“Prinsip hidupku, tidak ada orang bodoh, yang ada hanyalah orang menuruti kemalasannya”

Majalahdrise.com – Angin bertiup melambaikan hawa  dingin di wajahku. Walaupun Summer  alias musim panas, tetap saja terasa  dingin terutama bagi pendatang dari negeri  tropis sepertiku. Dan disinilah aku  berada,  jauh dari Bapak-Ibu juga sejawat lain yang  biasa jadi kawan bercengkrama. Waktu  seolah berlari teramat cepat, itulah yang aku  rasakan. Aberdeen, di kota ini kupijakkan  kaki, meninggalkan negeri yang kucintai demi  meraih cita-cita, melanjutkan studi di  University of Aberdeen.

Rasanya baru  beberapa bulan lalu aku mengenyam pendidikan Kedokteran Gigi di Universitas  Sumatera Utara. Pergi meninggalkan  kampung halaman di kota Padang, itu saja  sudah jauh sekali rasanya. Nah sekarang,  Aberdeen, di Inggris? Masyaallah….  Demikiankah cara-Mu Ya Allah. Prinsip hidupku, tidak ada orang  bodoh, yang ada hanyalah orang  menuruti kemalasannya.

majalah-drise-kabar-dari-luar-2

Maka,  mumpung masih muda, banyak-banyak saja menimba ilmu, walau tak  kurang tantangannya. Untuk sampai  bisa kuliah disini, butuh motivasi kuat  dari diri sendiri dan orang sekitar.  Bagaimana tidak, biaya tes  kemampuan bahasa saja (IELTS),  sedikitnya aku harus merogoh kocek  2,5 juta, belum ongkos pesawat dan  akomodasinya. Pasti lulus? Belum  tentu. Boro-boro lulus, yang ada  hangus

majalah-drise-kabar-dari-luar-1

Ahh… sudahlah, itu memang  gelombang tantangan para calon mahasiswa  untuk kuliah di Luar Negeri. Sangat lumrah,  dan wajib banget. Aku begitu menikmati  tempat ini. Jalan-jalan yang tertata  rapi, tata kota yang indah dan  fasilitas memadai yang rasanya  susah aku temui di Indonesia.  Favoritku adalah berjalan kaki dari  flat ke kampus atau tempat lainnya.

Selain berhemat, aku bisa melihat  paras kota ini seutuhnya. Aman,  tidak takut diserempet seperti jalan  semrawut di kota besar Indonesia.  Aku kagum dengan keramahan kota  ini. Kadang hatiku bertanya, apa  yang membuat sedemikian  teraturnya. Jika ditarik garis lurus,  barulah terasa bahwa keteraturan  komunitas masyarakat tergantung  dari sistem yang mengatur mereka.  Semakin baik sistemnya, buah  kehidupannya akan semakin baik.  Setidaknya apa yang tampak di  permukaan. Aku merenung sejenak,  mengingat Indonesia Negeri muslim  yang seharusnya memiliki dasar  kehidupannya, yaitu islam. Begitu  indahnya islam, ia mampu mengatur  umatnya sejak bangun tidur hingga  bangun Negara.

Ayolah kita jujur,  berapa sih yang sudah kita amalkan  dari adab islam dan sunnah rasul yang   pada dasarnya indaaahhhh sekali.  Boleh jadi, lebih indah daripada tatanan Negara barat yang sedang  kusaksikan ini. Bukankah  Eropa dulunya tak lebih  dari peradaban primitif  dan terbelakang. Kita chaos  justru tatkala jauh dari  agama. Ahh, Indonesia  tanah air beta. Walau  begitu, aku tetap rindu  akan Indonesia yang  penuh cita rasa. Kerinduan ini datang  menyergap terutama jika  waktu sholat  berkumandang,  sementara masjid dan tempat ibadah  sangatlah sedikit jumlahnya. Wajar, sebab  muslim tetaplah minoritas di Negara ini.

Alhamdulillah, tak jauh dari kampusku, ada masjid AMIC (Aberdeen  Mosque Islamic center)  yang cukup untukku meneguk nuansa  ruhiyah. Tak seramai di Indonesia, masjid ini  aktif dan selalu ada pengunjungnya.  Sebenarnya, ingin ikut lebih jauh dengan  kegiatan di sana. Seperti diskusi keislaman  maupun mengenal komunitas islam lebih  dekat. Aku memang belum lama berada di  sini, sehingga aku simpan dulu keinginan itu.  Curi-curi pandang, siapa tau ada wajah  Indonesia yang bisa kudekati dan berbaur  lebih akrab. Tantangan untuk sholat, rasanya belum  seberapa dibanding mencari menu halal.  Baik dari sisi kelangkaan, yang kemudian  berpengaruh kepada harga. Aku memilih  bahan-bahan yang lebih terjamin  kehalalannya seperti sayur-mayur ketimbang  daging. Alhamdulillah, ada juga toko islami  yang menjual daging potong sesuai syariat.  Tapi, mahal banget. Sayur mayur tropis juga  tak kalah mahalnya. Suatu kali aku melihat  seorang muslim Afrika berbelanja ubi talas di  toko bahan makanan halal. Tak disangka,  harganya sekitar £ 15 (setara dengan  Rp.330.000).

Wow, fantastis ya! Sebagai seorang Indonesia, apalagi  muslim, aku ingin sedikit-sedikit  memperkenalkan keindahan agama islam yang dicintai. Ya, minimal aku juga ngga  malu-maluin di tempat ini. Meski belum  kesampaian, semoga aku bisa  berpartisipasi, memperberat amal  jariyahku kelak. Aku dengar, kadang ada  kampanye keislaman dengan  membagikan al-Qur’an di jalan-jalan  strategis. Orang di sini pada dasarnya  memiliki sikap kritis dan openminded.  Mau dan tertarik dengan hal-hal baru.  Hanya kadang kala media lebih  mengekspos hal yang diskrimininatif dan  negatif seputar islam.  Geram juga  rasanya! Harapanku sederhana, moga  masa studiku ini bisa jadi amal jariyah  untuk kehidupan yang akan datang.

Aku  juga terus menggali ilmu dan membaur  dengan kehidupan disini tanpa  melupakan identitasku sebagai seorang  muslim. Sebait kalimat rindu ingin  kutaburkan teruntuk keluargaku nun jauh  disana:        “Dear my mom, dad, sisters and  little brother thank you so much for your  full supporting and understanding” love you  all. Mohon doa juga dari semua saudara  seiman di Indonesia. Dimanapun kita berada,  semoga Allah menabur hikmah yang tiada  tara kepada kita, aamiin.  [Seperti yang  dikisahkan Defi Marizal kepada Redaksi/Alga  Biru]

di muat di majalah drise edisi 50