Dalam proses kreatif menulis adakalanya seorang penulis mengalami  write’s block atau sebuah kondisi di mana ia seperti kehabisan energi untuk menulis, idenya lumpuh, kreativitasnya menguap, bahkan hilang sama sekali.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Terus, gimana cara efektif sekaligus asyik biar kita bisa jalan terus menulis kreatif, sekaligus menumpas mitos write’s block ini? Cekidot!

Bagi seorang pemula yang masih gagap dalam menulis, bisa jadi ia sering mengalami apa yang dinamakan write’s block ini.

Namun, bagi seorang profesional, write’s block ini hanyalah mitos yang terlalu dibesar-besarkan. FYI saya pernah nanya kepada beberapa penulis profesional soal write’s block dalam proses kreatif mereka.

Ternyata, mereka bilang,  “Write’s block? No way!”. Justru, mereka balik memotivasi saya dengan quote-quote yang asyik punya, for example, “menulis itu gampang!” kata M. Zainal Mutaqien, seorang praktisi media nasional.

“Menulis (fiksi) itu mudah.” cetus Asma Nadia, penulis buku-buku remaja & muslimah national bestseller. Bahkan, “menulis (skenario) itu lebih mudah.” timpal Gola Gong, seorang penulis naskah skenario beberapa tv swasta nasional.

Jadi, langkah pertama untuk menumpas mitos write’s block itu ada pada niat kita sendiri, kita serius gak, seh, jadi penulis? Trus, ngapain kita nulis? Buat apa/siapa kita nulis? Nah, lho?!

So, kalo kita dah serius pengen jadi penulis berarti niat kita dah mantep alias dah siap lahir batin mendapat  predikat sebagai penulis atau bahkan professional writer. Wah keren, kan, tuh? Artinya proses kreatif menulis kita dihargai orang dengan sejumlah nominal tertentu. Mo contoh yang keren punya, liat aja Ali Akbar Navis, seorang penulis dari ranah minang, doi emang mantep milih opsi hidup jadi penulis.

Saking semangatnya nulis, A.A. Navis ngaku bahwa lebih dari 99 kali naskahnya ditolak sama penerbit alias gak satupun naskahnya yang dipublikasikan! Pertanyaannya kini, apakah doi patah arang ngelanjutin profesi jadi penulis?

Ternyata, kagak! A.A. Navis terus berkarya, dan hasilnya… ia diganjar sebagai penulis terbaik nasional taon 1997 oleh Dewan Kesenian Jakarta berkat karyanya, Robohnya Surau Kami. Jempol, kan, tuh! Nah, kalo niat kita dah mantep jadi penulis, jangan ragu tinggal action yang kudu dijabanin! Di sini, kita-kita kudu tau, apa aja yang kudu disiapin kalo mo nulis.

Artinya gak cukup siap sedia kertas ama pulpen doang, kan?  Teori mudahnya adalah, kalo kita mo nulis ada guidencenya gitu, lho. Maksudnya ada tahapan demi tahapan  yang pasti kita lalui kalo nulis. Secara garis besar, biasa dibagi dua, yaitu tahapan sebelum menulis en tahapan saat menulis. Kalo dua tahapan ini  terkendala.

Pasti deh, alamat write’s block bakal kita alami alias mentok di  tengah jalan! Gak asyik banget kan, kalo semangat nulis kita pun, tibatiba  menguap! So, apa seh tahapan sebelum nulis  itu? Neh, saya kasi bocoronnya, ya dikit aja. Soalnya terbatas spacenya.

Pertama, menentukan ide; Kedua, menyiapkan referensi atau sumber bacaan; Ketiga, menentukan arah atau tujuan; Keempat, menentukan media yang akan dituju; Kelima, menentukan khalayak sasaran yang akan dituju via tulisan yang kita bikin.

Pengen lebih jelas, nantikan D’Rise edisi berikutnya. Hehehe… Jujur aja, teori ini didasarkan pada fakta empirik yang lazim dialami oleh para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun! Jadi, jangan sampe ketinggalan lanjutan jurus jitu menumpas mental block writer’s biar kita bisa jadi penulis handal. Don’t miss it![]