panji-panji hitam dan putih yang bertuliskan
kalimat tauhid itu berkibar dengan gagahnya di
PBundaran Air Mancur (BAM) Palembang.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Kalimat Takbir
bergumuruh di seputar BAM.
Setidaknya pemandangan yang dengan tidak
sengaja kusaksikan ini membuatku merindukan kembali
berada di tengah-tengah laskar pengibar panji tauhid
itu.
Pemandangan ini mengingatkanku kembali,
bahwa diri ini pernah menjadi bagian dari
penggenggam bara ini. Aku ingin bergabung dalam
barisan pengibar panji tauhid itu. Tapi, betapa malunya
aku. Sehingga langkahku terasa semakin berat.
Aku hanya bisa menyaksikan dari teras Masjid
Agung saja, aktivitas yang pernah ku sebut sebagai
1
masiroh.
“Allahu Akbar..!”
“Saudara-saudaraku, relahkah kita jika
Rosulullah yang kita teladani, yang menyebarkan
Risalah dari Allah SWT, yang kita harapkan syafaatnya
di yaumil akhir dihina, dinistakan oleh kaum kafir
laknatullah?”
“Patutkah kita berdiam diri dengan film
sampah dari peradaban kapitalisme ini menghina
Rosullah SAW??”
Orasi yang membakar itu membangkitkan
perasaan dan pemikiran mabda’ Islam yang telah pudar
dari diriku.
“Ingatlah wahai Saudaraku satu Aqidah,
penghinaan ini tak akan kunjung selesai selama kita
ummat Islam masih terpecah belah, tersekat-sekat oleh
paham nasionalisme yang telah mengotak-ngotakkan
kita menjadi lebih dari 40 negara-negara kecil.”
“Ingatlah duhai saudaraku satu Tuhan, satu
Rosul, satu Kitab, dan satu Kiblat! Pelecehan ini tidak
akan pernah selesai, selama kita tidak memiliki perisai
yang melindungi Izzul Islam wal Muslimin. Yaitu, satu
negara yang mengemban Risalah Islam sebagai sebuah
ideologi, satu negara yang benar-benar menjadi Junnah
(perisai) bagi izzul Islam wal Muslimin, dan negara itu
tidak lain dan tidak bukan adalah negara Khilafah
Islamiyah, yang merupakan bentuk pemerintahan
warisan Rosulullah Saw.”
“Karena itu, marilah sama-sama kita
perjuangkan Daulah Khilafah Islamiyah. Karena hanya
Khilafah saja yang mampu membungkam para seniman
bajingan, yang berlindung dibawah ketiak negara-negara Sekuler-kapitalis. Takbir: Allahu Allahu Akbar.”
Betapa dahsyatnya penutup orasi itu sehingga
membuatku semakin panas dan gerah dalam
kefuturanku.
Semakin tersentak diriku. Ternyata setelah ku
perhatikan yang barusan orasi tadi, beberapa tahun
yang lalu adalah binaanku.
“Ya, Allah. Betapa hinanya aku! Betapa
Engkau membenciku, karena aku telah mengatakan
apa yang tiada aku perbuat. Aku mengajak kepada
binaan-binaanku terdahulu untuk Istiqomah
memperjuangkan Islam.sedangkan aku? Sungguh,
Engkau telah menggantikan kaum yang enggan
membela Din-Mu dengan kaum yang lebih baik. ” sesal
dan jeritku dalam hati.
Aku dikejutkan oleh suara yang menyapaku.
“Assalamu’alaikum. Kak, apa kabar?”
Aku terhenyak, pemuda berusia dua puluh
tahunan yang baru berorasi tadi menghampiriku.
“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, Kakak
baik-baik saja. Antum bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, masih beriman kak.”
Jawabannya menggentarkanku, seakan-akan
jawaban itu menyindirku. Menyindir bahwa aku sudah
tidak mengimani lagi janji Allah dan Rosulullah akan
bangkitnya Islam. Terbukti aku sudah tidak istiqomah
lagi di jalan dakwah ini.
“Kak Ali semakin gemuk aja nich. Baru empat
tahun tidak bertemu. Kakak masih ingat dengan saya?
Saya Ghani kak, empat tahun yang lalu saya siswa SMA
Negeri Palembang yang kakak bina di rohis.”
“Subhanallah, Ghani ya? Antum sudah
dewasa sekarang. Kakak hampir tidak mengenali
Antum. Gayamu keren, dan Tsaqofah Islammu juga
mantap ketika kakak mendengar orasimu barusan.
Betul-betul orator ulung dirimu.”
“Hehe, itu juga berkat kakak. Yang dengan
sabar dulu mengenalkanku dengan Islam.”
“Oh, ya kenapa Kakak tidak terlibat lagi
dalam dakwah kita sekarang?”
Pertanyaannya benar-benar membuat aku
malu. Malu? Malu kepada siapa? Kepada Allah? Atau
malu kepada pemuda yang memakai jaket GEMA
Pembebasan ini? Dimana Imanku? Aku bingung harus
menjawab apa kepada pemuda ini.
Pertanyaan ini kembali mengingatkanku pada
peristiwa sekitar empat tahun yang lalu, saat mengirim
sms kepada musyrifku.
“Salam. Ustadz, ‘af1 ana minta izin dulu untuk
beberapa bulan ini untuk tidak mengikuti kegiatan-2
kegiatan tatsqif jama’iy . karena ana mau nulis skripsi.”
Juga sms-sms yang lain, ketika 10 menit
menjelang halaqoh.
“Salam. Ustadz, ‘af1 ana minta izin untuk
tidak halaqoh pekan ini, karena sibuk mencari data
buat skripsi, dan tidak bisa keluar kosan.”
Sms-sms seperti itu terus berlangsung. Hingga
akhirnya, beberapa hari sebelum halaqoh musyrif
menemuiku.
“Akhi. Apakabar antum? Antum sibuk skripsi
ya?? Ya, sudah halaqohnya di kosan Antum saja. Biar
antum tidak repot.”
“Oke, ustadz.” Kataku tak bersemangat
menjawabnya.
Ketika waktu halaqoh tiba, 2 jam musyrif dan
teman-teman halaqoh di teras kosanku. Tapi, aku tidak
kunjung datang.
“Akhy antum dimana?” sms musyrifku,
setelah beberapa kali mencoba menelpon tapi tidak ku
angkat.
“Kak, kok diam?” Pertanyaan Ghani
mengangetkanku dari lamunan.
Ketika Aku hendak menjawab pertanyaan
Ghani, tiba-tiba dari belakangku terdengar suara yang
tidak asing lagi bagiku. Yesika, istriku memanggilku.
“Pa, ayo kita pulang. Kasihan Fatih pasti
sudah menunggu.” Katanya.
“Iya, Ma. Fatih tentu sudah menunggu papa-mamanya. Oh, iya ma. Kenalkan ini Ghani. Dia pemuda
yang luar biasa.” Kataku mengenalkan istri tercinta
kepada Ghani.
Sebenarnya aku malu mengenalkan Yesika
kepada Ghani. Karena Aku belum mendidik Yesika
kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Aku belum
mengenalkannya tentang jilbab, sehingga ia masih
mengenakan jeans dan kaos ketat lengan panjang
meski berkerudung.
“Ghani,mbak. Senang berkenalan dengan
mbak.” Katanya. Dari sorot matanya, sepertinya Ghani
tak percaya dan kecewa kepada diri ini karena melihat
penampilan istriku yang tidak Syar’i.
“Kami pamit dulu Akhy. Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam Wr Wb.”
Di perjalanan, aku masih terpikirkan dengan
ketidak sengajaanku bertemu kembali dengan aktivitas
dakwah ini. Aku berazzam harus kembali ke jalan
dakwah ini. Akan ku didiik istri dan anakku, agar
menjadi pengemban risalah ini.
Aku teringat dengan kata-kata yang sering ku
katakan kepada para binaanku dahulu:
“Sesungguhnya kita ini yang butuh dengan
Islam. Bukan Islam yang butuh dengan kita.
Sesungguhnya, dakwah ini tidak pernah membutuhkan
kita, tapi kitalah yang selalu butuh dengan dakwah ini.
Ada atau tiadanya kita, kereta dakwah ini akan terus
meluncur menuju Syurga-Nya Allah SWT.”
Terimakasih ya Allah, Engkau telah
menemukan dan mengingatkanku kembali dengan cara
ketidak sengajaanku bertemu dengan aktifitas dakwah
tadi. Semoga itu menjadi titik awalku kembali dalam
memperjuangkan Syariah dan Khilafah, agar Din-Mu
senantiasa diterapkan di Bumi yang Engkau ciptakan
ini.[]
(Kandank Bujank, 20 Desember 2012)
1
Masiroh: kegiatan aksi simpatik, membongkar
penghianatan para penguasa, atau mengingatkan
penguasa, serta pencerdasan kepada Ummat agar
kembali kepada Islam dengan Kaffah. Aksi simpatik ini
dilakukan dengan damai, tanpa kekerasan.
2
Tatsqif Jama’iy: Kegiatan Pembinaan kepada Ummat,
bentuknya: bisa diskusi publik, seminar, tabligh akbar, dll
dengan tujuan agar Ummat bisa kembali menjalankan
Islam dengan Kaffah.