“Wow!”.

“Apa?”, tanya Hesti agak kaget.

Tapi Lia tidak memandang ke arah

Hesti, tapi memandang kotak-kotak mendatar dan

menurun TTS di lembaran majalahnya yang kini

sudah terisi semua. “Kamu isi semua teka-tekinya”.

Hesti memandang TTS yang

dimaksud Lia.

“Oh. Maaf. Aku mestinya izin dulu

tadi”, katanya. “Tapi sekarang sudah terlanjur,

gimana?”, katanya dengan perasaan menyesal.

Waktu dia membaca majalah milik Lia yang

dititipkan kepedanya, dia menemukan TTS di

dalamnya dan langsung saja mengisinya dan lupa

itu milik sahabatnya.

Oh ya. Ngomong-ngomong, tokoh

kita yang satu ini dulu punya hobi yang unik,

Kawan. Kalau dulu teman sebayanya senang

bermain pasar-pasaran atau petak umpet, dia

justru lebih senang bermain di rumah, sibuk

dengan buku, pensil dan penggaris. Membuat

teka-teki silang bersama seorang sahabat kecilnya.

Setelah semua selesai membuat TTS, Hesti

memberikan TTS-nya kepada sahabatnya dan

sahabatnya memberikan TTSnya dan Hesti

bertugas menjawab TTS sahabatnya itu demikian

sebaliknya. Mereka senang mencurahkan

kreativitasnya untuk bermain. Bermain-main

dengan petunjuk dan menemukan jawaban. Cukup

seru, bukan? Dan murah, hanya bermodal buku

strimin yang dulu harganya cuma sekitar Rp500,-

sampai Rp1.000,- pensil dan penggaris mereka

bisa bersenang-senang seharian.

Hesti selalu lebih unggul dari

sahabatnya. Dia selalu menyelesaikan teka-teki

lebih dulu dari temannya. Petunjuknya terlalu

mudah bagi Hesti. Sebaliknya, sahabatnya akan

dibuat pusing tujuh keliling dengan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh Hesti. Dia bahkan sering

mengupdate (meski dulu Hesti tidak paham apa itu

mengupdate) kemampuannya dalam menyusun TTS

dengan terus membaca. Di perpus, buku pelajaran SD

sampai koran temuan di jalan. Temannya semakin hari

semakin ketinggalan jau dengannya. Jadilah dia

sekarang master TTS dan mudah saja mengisi TTS

milik Lia.

“Oh, nggak papa”, kata Lia buru-buru.

“Aku cuman kagum kamu bisa mengerjakan

semuanya. Aku saja dibuat pusing semalaman

mengerjakannya”.

Hesti nyengir. Kata-kata itu sering

didengarnya dari ‘sahabat TTS’-nya dulu.

“Gimana kalau sekarang kita kirimkan ke

redaksinya. Siapa tahu menang?”, usul Lia.

“Ide bagus. Silakan!”, jawab Hesti

senang.

“Ya, kamu yang ngirimkan, nanti

hadiahnya buat kamu”, sambung Lia.

“Kok gitu, ini ‘kan punya kamu?”, tanya

Hesti heran.

“Nggak papa. Lagian kamu ‘kan yang

ngerjakan semuanya? Sepulang sekolah nanti kita

mampir ke kantor pos kita kirimkan ini ke redaksi?”

“Oke kalau gitu, tapi sebelumnya kita

tanyakan dulu ke teman-teman, siapa tahu ada yang

salah dan perlu dikoreksi”.

Sepulang sekolah Hesti dan Lia menuju

kantor pos. Hesti mengayuh sepedanya sementara Lia

dibelakangnya dengan mengendarai sepeda motor.

Mereka  sedang menuju kantor pos untuk

mengirimkan hasil kerjanya ke redaksi, seperti yang

telah disepakati di sekolah. Seumur-umur dia belum

pernah berurusan dengan hal yang namanya ‘redaksi’,

rasanya menyenangkan rupanya. Dan ada harapan

untuk mendapat hadiah!

……………………

“Assalamu ‘alaikum”.

Hesti tidak segera menjawab, tetapi

cepat-cepat memakai kerudungnya lalu

melangkahkan kaki di atas tanah padat (rumahnya

memang tidak berlantai. Tidak mungkin bagi

keluarga yang miskin dan tinggal di desa selevel

keluarga Hesti mampu menutupi alas rumah

dengan lantai) menuju ruang depan lalu berkata,

“Wa ‘alaikum salam”, lalu membuka pintu kayu

yang pembuatannya hanya dihaluskan sekedarnya.

“Benar ini rumah Hesti Amanda

Putri?”, tanya laki-laki paro baya yang Hesti duga

pegawai kantor pos karena seragam yang

dipakainya.

“Betul, ada apa?”

“Ah ya. Ini ada kiriman dari…”, laki-laki itu mengerling ke benda yang ada di

tangannya, sebuah amplop berwarna coklat yang

tampaknya terisi penuh sampai amplop itu lebih

mirip bungkusan kado. “…untuk Mbak Hesti”,

katanya sambil mengulurkan tangannya untu

menyerahkan majalah dan amplop kecil.

“Oh, terima kasih ya Pak?”, ucap

Hesti, menerima kiriman itu. Seumur-umur dia

belum pernah mendapat kiriman dari kantor pos.

Semua keluarganya tinggal tidak jauh dari

tempatnya tinggal.

Sebuah kalimat tertera di amplop:

“Pemenang I Teka-teki ‘Asah Otak’”. Ini pasti dari

redaksi tempat dia seminggu yang lalu

mengirimkan jawaban TTS. Dan pasti, Hesti

yakin, dia tekah memenangkan kuis itu.

Perasaannya melambung membaca kata-kata

indah itu. Dia buru-buru membuka amplop dan

mendapati majalah dengan judul yang sama

dengan milik Lia kemarin meskipun gambarnya

berbeda, dan ada amplop lagi di dalam. Lebih

kecil. Dia membuaknya dan, dua lembar uang

Rp50.000,- terdapat di dalamnya. Girangnya

bukan main.

“Bu, saya menang!”

………………………………

Hesti menghabiskan waktu luangnya

untuk membuka-buka majalah hadiah itu. Satu-satunya majalah yang pernah dia miliki. Oh, ini

yang kedua setelah majalah yang pernah

diterimanya sebagai hadiah dari guru SD-nya

karena dia pertama kali di kelasnya yang bisa

membaca. Anak cerdas. Tapi dia tidak begitu

menyukai majalah yang sekarang ada ditangannya

itu. Isinya hanya membahas tentang tren remaja saat

ini. Model baju dan sepatu terbaru, artis yang lagi

ngetop, cerpen yang ‘cengeng’ dan yang lainnya. Ini

tidak mendidik, kenapa Lia suka sekali membaca

majalah seperti ini? pikirnya. Dia melanjutkan

pencarian di majalah lalu hanya mendapati TTS yang

berada di halaman yang sama persis dengan edisi

sebelumnya. Dia memutuskan untuk mengisi teka-teki

itu lagi dan berniat mengirimkan kembali ke redaksi.

Siapa tahu menang lagi, dan hadiahnya benar-benar

membantuku. Dan sang master pun beraksi.

“Kenapa kuliah, Hes?”, tanya Lia.

Hesti menduga Lia berpikir kenapa

kuliah yang jadi cita-citanya, bukan mau jadi apa

setelah kuliah?

“Mmm…”, Hesti berpikir. “Kalau aku

lulus nanti dan menjadi orang sukses, aku berharap

bisa hidup lebih baik dari sekarang. Maksudku, aku

bisa mandiri dan mungkin akan mampu membantu

orang tua”, jawab Hesti. “Atau mungkin akan

mengganti motor yang pernah kuhilangkan dulu”,

tambahnya, enteng.

“Yang katanya milik tetangga kamu itu?”

“Ya, tetangga yang baik”, kenang Hesti.

Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya

yang hanya beralas tikar. Perasaan bersalah lagi-lagi

melanda Hesti karena peristiwa hilangnya sepeda

motor milik tetangga yang dulu dia pinjam untuk

mengikuti acara yang jauh dari rumahnya. Ayahnya

harus bekerja ekstra, padahal penghasilannya selama

ini juga pas-pasan dan ibunya harus menjual

perhiasannya untuk mengganti sepeda motor yang

hilang itu.

Dia sering memandang foto yang

dipajang di kamarnya itu. Bukan fotonya, ataupun

keluarganya. Melainkan foto beberapa pemuda

memakai pakaian keren, yang dulu pernah KKN di

desanya. Konon, Hesti punya cita-cita untuk

melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Awalnya sebenarnya dia ingin menjadi Polwan aka

Polisi Wanita, itu waktu dia masih SD. Sampai suatu

hari saat desanya didatangi beberapa mahasiswa yang

sedang menjalani KKN tadi. Mereka semua memakai

jas almamater sehingga menjadi pemandangan yang

kontras di tengah-tengah masyarakat yang

superndeso. Wah, betapa hebatnya mereka.

Mahasiswa itu tinggal selama beberapa hari dan

melakukan berbagai kegiatan di sana, melakukan

penyuluhan untuk warga desa, bakti sosial dan juga

beberapa kali dalam setiap minggu mengajar di

sekolah termasuk sekolah Hesti. Guru yang hebat

sekali. Muda, cerdas dan ramah. Tidak seperti

guru-guru yang biasanya. Begitu pikir Hesti.

Suatu hari hujan lebat dan angin

kencang menerpa desa dan memporak-porandakan

beberapa rumah dan bangunan termasuk sekolah

Hesti. Celaka. Bagaimana aku bisa sekolah dan

bertemu guru-guru hebat itu kalau sekolahku

hancur begini, pikir Hesti sedih. Waktu itu Hesti

dan teman-temannya disibukkan dengan kegiatan

kerja bakti di sekolah, membersiahkan puing-puing reruntuhan sekolah akibat terpaan angin itu.

Yang paling menyenangkan bagi Hesti adalah

kehadiran para mahasiswa yang turut membantu

mereka dalam bekerja. Hebat sekali! Tidak hanya

cerdas, mereka juga cepat bertindak, tidak peduli

pakaiannya yang bagus itu kotor. Suatu saat aku

harus bisa menjadi seperti mereka. Aku mau

kuliah suatu hari nanti. Begitulah ceritanya

tentang perjalanan cita-cita gadis yang sekarang

tumbuh remaja itu.

sedih. Waktu itu Hesti dan teman-temannya disibukkan dengan kegiatan kerja bakti

di sekolah, membersiahkan puing-puing

reruntuhan sekolah akibat terpaan angin itu. Yang

paling menyenangkan bagi Hesti adalah kehadiran

para mahasiswa yang turut membantu mereka

dalam bekerja. Hebat sekali! Tidak hanya cerdas,

mereka juga cepat bertindak, tidak peduli

pakaiannya yang bagus itu kotor. Suatu saat aku

harus bisa menjadi seperti mereka. Aku mau

kuliah suatu hari nanti. Begitulah ceritanya

tentang perjalanan cita-cita gadis yang sekarang

tumbuh remaja itu.

“Ngomong-ngomong, kapan kamu

mau pakai jilbab?”, katanya kepada Lia, yang

sudah lama dia ajak untuk menutup aurat dan

mengaji tapi belum juga dia mau mengikuti

ajakannya.

“Nggak tau, Hes. Aku masih sungkan

mau pakai jilbab. Takut diejek teman-teman di

sekolah”, jawab Lia.

Aneh. Kenapa harus takut? Aku tidak

takut. Apa kita lebih takut dengan ejekan manusia

karena melakukan sesuatu yang benar, bukankah

kita seharusnya lebih takut kepada Allah?

Ustadzah Maryamah selalu berpesan

kepada Hesti agar selalu mengajak orang lain

untuk melakukan kebaikan, amar ma’ruf nahi

munkar di manapun kita berada. Kita harus terus

mendakwahkan Islam kepada semua orang agar

agama ini bisa tegak kembali di muka bumi dan

mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

“Kita bisa merdakwah dengan cara

apa saja, sarana apapun selama itu diperbolehkan

oleh syariat Islam. Kita ngomong secara langsung

boleh, dengan silaturrahmi atau kita bisa berdakwah

lewat menulis”, ujar Ustadzah Maryamah saat

memberikan pengajian kepada beberapa remaja putri,

termasuk Hesti.

“Menulis?”, sahut Hesti.

“Ya”, tegas Ustadzah. “Kalau kita bisa

berdakwah dengan keahlian kita, misalkan menulis,

why not?”, tambahnya dengan gaya yang

menyesuaikan dengan pergaulan remaja.

Menulis? Hesti merenung. Tidak terpikir

sama sekali dalam benaknya untuk menulis selama

ini. Dia memang sering menulis diary, tapi tidak

terpikir menulis dengan tujuan dakwah. Apakah

mungkin dakwah dengan tulisan? Tapi mereka juga

mendakwahkan budaya liberal kepada remaja dengan

tulisan di majalah itu, kenapa tidak bisa

mendakwahkan Islam lewat tulisan?

Hesti sekarang memiliki setumpuk

majalah yang ditaruhnya di atas lemari tua yang usang

di sudut ruangan. Tidak ada tempat yang paling layak

untuk menaruhnya selain di situ, yang aman dari tikus

atau rayap. Sebagian besar dia peroleh dari

memenangkan TTS dan sebagian lainnya dia membeli

(Oh ya, uang yang dia dapatkan dari redaksi majalah

sebagiannya dia gunakan untuk membeli majalah).

Sebagian yang dia beli itu adalah majalah remaja

yang Islami. Harus lebih banyak membaca untuk

lebih menambah pengetahuan, terlebih pengetahuan

agama. Bukan sekedar membaca, tapi bacaannya

sama sekali tidak berguna sama sekali untuk

menambah wawasan tentang agama. Dia mengambil

salah satu majalah Islam itu dan membaca-baca. Dia

mengamati tulisan-tulisannya. Inspiratif dan

membangun. Dibandingkan dengan majalah remaja

kebanyakan yang berisi seputar hiburan yang

cenderung merusak.

Masalahnya adalah Hesti selama ini

belum pernah membuat tulisan untuk dipublikasikan

di media. Apakah tulisannya nanti akan diterima? Tapi

dalam hati dia berpikir tidak sulit menulis. Sama

dengan menulis diary ‘kan? Masalah diterima atau

tidak urusan nanti. Toh kalau aku tidak menulis mana

mungkin tulisanku ada di media? “Kalau kita bisa

berdakwah dengan keahlian kita, misalkan menulis,

why not?”[