang menjerat remaja. Terus segera ambil kebijakan untuk  memangkas akar masalah biar nggak mewabah. Sialnya,  pemerintah kita lebih banyak ngobatin gejala dibanding  penyebab utamanya. Walhasil, potret buram remaja tak  kunjung kinclong! Sekadar contoh, Menteri Kesehatan Nafsiyah Mboi,  usai membuka seminar Peringatan Hari Anak Nasional 2012  di gedung Kementerian Kesehatan, Jumat (13/7/2012)  malah menyarankan ‘pacaran sehat’ ala Menkes dengan  menggunakan kondom. Tidak bermaksud pesimis, tapi  menilik program penanggulangan AIDS selama ini, tidak  cukup berdampak pada jumlah kasus prevalensi dan  insidensi AIDS.

Kasus AIDS di Indonesia, trendnya makin  meningkat. Data dari Kementerian Kesehatan, jumlah  kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan di Indonesia  meningkat tajam dari 7.195 di tahun 2006 menjadi 76.879  di tahun 2011 (Kemkes, Laporan Situasi HIV dan AIDS di  Indonesia, tahun 2006 dan 2011). Kondomisasi cuma sebuah solusi pragmatis yang sangat  menyesatkan. Pasalnya, kondomisasi bukan menghilangkan  akar masalah sesungguhnya, yakni seks bebas yang kian  beringas di kalangan remaja. Sebaliknya, kondomisasi makin  menambah masalah, karena secara tidak langsung  melegalisasi seks bebas. Bukannya mengantisipasi, malah  memfasilitasi. Akibatnya, kampanye kondom berpotensi  menguatkan gaya hidup seks bebas. Hal ini pernah  diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah  lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di  University of California.

Berdasarkan penelitian mereka,  setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di  kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan  di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32%  (USA Today, 14/4/1998). Ketika potret dunia remaja kian hari memburam, masih  ada secercah harapan dari potensi remaja yang belum  dioptimalkan. Pertama: potensi ‘alami’ yang dimiliki oleh  Harapan Itu Masih Ada remaja sebagai pribadi yang energik, letupan semangat  yang berapi-api, intelektualitas muda yang bisa diandalkan,  serta kekuatan fisik yang masih prima. Kedua: adanya  pergerakan dari remaja muslim yang mencerminkan  perlawanan  terhadap dominasi pemikiran dan budaya  sekuler. Juga gaung kebangkitan yang gencar disuarakan  dalam bentuk kegiatan nyata serta opini di dunia maya.  

Dalam catatan kaleidoskop 2012, masih cukup hangat  dalam ingatan kita tentang isu ‘rohis sarang teroris’ yang  diopinikan oleh salah satu stasiun teve swasta. Tak ayal,  serentak semangat pembelaan untuk melawan opini itu  bermunculan dari aktivis Rohis sampai alumni Rohis. Hingga  terwujud dalam aksi damai  pada hari Minggu (23/9) yang  diikuti oleh sekitar 2 ribu pelajar dari berbagai sekolah  tumpuk di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka menuntut  agar Metro TV meminta maaf. Hal senada juga muncul  dalam galang opini via page facebook bertajuk “1.000.000  Gerakan Tuntut Metro Tv Minta Maaf Kpd Rohis Se-Indonesi”. Perlawanan terhadap ide-ide sesat dan menyesatkan  dari kaum Jaringan Islam Liberal (JIL) gencar disuarakan  generasi muda muslim dalam tagline “Indonesia Tanpa JIL  (ITJ)”. Opini dengan cepat menyebar melalui sosial media.  

Page ITJ dipadati facebooker yang mendukung perlawanan  terhadap celoteh Ulil Abshar dan konco-konconya. Bahkan  pergerakan ITJ secara massif ditunjukkan dengan aksi sebar  flye yang berisi alasan menolak JIL di berbagai kota dan  tempat.  Tanggal 14 Februari 2012 lalu muncul pergerakan  kampanye #MenutupAuratSedunia di berbagai negara.  Mulai dari Indonesia, Malaysia, Inggris, Hongkong, Macau,  dan Thailand. Gerakan Menutup Aurat (GERAK) dicetuskan  oleh sahabat aktivis Jakarta yang diketuai Herry Nurdi  (Penulis/PresidenTeachers Working Group Indonesia).  

Gerakan ini mendapat sambutan hangat dari remaji untuk  menunjukkan eksistensinya dibalik hijab syar’I dengan  mengadakan aksi turun ke jalan dan kajian Islam.  Fakta lain yang tak kalah menggembirakan adalah  pergerakan remaja yang berkomitmen untuk berjuang  membela Islam serta penerapan syariah sebagai sebuah  sistem aturan negara. Setidaknya itu terwakili oleh acara  yang diprakarsai oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia  (MHTI) dalam bentuk Konferensi Remaja Islam di berbagai  kota dan puncaknya diadakan di Jakarta. Yel – yel “Al-Fata yuriid Khilafah Islamiyah”  bergemuruh dalam acara Konferensi Remaja Islam yang  berlangsung Ahad (16/12/2012).

Acara yang bertajuk  “Khilafah, Negara yang Melindungi dan Menyejahterakan  Remaja” tersebut dihadiri lebih dari  1500 siswi muslimah  dari SMP – SMA se-Jabodetabek dan Banten. Dalam acara  tersebut, para oratornya terdiri dari par remaja, sebut saja  Khonsa RD, siswi kelas X berorasi tentang remaja dalam  budaya yang merusak dalam bahasa Inggris, kemudian  Azkia Rizka, siswi kelas XI berorasi tentang Remaja dalam  Pendidikan Sekuler yang BerorientasI Ekonomi. Kegiatan ini menjadi momentum bersatunya semangat  para remaja untuk memperjuangkan Islam.

Remaja harus  menyadari bahwa mereka adalah generasi  penerus umat  yang agung. Oleh karena itu, remaja harus terlibat dalam  perjuangan menegakkan kembali Khilafah. Menjadikan   hidup bergairah hanya dengan dakwah. Yess! Resolusi sejatinya nggak cuman untuk diri sendiri. Tapi  dijadikan gerakan bersama kebangkitan remaja.

Yup,  gerakan resolusi remaja muslim. Biar gaungnya lebih terasa  dan beban yang berat bisa ditanggung bersama-sama.  Karena kita sadar sepenuh hari, kita hidup sebagai seorang  muslim yang menjadi bagian dari masyarakat. Maka  sangatlah layak, kalo Resolusi harus bernafaskan ‘KITA’ dan  beraroma ‘kebermanfaatan’. Why? Coz, Rasulullah Saw  sudah mengingatkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi  manusia” (HR. Thabarani, Daruqutni)

“Barangsiapa bangun di waktu subuh (pagi), tidak  memikirkan masalah kaum muslimin, maka dia bukan  termasuk golongan kaum muslimin” (HR. Ahmad) Resolusi bernafaskan ‘KITA’ adalah saatnya kita tidak  hanya berpikir nafsi-nafsi, saatnya meninggalkan sikap dan  sifat cuek. Stop berpikir “ini urusan gue, masalah buat  loe?”, sebab pemikiran gitu hanya melahirkan manusia-manusia individualis, yang merupakan karakter masyarakat  kapitalis kita sekarang ini.

Dan nyadar atau nggak,  masyarakat individualis, nggak ada nyetelnya dengan  Dakwah, Resolusi Remaja 2013! karakter kaum muslimin. Resolusi beraroma ‘kebermanfaatan’ berarti  keberadaan kita di tengah masyarakat, jangan malah bikin  ulah bin masalah, tapi justru keberadaan kita harus  memberi energi positif. Jadi bagian dari solusi, bukan bagian  dari masalah. Saatnya kita bergerak menggandeng tangan  saudara kita yang lain untuk berbuat al-khair (kebaikan).  

Dua rumus sederhana di atas (Kita dan  Kebermanfaatan) akan terlihat nyata saat kita wujudkan  dalam aktivitas full manfaat bin berkah yang disebut dengan  dakwah. Ya, dakwah selain sebagai sebuah kewajiban yang  harus dijalankan oleh seorang muslim, dakwah juga  merupakan kebutuhan kita semua, tak bisa dibayangkan jika  hidup tanpa dakwah, hanya memanen masalah! Dakwah jualah sebagai bukti kepedulian kita terhadap  sesama, karena di dalam dakwah ada aktivitas saling  menasehati dalam kebaikan. Maka jika menginginkan  kebaikan di masa datang, jika kita sedang menyusun  resolusi, maka dakwah adalah jalan yang harus kita  agendakan.  

Dakwah akan lebih optimal jika dibangun tidak hanya  bermodalkan semangat. Tapi dakwah yang bercermin pada  dakwah Rasulullah Saw ketika beliau membangkitkan  masyarakat. Beliau berdakwah secara fikriyah alias  berdakwah secara pemikiran, menyerang pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seraya  menyodorkan pemikiran-pemikiran Islam. Mulai dari  akidah, muamalah, syariah, akhlak, hingga daulah (negara).  Dakwah tersebut dilakukan tanpa kekerasan, meskipun  untuk mendakwahkannya butuh kegigihan, kesabaran.  

Klop dengan kondisi saat ini, ketika banyak remaja tak  bisa menunjukkan tajinya, saatnya remaja memilih untuk  bangkit membingkai masa depan bersama Islam melalui  jalan dakwah. Teman-teman kita, seperti sudah disebutkan  tadi, sudah ada yang berani memilih berkomitmen  memperjuangkan Islam dan syariahnya, maka kita hanya  tinggal menyusulkan diri di barisan berikutnya. Sebab,  pilihan hidup bersama kapitalisme-sekularisme, seperti saat  sekarang ini, tak kunjung menyudahi masalah remaja dan  masalah-masalah lainnya. Pilihan yang terbaik jika  menginginkan masa depan yang lebih baik adalah hanya  dengan Islam.