Majalahdrise.com – Driser, kita turut prihatin dengan nasib perempuan yang hidupnya sering jadi bulan-bulanan. Seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga yang gencar menghiasi layar kaca. Siapa sih yang nggak terusik dengan berita-berita menyedihkan itu. Cuman masalahnya, apa bener gerakan feminisme layak kita jadikan kendaraan buat memperbaiki hidup kaum hawa? Kayanya kita mesti lebih jeli deh.

Kalo kita baca sejarahnya, udah keliatan kalo gerakan feminisme lahir dan berkembang di Eropa yang hidup dengan prinsip sekuler. Nggak ngasih ruang bagi aturan agama dalam kesehariannya. Otomatis, standar yang mereka pake  dalam perjuangannya adalah untung rugi dalam kacamata manusia. Jauh dari pertimbangan akherat. Hasilnya, mereka bakal ngotot untuk melabrak setiap aturan yang dianggap bisa merendahkan wanita. Termasuk aturan Islam. Nah lho?

Lemahnya posisi perempuan dalam keluarga, dianggap sebagai penyebab menjamurnya kekerasan dalam rumah tangga. Walhasil, kaum feminis gencar mengajak perempuan untuk eksis di dunia kerja. Baik sebagai buruh pabrik atau pekerja kantoran. Agar secara ekonomi tidak bergantung pada pria dalam keluarga. Label wanita karir jadi simbol kesetaraan.

Emang sih dengan bekerja, kaum hawa jadi bisa menghidupi dirinya sendiri. Namun, mandiri secara ekonomi tak berarti memperkuat posisinya di dunia kerja. Tetap saja secara fisik, wanita punya kelemahan. Kondisi ini yang sering dimanfaatkan oleh pria untuk melakukan pelecehan di tempat kerja. Buruh wanita dilecehkan oleh atasan dengan ancaman kontrak kerja tak akan diperpanjang. Atau ketika pulang kerja lembur atau shift malam, kaum hawa sering jadi sasaran korban pelecehan. Ngeri!

Di Jakarta, terdapat sekitar 80.000 orang buruh. Sebanyak 90 persen dari angka tersebut merupakan buruh wanita dan 75 persen buruh wanita yang ada di Jakarta telah mengalami kekerasan seksual. Dari catatan tahunan yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan tahun 2012, terdapat 216.156 kasus kekerasan seksual. Di antaranya diterima oleh buruh wanita sebanyak 2.521. Angka itu berdasar kepada buruh wanita yang melaporkan kejadian yang dialaminya. (Megapolitan.Kompas.Com, 19/04/13).

Secara psikis, wanita bekerja merasa punya posisi yang setara bahkan lebih tinggi dalam keluarga. Karena sukses di dunia kerja atau penghasilannya melebihi suami. Sampai-sampai jadi ‘kepala’rumah tangga dalam urusan nafkah. Walhasil, sang istri nggak ngerasa penting untuk selalu tunduk pada keinginan suami. Malah kalo udah ngerasa nggak nyaman dengan pasangan, dengan mudahnya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Ngerasa nggak akan ada masalah dalam urusan keuangan. Toh, dirinya sudah berpenghasilan. Waduh!

Kesetaraan gender juga berimbas pada pola pergaulan. Laki perempuan udah nggak ada batasnya lagi. Yang udah berkeluarga atau lajang, kalo di tempat umum bebas bercengkerama. Haha hihi bin ketawa ketiwi. Bukan cuman mereka yang senang, setan juga jingkrak-jingkrak ngomporin. Biar tuh pasangan makin dalam terjerumus ke jurang kemaksiatan. Tak ayal, terjadi perselingkuhan. Ujung-ujungnya, perceraian!

Driser, kita bukan bermaksud lebay bin paranoid ya ide emansipasi binti kesetaraan gender yang menjerat kaum hawa. Faktanya, bukan kemuliaan yang akan diperoleh wanita. Justru ternodanya martabat mereka. Karena segudang masalah yang menimpa wanita, bukan karena mereka kaum hawa. Tapi akibat cara pandang kaum adam yang dipengaruhi gaya hidup sekuler terhadap perempuan. Seperti diungkap oleh Nicole Kidman di atas. Jadi, salah sasaran kalo tuduhan penyebab penindasan terhadap perempuan ditujukan pada syariah Islam yang sangat memuliakan wanita. <<–CATET!

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 46