Majalahdrise.com – jika bumi Suriah adalah Indonesia, mungkin para coas akan sumringah menatap log book-nya. Oh, tidak. Tentu saja mereka tidak akan memiliki waktu untuk memperhatikan log book. Sebab disini, setiap detiknya adalah kematian. Setiap detik yang ampuh membuat ingatan kita melekat kepada Sang Kholiq. Ah, suasana dimana maut mengakrabi memang merupakan suasana tersyahdu. Sekali lagi, aku berusaha memejamkan mata, namun suara-suara itu seperti orchestra yang menyanyikan lagu kematian. Kelaparan, genosida dan perlawanan.

Ya, selain tiga kata tersebut, sepertinya warga suriah tak terkecuali anakanak dan kaum perempuan disini tak mengenal kata yang lain. Anak-anak di tempatku saat ini —salah satu wilayah yang masih diblokade oleh pasukan Bashar al- Assad—, mereka mampu membedakan antara rasa dari daun-daun pohon yang berbeda—pahit, manis atau asam—sebagaimana anak-anak di belahan dunia lainnya membedakan antara rasa pizza dan rasa daging yang dimasak dengan saus, serta membedakan antara rasa cokelat dan biskuit.

Anak-anak suriah, menangis sebelum kematiannya dan meminta kepada ibunya sesuatu untuk dimakan, namun ibunya tidak mampu berbuat banyak selain melihat anaknya yang sedang sekarat. Pemandangan inilah yang mengakrabi setiap waktu yang aku lalui disini, Suriah. Peperangan ini telah mengubah mereka menjadi sosok yang mampu menggentarkan serdadu kafir barat yang tak tahu malu itu. Satu sosok yang lekat dalam ingatanku,

Khalid. Dialah yang menyenandungkan kalimat bernyawa kepada anak-anak ini. Jiwa kepemimpinan dan naluri perlawanannya benar-benar seperti pahlawan Islam,Khalid bin Walid.

…………….

Aku menatap Pierre. wajah pemuda asal jerman itu memerah. Rasa kemanusiaannya mengusik hingga menyeretnya untuk membaktikan ilmu di tengah suasana perang yang tak jelas akhirnya. Entah bagaimana si kulit pucat ini bisa sampai ke Suriah. Detik ini, Ia mencoba focus pada pemandangan di kejauhan. Terik mentari menjadi satu-satunya saksi pemandangan di hari itu, hari ketika semangat anak-anak Suriah mengusik rasa kemanusiaanku yang tercerabut paksa oleh kebijakan tak manusiawi pemerintah Negara adidaya: Amerika.

Dari kejauhan, Aku melihat sekitar lima serdadu Amerika yang sedang berpatroli. Sebagai tenaga medis, Aku sedikit bisa bernafas lega. Aku menatap Khalid yang mengikuti pergerakan serdadu Amerika tersebut hingga yakin mereka sama sekali tak sedang berminat menerima gempuran Khalid dan kawan-kawan.

Ya, tentu saja mereka takut. Bukankah mereka pengecut?. Serdadu-serdadu itu berhenti tak jauh dari tenda pengungsian tempat kami memberi bantuan medis. Tak disangka, salah seorang serdadu mendekat dengan memasang wajah yang memuakkan. Khalid memancangkan tatapannya pada serdadu itu. Sorot matanya tajam merontokkan keberanian sang serdadu. Aku menatap adegan ini tanpa berkedip. Seperti menyaksikan anak kucing yang akan mengalahkan harimau ompong.

“Anda tak perlu menakut-nakuti kami dengan senjata. Kami tidak takut mati seperti kalian. Kami hidup untuk mencari mati. Kami tidak butuh janji Assad dan presiden kalian. Pulang dan katakan pada presiden Anda, Kami hanya butuh Khilafah dan diterapkan syariat Islam di bumi Syam”, Ia mengeluarkan kalimat-kalimat bernyawa yang di amini sahabat-sahabat yang mengelilinginya, mereka mengepalkan tangan meninju udara sembari mengucapkan “Nahnu! Nuriid ! Khilafah Islamiyah!”, sang serdadu celingukan mencari teman. Detik selanjutnya, Ia memilih meninggalkan anak-anak itu dengan segera. Aku mendengus. Dasar pengecut!

bersambung,,,,,

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52