Majalahdrise.com – Hariku dipenuhi dengan tangisan, airmata dan darah. Pertama kali kesini, Aku shock. Alhasil di hari-hari berikutnya, tak melihat darah tergenang seolah menjadi pemandangan yang aneh. Isu terorisme telah menjadi alat ampuh bagi Amerika untuk bercokol di Bumi Syam yang penuh berkah ini. Pada beberapa kesempatan, Aku berdiskusi dengan Khalid. Usianya masih tergolong muda, 19 tahun. Usia yang bagi anak sepertinya di Indonesia merupakan usia yang tepat untuk menikmati hidup, bersenang-senang dan memilih untuk menghabiskan waktu di tempat hiburan. Khalid beda. Suasana perlawanan menjadi nyanyian disetiap tarikan nafasnya. Aku bertanya mengapa ia begitu gigih melakukan hal itu.

“Kami katakan, bahwa kami sedang berusaha tanpa kenal letih dan lelah, siang dan malam untuk mendirikan Khilafah dengan segera. Khilafah adalah pelindung dan penjaga yang sebenarnya bagi kaum muslim termasuk suriah. Khilafah yang akan membuat para diktator berlutut dengan terhina, dan yang akan mengakhiri mimpi buruk yang tengah kami alami. Kami menyeru saudara-saudara kami untuk mengikhlaskan diri kepada Allah, serta terus berpegang teguh dengan revolusi kalian demi Islam”

“apa yang hendak kau sampaikan ke sesama muslim di Negara lainnya?”,Tanyaku

“Aku ingin mengatakan, Bagaimana bisa mereka tidak tergerak melihat aksi genosida terhadap saudara saudari mereka? Bagaimana kelak mereka menjawab, ketika Allaah menanyakan kelalaian mereka melindungi kami, saudaranya? Aku ingin mengatakan bangkitlah sekarang untuk melakukan tugas kalian yang diperintahkan Tuhan, yaitu menyingkirkan rezim diktator ini, dan melindungi saudara kalian! “engkau tidak berpikir tentang…” Aku menjeda kalimat, memperhatikan wajahnya yang masih sabar menunggu kelanjutan kalimatku “uhm… di negaraku, seusiamu ini sibuk menghadiri pesta, menghabiskan waktu dengan teman dan tentu saja menghadiri konser music”, Aku menertawai diriku sendiri. Diluar dugaan, Khalid tersenyum. “ah ya, Saya nyaris lupa, besok in syaa Allaah saya menikah. Anda boleh datang jika berkenan”, masih dengan senyum khasnya, aku hanya melongo. Ia mengambil secarik kertas lalu dengan cepat menulis sebuah alamat kemudian menyodorkannya kepadaku. Aku mengambilnya dengan perasaan yang tak biasa, bagaimana bisa seseorang yang akan melangsungkan pernikahan besok masih berkeliaran membicarakan masalah revolusi? Ah…

………………………………

Aku membuka laptop,menyalakannya dan Membuka beberapa email dan mengecek akun media sosial. Dalam sekali klik, postingan laman sebuah berita memenuhi dinding akunku. Pengeboman terjadi di Paris, Perancis. Dunia menangis. Satu suara mengutuk serangan tersebut. Pic profile seketika didominasi bendera perancis. Sebegitu berdukanyakah dunia hingga hastag PrayForPerancis seketika mendominasi dunia maya?

Dan ah… sepersekian detik, berbagai macam analisa bermunculan. Satu hal yang terlintas dalam pikiranku saat itu, Suriah kembali terancam. Drone, suara tembakan, jerit tangis dan…. Tasbih, serta takbir yang membuat bulu kudukku meremang. Benar saja ,Tak perlu waktu seminggu setelah kejadian, perancis benar-benar melengkapi upaya genosida kaum kafir terhadap rakyat suriah. Terorisme benar-benar telah dijadikan alat untuk membantai rakyat suriah yang tak berdosa.

Jika terror yang terjadi di paris memakan korban sekitar seratusan orang, dunia seharusnya berduka dan berempati untuk suriah. Karena disini, tak hanya seratus, tapi jutaan! Namun seluruhnya sepi dari pemberitaan. Ah, airmataku tiba-tiba menggenangi pelupuk mata yang kian perih. Perih melihat genangan darah, juga perih memprotes ketidak adilan dunia. Untuk beberapa hari, Aku tak bertemu Khalid. Serangan Perancis benarbenar mencekam. Aku disibukkan dengan upaya medis untuk para korban. Anak-anak tak bernyawa bergelimpangan dimanamana. Jeritan Ibu yang berpisah dengan anaknya, atau sebaliknya menjadi pemandangan hari-hariku. Ah,Khalid, perjuangan apalagi yang akan kalian lakukan?

………………………..

Aku tiba di alamat yang ditulis Khalid beberapa waktu yang lalu. Hari terakhir kami bertemu sebelum serangan balasan Perancis. Aku ditemani Pierre mencoba menelusuri jalan-jalan sepi. Tak Nampak kehidupan. Mayat-mayat bergelimpangan dan mulai membusuk. Penciuman,penglihatan bahkan perasaanku telah terlatih menyaksikan pemandangan ini. Lagi dan lagi, dunia bungkam. Aku mencari secarik kertas yang kuselipkan di antara buku catatan harian. Ah, kertas dari Khalid masih ada. Bergegas Aku mengajak Pierre kesebuah tenda pengungsian yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Tiba-tiba, dari arah samping tenda, Aku melihat sosok Khalid yang saat itu juga sedang mengarahkan pandangannya kepadaku. Rasa bahagia benar-benar menyelimutiku.

Aku sumringah dan tak dapat menyembunyikan perasaan bahagiaku. Aku memeluk dan menepuk punggungnya. Ia tersenyum tipis. Pandangannya benar-benar meneduhkan. Belum pernah Aku merasa hormat dengan seseorang yang usianya lebih mudah dariku. Khalid segera mengajak kami kebagian belakang tenda. Ternyata disitu terdapat meja panjang dengan kursikursi kayu yang tak terurus. Aku tak sabar ingin mendengar ceritanya, terutama masalah pernikahannya yang tentu saja sangat kusesali tak menghadirinya. Khalid menyodorkan dua gelas berisi air putih. Aku mengulurkan tangan mengambil gelas tersebut. “Khalid, maaf yah Aku tidak datang kepernikahanmu waktu itu. Serangan perancis benar-benar tak memberikan ruang untuk kita semua”, Aku memasang wajah penuh penyesalan. Khalid tersenyum “tidak mengapa” jawabnya singkat

“oh, iya. Istrimu dimana? Disini alamat istrimu kan? Aku kesini karena yakin engkau masih menghabiskan masa bulan madu kalian”,aku berucap kegirangan. Khalid lagi-lagi tersenyum.

“istrimu didalam?” Khalid menggeleng.

“tidak.Ia telah dikuburkan beberapa waktu yang lalu. Seluruh keluarganya meninggal karena serangan perancis, kemarin”, Aku tergagap. Ada ribuan kata yang mengantri di lisanku.

Aku menatap Khalid. Kali ini, matanya mengisyaratkan sebentuk rasa pedih yang teramat sangat. Ia menengadahkan wajahnya, menghadap ke langit yang mulai kemerahan. Hening merambati. Angin sore yang semilir kuharap membawa pergi perih di hati Khalid. Sungguh, aku merasa dunia tak bijak. Demikian pula sikap kaum Muslimin.

Saat Bashar al-Assad yang tidak berkemanusiaan sengaja mengisolasi rakyat suriah yang tak berdosa hingga mengalami kelaparan, para penguasa antek dan pemerintah tercela di dunia Islam justru sibuk untuk berpartisipasi dalam perayaan Hari Natal dan Tahun Baru Negara Kafir. Bahkan untuk pesta kufur itu mereka rela menghamburkan jutaan dolar, dibanding memobilisasi dana dan tentara untuk membebaskan umat Islam di Suriah. Ah, kenapa khoiru ummat ini begitu terpuruk? Bilakah khilafah datang membebaskan Suriah? Bilakah Khilafah tegak yang dengan kekuatannya akan mengusir Negara-negara teroris ini??[Juanmartin]

di muat di majalah drise edisi 52