Misteri Senyum Maharani | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Media Watch >> Misteri Senyum Maharani

Misteri Senyum Maharani




[DRise-#029] Disiarkan melalui sejumlah televisi swasta, pada 5 Februari lalu Maharani Suciyono (19) menebar senyum sambil menyapa almamaternya Universitas Moestopo Beragama dan perempuan seluruh Indonesia.Tapi mengapa, reaksi publik malah tidak simpatik; Rani, nama panggilan perempuan itu, dituduh hanya bersandiwara. Pakar psikologi menyebutnya panik lalu berbohong. Ada apa dibalik senyuman Maharani?

Masalahnya, Rani berulangkali tersenyum, alias senyum-senyum. ‘’Tersenyum’’ beda lho dengan ‘’senyum-senyum’’. Yang pertama merupakan ekspresi yang tulus, baik atas nama ibadah seperti yang dilakukan umat Islam, maupun sekadar kemanusiaan belaka.

Tapi kalau ‘’senyum-senyum’’, ini bisa bermakna meledek, menertawakan, berpura-pura, tidak serius. Apalagi kalau Rani yang senyum-senyum sambil minta maaf. Lho, emang kenapa?

Masalahnya, Rani tak lain adalah ‘’M’’. Bukan, bukan boss-nya James Bond Agen M-16 berseri 007 itu. Kalau M yang ini sih sudah ‘’mati’’ dalam serial terbaru ‘’Sky Fall’’.

M adalah perempuan yang bersama AF digerebek KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di sebuah kamar hotel Le Meredian Jakarta, akhir Januari lalu. Oleh KPK, AF dan Presiden Partai PKS LHI kemudian ditahan sebagai tersangka kasus suap impor daging sapi. Sedang M, dibebaskan setelah dinyatakan tidak terkait kasus riswah (suap-menyuap).

Nah, dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Nalendra, Jaktim, itu, M membantah dirinya ditangkap di kamar, melainkan di cafe. Ia juga menolak disebut sebagai alat gratifikasi (suap). Dia pun tak mengakui telah berzina dengan AF. Toh, ia tetap meminta maaf kepada berbagai pihak di seluruh Indonesia yang bisa dirugikan akibat pemberitaan tentang dirinya.

Nada suara M memang bergetar saat menuturkan semua itu. Bukan menahan sedih dan haru, ternyata, lantaran dianya ngomong sambil senyum-senyum. Pengakuan Rani, sontak dibantah para saksi, misalnya para pegawai hotel yang melihatnya digelandang dari kamar hotel. Bukan dari cafe.

‘’Rani berbohong karena panik dan shock,’’ kata ahli psikologi Tika Bisono.

Mengapa Rani nekad menghadapi pers, padahal tindakan ini malah menunjukkan perbedaan bahasa tubuh dan ucapannya? Membongkar kebohongannya sendiri? Siapa yang ‘’nyetir’’ Rani? Siapa yang mempolitiki perempuan muda itu?

Semua itu dapat dijelaskan dengan teori ahli antropologi linguistik, Sapir Whorf. Menurutnya, bahasa bukan hanya sekadar deskriptif atau sarana untuk melukiskan suatu fenomena serta lingkungan. Lebih dari itu, bahasa juga dapat memengaruhi cara kita melihat lingkungan kita. Pandangan ini kemudian dikembangkan menjadi dua bagian, deterministik linguistik dan relativitas linguistik.

Deterministik linguistik memandang bahwa struktur bahasa mengendalikan pikiran dan norma-norna budaya. Sedang relativitas linguistik, melihat bahwa karakteristik bahasa dan norma budaya saling mempengaruhi. Budaya dikontrol sekaligus mengontrol bahasa. Bahasa juga menyediakan kategori-kategori konseptual yang mempengaruhi bagaimana persepsi para penggunanya dikode dan disimpan.

Dengan kata lain, bahasa bukan sekadar alat komunikasi untuk memaknai suatu realitas objektif semata. Namun bahasa juga merupakan kegiatan sosial, bukan sesuatu yang netral dan konsisten, melainkan partisipan sosial yang dapat dikonstruksi dan direkonstruksi, serta di-setting untuk membentuk gagasan dan tindakan seseorang.

Dalam alur pikir tersebut, bahasa tak pernah dapat dipisahkan dari sebuah kekuasaan politik. Sebagai negara yang konon menganggap paling demokratis dan humanis seperti Amerika Serikat sekalipun, para elite politiknya juga kerap menciptakan bahasa yang disusun dan dirumuskan melalui sebuah kata, istilah, atau terminologi; sebut saja, misal ”teroris”, ”kaum fundamentalis”, dan ”poros setan”. Semua istilah tersebut diciptakan dan disebarkan secara masif. Tentu, bermuatan politik dan berusaha agar Amerika tetap menjadi pihak yang dominan.

Driser, dalam percaturan politik apa yang terjadi tak seperti apa yang kita lihat. Senyum Maharani mungkin dianggap manis, namun di sisi lain ada pihak yang meringis. Seperti halnya opini teroris atau kaum fundamentalis yang gencar dikampanyekan Amerika untuk  menyudutkan Islam dan kaum Muslimin. Makanya, penting bagi kita untuk melek media, baca  berita, dan coba paham analisa pakarnya. Biar kita sebagai remaja Muslim, nggak jadi korban opini sesat lantas paranoid dengan dakwah Islam. Justru seharusnya kita makin getol berdakwah untuk membongkar kebohongan public dari pihak-pihak yang memusuhi Islam. Yes, dakwah is our life![]




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen + fourteen =