disiarkan melalui sejumlah televisi swasta, pada 5 Februari  lalu Maharani Suciyono (19) menebar senyum sambil  Dmenyapa almamaternya Universitas Moestopo  Beragama dan perempuan seluruh Indonesia.

Tapi mengapa,  reaksi publik malah tidak simpatik; Rani, nama panggilan  perempuan itu, dituduh hanya bersandiwara. Pakar psikologi  menyebutnya panik lalu berbohong. Ada apa dibalik senyuman  Rani? Masalahnya, Rani berulangkali tersenyum, alias senyum-senyum. ”Tersenyum” beda lho dengan ”senyum-senyum”. Yang  pertama merupakan ekspresi yang tulus, baik atas nama ibadah  seperti yang dilakukan umat Islam, maupun sekadar  kemanusiaan belaka. Tapi kalau ”senyum-senyum”, ini bisa bermakna meledek,  menertawakan, berpura-pura, tidak serius. Apalagi kalau Rani  yang senyum-senyum sambil minta maaf. Lho, emang kenapa?

Masalahnya, Rani tak lain adalah ”M”. Bukan, bukan  boss-nya James Bond Agen M-16 berseri 007 itu. Kalau M yang  ini sih sudah ”mati” dalam serial terbaru ”Sky Fall”. M adalah perempuan yang bersama AF digerebek KPK  (Komisi Pemberantasan Korupsi) di sebuah kamar hotel Le  Meredian Jakarta, akhir Januari lalu. Oleh KPK, AF dan Presiden  Partai PKS LHI kemudian ditahan sebagai tersangka kasus suap  impor daging sapi.

Sedang M, dibebaskan setelah dinyatakan  tidak terkait kasus riswah (suap-menyuap). Nah, dalam konferensi pers yang digelar di Hotel  Nalendra, Jaktim, itu, M membantah dirinya ditangkap di kamar,  melainkan di cafe. Ia juga menolak disebut sebagai alat gratifikasi  (suap). Dia pun tak mengakui telah berzina dengan AF. Toh, ia  tetap meminta maaf kepada berbagai pihak di seluruh Indonesia  yang bisa dirugikan akibat pemberitaan tentang dirinya.  Nada suara M memang bergetar saat menuturkan semua  itu. Bukan menahan sedih dan haru, ternyata, lantaran dianya  ngomong sambil senyum-senyum. Pengakuan Rani, sontak  dibantah para saksi, misalnya para pegawai hotel yang  melihatnya digelandang dari kamar hotel.

Bukan dari cafe.  ”Rani berbohong karena panik dan shock,” kata ahli  psikologi Tika Bisono. Mengapa Rani nekad menghadapi pers, padahal tindakan  ini malah menunjukkan perbedaan bahasa tubuh dan  ucapannya? Membongkar kebohongannya sendiri? Siapa yang  ”nyetir” Rani? Siapa yang mempolitiki perempuan muda itu? Semua itu dapat dijelaskan dengan teori ahli antropologi  linguistik, Sapir Whorf. Menurutnya, bahasa bukan hanya  sekadar deskriptif atau sarana untuk melukiskan suatu fenomena  serta lingkungan. Lebih dari itu, bahasa juga dapat memengaruhi  cara kita melihat lingkungan kita. Pandangan ini kemudian  dikembangkan menjadi dua bagian, deterministik linguistik dan  relativitas linguistik.

Deterministik linguistik memandang bahwa struktur  bahasa mengendalikan pikiran dan norma-norna budaya. Sedang  relativitas linguistik, melihat bahwa karakteristik bahasa dan  norma budaya saling mempengaruhi. Budaya dikontrol sekaligus  mengontrol bahasa. Bahasa juga menyediakan kategori-kategori  konseptual yang mempengaruhi bagaimana persepsi para  penggunanya dikode dan disimpan. Dengan kata lain, bahasa bukan sekadar alat komunikasi  untuk memaknai suatu realitas objektif semata. Namun bahasa  juga merupakan kegiatan sosial, bukan sesuatu yang netral dan  konsisten, melainkan partisipan sosial yang dapat dikonstruksi  dan direkonstruksi, serta di-setting untuk membentuk gagasan  dan tindakan seseorang.

Dalam alur pikir tersebut, bahasa tak pernah dapat  dipisahkan dari sebuah kekuasaan politik. Sebagai negara yang  konon menganggap paling demokratis dan humanis seperti  Amerika Serikat sekalipun, para elite politiknya juga kerap  menciptakan bahasa yang disusun dan dirumuskan melalui  sebuah kata, istilah, atau terminologi; sebut saja, misal ”teroris”,  ”kaum fundamentalis”, dan ”poros setan”. Semua istilah tersebut  diciptakan dan disebarkan secara masif. Tentu, bermuatan politik  dan berusaha agar Amerika tetap menjadi pihak yang dominan. Driser, dalam percaturan politik apa yang terjadi tak  seperti apa yang kita lihat.

Senyum Maharani mungkin dianggap  manis, namun di sisi lain ada pihak yang meringis. Seperti halnya  opini teroris atau kaum fundamentalis yang gencar  dikampanyekan Amerika untuk  menyudutkan Islam dan kaum  Muslimin. Makanya, penting bagi kita untuk melek media, baca   berita, dan coba paham analisa pakarnya. Biar kita sebagai  remaja Muslim, nggak jadi korban opini sesat lantas paranoid  dengan dakwah Islam. Justru seharusnya kita makin getol  berdakwah untuk membongkar kebohongan public dari pihak-pihak yang memusuhi Islam. Yes, dakwah is our life![] Rubrik MelekMedia  diasuh oleh Pak Nurbowo.