Majalahdrise.com – Ku lihat beberapa ikhwan melakukan ribath di sekitar markas, ku lihat sebagian lagi melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an yang begitu merdu dan seolah-olah tank-tank baja yang berjajar rapi disebelah mereka juga ikut merasapi bacaan yang mereka lantunkan. Aku berjalan ke lorong sebelah, maka kudapati beberapa ikhwan sedang membuat peralatan perang, salah satunya ku lihat Hamzah seorang mahasiswa teknik sedang sibuk mendaur ulang granat-granat milik tentara Bashar Assad yang gagal meledak. Hampir setiap hari Hamzah dan timnya merakit sekitar 50 granat yang gagal meledak. Ku lihat lagi Ammar seorang remaja yang berusia 14 tahun sibuk mengotak-atik stick Ipad untuk digunakan sebagai control melempar granat. Pemandangan ini sangat kontras dengan yang ada di Indonesia, jika di Indonesia dengan keadaan yang aman saja Al-qur’an dibiarkan berdebu namun disini Al-qur’an seolah-olah menjadi bacaan wajib yang harus dibaca setiap hari. Di Indonesia banyak pemuda yang terlena dengan aktifitas dunia, namun disini banyak pemuda yang merindukan syahid di jalanNya untuk tegaknya Khilafah. Jangankan di ajak perang, pemuda Indonesia di ajak ke seminar membahas tentang Khilafah sajaterkadang masih ogah-ogahan.Maka sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan yang ada di Suriah.

Syahid Yang Menewaskan

Malam ini suasana begitu mencekam, berkali-kali aku mencoba memejamkan mata namun tetap tidak bisa. Militer Suriah melakukan teror dengan beberapa kali terbang di kawasan kami. Ternyata mereka mengincar jasad Syaikh Kholid, mereka mencoba memasuki desa Mughoiriyyahyang letaknya tidak jauh dari markas kami,desa yang telah lama sepi ditingggal penduduknya mengungsi dan di desa itulah kami memakamkan jasad Syaikh Kholid beserta syuhada yang lain.Blaaam…. Suara ledakan ranjau kembali mengguncang kawasan kami, beberapa ikhwan segera melakukan penjagaan yang ketat di markas. Markas kami terletak di bawah bukit berbatu yang kami gali dan kami bangunseperti gua namun di dalamnya sepeti sebuah rumah yang penuh dengan persenjataan serta tidak terlihat dari luar. Pasukan mujahidin merangsek sembunyi-sembunyi di tengah-tengah kegelapan malam.“Allahu Akbar”…terdengar pekikan takbir dari ikhwan mujahidin yang melakukan ribath, tidak jauh dari makam Syaikh Kholid. Ternyata suara granat yang meledak itu menewaskan 15 pasukan Bashar Assad yang hendak menggali makam Syaikh Kholid, namun mereka salah gali. Mereka menggali sebuah makam yang bertuliskan nama beliau, namun sebenarnya di makam itu berisi senapan milik Syaikh Kholid. Ikhwan mujahidin sengaja menaruh ranjau di makam tersebut, sebagai ganti atas meninggalnya Syaikh Kholid. Allahu Akbar… inilah syahid yang menewaskan. Walaupun sudah syahid namun nisan yang bertuliskan nama Syaikh Kholid tetap berjasa menewaskan 15 tentara musuh atas izin Allah.

 

Merah Saga Bumi Suriah

15 Muharram 1436 H, sebuah roket dengan kaliber 25mm menghantam kawasan kami, segera kami mempersiapkan pasukan. Begitu pula misi medis dari Indonesia yang di ketua Dr.Abu Hasan juga segera siaga membantu menyelamatkan para mujahidin yang terluka.

“Ihsan… Ihsan… Ihsan…segera masuk dalam barisan” teriak Zubair kepadaku.

“Hamzah…. Siapkan granat dan bom yang kita miliki” Zubair meneriaki kepada pasukan yang membawa granat.

Aku segera masuk dalam jajaran sniper mujahidin, kami maju ke depan menuju desa thirtiyyah, desa terdekat yang diserang pasukan Bashar Assad. belum juga beranjak kami dikejutkan dengan kedatangan helikopter yang mendekat, “wusshhh…Blamm!!” Sebuah bom birmill menghantam jalur yang akan kami lalui, hal ini membuat nafas kami tercekat sesaat. Namun kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan semangat kami untuk terus maju.

Peperangan pecah dibeberapa titik di Jabal Durin, Jabal Nabi Yunus, Jabal Naubah, Ainul jauzah, dan Kifr maisyuth. Musuh bukan hanya menyusup seperti sebelum-sebelumnya tapi merangsek maju. Mereka sudah membuat perencanaan penyerbuan untuk kembali mengontrol wilayah Jabal Akrod. Pertempuran sengit berlangsung, aku pun terus maju ke depan dan bersembunyi di balik bebatuan. Ku arahkan tembakkan ke tentara musuh. Beberapa tembakan jituku mengenai dada tentara musuh, aku berlari ke depan saat Hamzah terjepit, namun duaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrr itu suara terakhir yang aku dengar,,, mataku berkunang-kunang, hanya hitam kelam dalam penglihatanku, nafasku tersengal, dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada diriku.

Saat aku tersadar aku telah tergolek di rumah sakit rahasia milik mujahidin di Lathamna Hama, para petugas medis dari Indonesia menyelamatkanku saat aku terlempar terkena granat. Kakiku kiriku putus dan aku tidak bisa bangun, aku langsung menanyakan hasil dari pertempuran di Jabal Akrod. Mereka mengembangkan senyuman, yang artinya pertempuran dimenangkan para mujahidin. Mujahidin kembali menguasai wilayah tersebut, seketika ku tanyakan kondisi sahabat-sahabatku, Zubair, Hamzah, Ammar kepada Ahmad. Ahmad adalah salah satu tim medis yang menyelamatkanku, dia menyampaikan kepadaku kalau Zubair dan Hamzah syahid di jalan Allah, adapun Ammar masih belum sadarkan diri. Ahamd juga memberikan senapan milik Zubair dan surat yang sudah kotor terkena darah kepadaku.

“Ihsan… saat perang tengah berkecamuk, tiba-tiba Zubair datang kepadaku dan berpesan untuk memberikan surat ini kepada ibunya, kamu diminta untuk memberikannya jika kamu masih hidup dan Zubair berpesan agar aku memberikan senapan miliknya, jika ia lebih dulu syahid mendahului teman-temannya.” tegas Ahmad kepadaku.

“Bagaimana kondisi Zubair, kenapa ia bisa terbunuh?” tanyaku penuh tanya, karena setauku Zubair sangat ahli dalam menembak dan bersembunyi di balik semak-semak.

“Musuh mencoba menguasai Jabal Akrod, seluruh mujahidin mengeluarkan segala upaya untuk mempertahankan wilayah ini, Zubair dan pasukannya maju ke depan dengan kendaraan tank anti baja, mereka mampu memukul mundul tentara musuh sampai tentara Bashar Assad menemui kekalahan, namun tubuh Zubair penuh dengan tembakan. Allah terlalu sayang kepada Zubair dan beberapa mujahidin yang lain termasuk Hamzah, sehingga mereka dipanggil lebih dulu dari pada kita untuk menemui RabbNya. Kemenangan kali ini harus di tebus dengan jiwa-jiwa mujahidin yang darahnya membuat bumi Suriah berwarna merah saga dan menyebarkan aroma wangi penduduk surga yang menusuk jiwa” Sambung Ahmad dengan air mata yang menetes.

Tak terasa aku juga meneteskan air mata, penuh haru namun bercampur gembira. Aku yakin Zubair, Hamzah dan mujahidin-mujahidin yang lain telah berbahagia dengan syahidnya,aku iri dengan mereka yang telah lebih dulu syahid menghadap Rabbnya. Wahai Zubair tidaklah ku ucapkan selamat tinggal untukmu, melainkan sampai bertemu di SurgaNya. Aku bangga kepadamu wahai sahabat-sahabatku, di saat pemuda-pemuda yang lain sibuk akan urusan dunia, kalian menyibukkan diri dengan urusan akhirat. Sungguh tegarnya jiwa kalian yang menetang kedholiman dan peluru-peluru yang dzolim menembus dada kalian. Tapi dengan tegar kalian persembahakan jiwa raga untuk kejayaan revolusi ini. Jiwa kalian berdiri diatas kebenaran, sinaran aqidah telah menuntun kalian untuk bangkit menentang kedholiman. Alangkah sucinya ruh kalian yang telah diangkat malaikat menemui Sang Pencipta Alam. Wahai sahabat-sahabatku sekali lagi tidaklah ku ucapkan selamat tinggal namun selamat berjumpa di tempat yang penuh kebahagiaan, tunggu aku akan menyusul langkah kalian.

Beberapa hari kemudian, aku dan beberapa ikhwan mujahidin memberikan surat Zubair kepada ibunya, namun tidak ada raut kesedihan dalam wajah beliau. Justru beliau tersenyum walau sesekali meneteskan air mata, ya air mata kebahagiaan karena putranya menemui syahid di jalan membela islam. Sejenak aku langsung teringat dengan ibuku, akankah ibuku siap jika aku syahid dalam revolusi ini? Akankah ibuku juga tersenyum mengembang seperti senyum ibu Zubair? Akankah ibuku bangga akan syahid yang aku rindukan?. Aku hanya berharap ibu dan bapakku ikhlas akan langkahku dalam perjuangan ini. Andaikata gelar sarjana tidak bisa aku berikan untuk mereka, maka cukuplah gelar syahid yang aku persembahkan sebagai tanda baktiku kepada mereka berdua.Dan biarlah darahku menggores bumi Suriah dengan warna merah saga.[Oleh: Ana Al-izzah]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43