Mengingatkan Aku Tentang Itu | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Headline >> Mengingatkan Aku Tentang Itu

Mengingatkan Aku Tentang Itu




Mengingatkan Aku Tentang Itu

Oleh: Bamz Dekomposer

Masyiroh [DRise-#029] Panji-panji hitam dan putih yang bertuliskan kalimat tauhid itu berkibar dengan gagahnya di Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang.Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Kalimat Takbir bergumuruh di seputar BAM.

Setidaknya pemandangan yang dengan tidak sengaja kusaksikan ini membuatku merindukan kembali berada di tengah-tengah laskar pengibar panji tauhid itu.

Pemandangan ini mengingatkanku kembali, bahwa diri ini pernah menjadi bagian dari penggenggam bara ini. Aku ingin bergabung dalam barisan pengibar panji tauhid itu. Tapi, betapa malunya aku. Sehingga langkahku terasa semakin berat.

Aku hanya bisa menyaksikan dari teras Masjid Agung saja, aktivitas yang pernah ku sebut sebagai masiroh1.

“Allahu Akbar..!”

“Saudara-saudaraku, relahkah kita jika Rosulullah yang kita teladani, yang menyebarkan Risalah dari Allah SWT, yang kita harapkan syafaatnya di yaumil akhir dihina, dinistakan oleh kaum kafir laknatullah?”

“Patutkah kita berdiam diri dengan film sampah dari peradaban kapitalisme ini menghina Rosullah SAW??”

Orasi yang membakar itu membangkitkan perasaan dan pemikiran mabda’ Islam yang telah pudar dari diriku.

“Ingatlah wahai Saudaraku satu Aqidah, penghinaan ini tak akan kunjung selesai selama kita ummat Islam masih terpecah belah, tersekat-sekat oleh paham nasionalisme yang telah mengotak-ngotakkan kita menjadi lebih dari 40 negara-negara kecil.”

“Ingatlah duhai saudaraku satu Tuhan, satu Rosul, satu Kitab, dan satu Kiblat! Pelecehan ini tidak akan pernah selesai, selama kita tidak memiliki perisai yang melindungi Izzul Islam wal Muslimin. Yaitu, satu negara yang mengemban Risalah Islam sebagai sebuah ideologi, satu negara yang benar-benar menjadi Junnah (perisai) bagi izzul Islam wal Muslimin, dan negara itu tidak lain dan tidak bukan adalah negara Khilafah Islamiyah, yang merupakan bentuk pemerintahan warisan Rosulullah Saw.”

“Karena itu, marilah sama-sama kita perjuangkan Daulah Khilafah Islamiyah. Karena hanya Khilafah saja yang mampu membungkam para seniman bajingan, yang berlindung dibawah ketiak negara-negara Sekuler-kapitalis. Takbir: Allahu Allahu Akbar.”

Betapa dahsyatnya penutup orasi itu sehingga membuatku semakin panas dan gerah dalam kefuturanku.

Semakin tersentak diriku. Ternyata setelah ku perhatikan yang barusan orasi tadi, beberapa tahun yang lalu adalah binaanku.

“Ya, Allah. Betapa hinanya aku! Betapa Engkau membenciku, karena aku telah mengatakan apa yang tiada aku perbuat. Aku mengajak kepada binaan-binaanku terdahulu untuk Istiqomah memperjuangkan Islam.sedangkan aku? Sungguh, Engkau telah menggantikan kaum yang enggan membela Din-Mu dengan kaum yang lebih baik. ” sesal dan jeritku dalam hati.

Aku dikejutkan oleh suara yang menyapaku.

“Assalamu’alaikum. Kak, apa kabar?”

Aku terhenyak, pemuda berusia dua puluh tahunan yang baru berorasi tadi menghampiriku.

“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, Kakak baik-baik saja. Antum bagaimana kabarnya?”

“Alhamdulillah, masih beriman kak.”

Jawabannya menggentarkanku, seakan-akan jawaban itu menyindirku. Menyindir bahwa aku sudah tidak mengimani lagi janji Allah dan Rosulullah akan bangkitnya Islam. Terbukti aku sudah tidak istiqomah lagi di jalan dakwah ini.

“Kak Ali semakin gemuk aja nich. Baru empat tahun tidak bertemu. Kakak masih ingat dengan saya? Saya Ghani kak, empat tahun yang lalu saya siswa SMA  Negeri Palembang yang kakak bina di rohis.”

“Subhanallah, Ghani ya? Antum sudah dewasa sekarang. Kakak hampir tidak mengenali Antum. Gayamu keren, dan Tsaqofah Islammu juga mantap ketika kakak mendengar orasimu barusan. Betul-betul orator ulung dirimu.”

“Hehe, itu juga berkat kakak. Yang dengan sabar dulu mengenalkanku dengan Islam.”

“Oh, ya kenapa Kakak tidak terlibat lagi dalam dakwah kita sekarang?”

Pertanyaannya benar-benar membuat aku malu. Malu? Malu kepada siapa? Kepada Allah? Atau malu kepada pemuda yang memakai jaket GEMA Pembebasan ini? Dimana Imanku? Aku bingung harus menjawab apa kepada pemuda ini.

Pertanyaan ini kembali mengingatkanku pada peristiwa sekitar empat tahun yang lalu, saat mengirim sms kepada musyrifku.

“Salam. Ustadz, ‘af1 ana minta izin dulu untuk beberapa bulan ini untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan tatsqif jama’iy. karena ana mau nulis skripsi.”

Juga sms-sms yang lain, ketika 10 menit menjelang halaqoh.

“Salam. Ustadz, ‘af1 ana minta izin untuk tidak halaqoh pekan ini, karena sibuk mencari data buat skripsi, dan tidak bisa keluar kosan.”

Sms-sms seperti itu terus berlangsung. Hingga akhirnya, beberapa hari sebelum halaqoh musyrif menemuiku.

“Akhi. Apakabar antum? Antum sibuk skripsi ya?? Ya, sudah halaqohnya di kosan Antum saja. Biar antum tidak repot.”

“Oke, ustadz.” Kataku tak bersemangat menjawabnya.

Ketika waktu halaqoh tiba, 2 jam musyrif dan teman-teman halaqoh di teras kosanku. Tapi, aku tidak kunjung datang.

“Akhy antum dimana?” sms musyrifku, setelah beberapa kali mencoba menelpon tapi tidak ku angkat.

“Kak, kok diam?” Pertanyaan Ghani mengangetkanku dari lamunan.

Ketika Aku hendak menjawab pertanyaan Ghani, tiba-tiba dari belakangku terdengar suara yang tidak asing lagi bagiku. Yesika, istriku memanggilku.

“Pa, ayo kita pulang. Kasihan Fatih pasti sudah menunggu.” Katanya.

“Iya, Ma. Fatih tentu sudah menunggu papa-mamanya. Oh, iya ma. Kenalkan ini Ghani. Dia pemuda yang luar biasa.” Kataku mengenalkan istri tercinta kepada Ghani.

Sebenarnya aku malu mengenalkan Yesika kepada Ghani. Karena Aku belum mendidik Yesika kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Aku belum mengenalkannya tentang jilbab, sehingga ia masih mengenakan jeans dan kaos ketat lengan panjang meski berkerudung.

“Ghani,mbak. Senang berkenalan dengan mbak.” Katanya. Dari sorot matanya, sepertinya Ghani tak percaya dan kecewa kepada diri ini karena melihat penampilan istriku yang tidak Syar’i.

“Kami  pamit dulu Akhy. Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumussalam Wr Wb.”

Di perjalanan, aku masih terpikirkan dengan ketidak sengajaanku bertemu kembali dengan aktivitas dakwah ini. Aku berazzam harus kembali ke jalan dakwah ini. Akan ku didiik istri dan anakku, agar menjadi pengemban risalah ini.

Aku teringat dengan kata-kata yang sering ku katakan kepada para binaanku dahulu:

“Sesungguhnya kita ini yang butuh dengan Islam. Bukan Islam yang butuh dengan kita. Sesungguhnya, dakwah ini tidak pernah membutuhkan kita, tapi kitalah yang selalu butuh dengan dakwah ini. Ada atau tiadanya kita, kereta dakwah ini akan terus meluncur menuju Syurga-Nya Allah SWT.”

Terimakasih ya Allah, Engkau telah menemukan dan mengingatkanku kembali dengan cara ketidak sengajaanku bertemu dengan aktifitas dakwah tadi. Semoga itu menjadi titik awalku kembali dalam memperjuangkan Syariah dan Khilafah, agar Din-Mu senantiasa diterapkan di Bumi yang Engkau ciptakan ini.

(Kandank Bujank, 20 Desember 2012)




1Masiroh: kegiatan aksi simpatik, membongkar penghianatan para penguasa, atau mengingatkan penguasa, serta pencerdasan kepada Ummat agar kembali kepada Islam dengan Kaffah. Aksi simpatik ini dilakukan dengan damai, tanpa kekerasan.

2Tatsqif Jama’iy: Kegiatan Pembinaan kepada Ummat, bentuknya: bisa diskusi publik, seminar, tabligh akbar, dll dengan tujuan agar Ummat bisa kembali menjalankan Islam dengan Kaffah.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ten − 3 =