hai sobat drise? Kenal si Bunglon gak? Yang jurusan IPA  pasti kenal donk? Eh, kayaknya gak ada hubungan dengan  jurusan deh. Dari SD kayaknya kita sudah dikenalin sama si  H Bunglon. Ya sudah daripada pusing-pusing mending kita  langsung kenalan saja. Bunglon adalah hewan  reptile yang  terkenal dengan pintarnya dia mengubah warna kulitnya. Jika si  Bunglon hinggap di daun, warnanya berubah jadi hijau.

Jika si  Bunglon hinggap di pohon berwarna hitam, warnanya pun hitam.  Wah, keren ya? Keren kan? Keren dong?  Dalam dunia perhewanan mungkin akan terdengar  sangat keren. Tapi bila itu ada pada kaum muslimin kayaknya gak  keren deh. Lo kok bisa? Ya bisalah masak bisa dong. Tengoklah  fenomena yang terjadi pada kaum muslim saat ini.

So, maafkan  saya jika saya harus membuat isitlah baru. Saya tahu sebelumnya  sudah ada istilah islam liberal, islam radikal, dan sebagainya. Tapi  yang ini asli murni dari pikiran saya. Jika salah maafkan. Jika benar  maafkan juga.hehe. Muslim bunglon adalah muslim yang warnanya selalu  berubah-ubah. Yuk berpikir . Ingat ramadhan yang lalu.  Subhanallah… Warna yang disaksikan mata adalah warna islam.  Buka televisi acaranya acara islam. Sinetron inikah rasanya cinta  berganti indahnya ta’aruf. Artis-artis ramai tutup aurat.

Di tempat-tempat perbelanjaan banyak dijual aksesoris berbau  islam. Lagu-lagu yang diputar pun lagu-lagu  islam. Namun, inilah kenapa saya sebut  muslim bunglon. Ramadahan berlalu  berganti pula warnanya. Desember datang  muslim bunglon merubah  warnanya menjadi warna  natal. Pohon-pohon  natal menghiasi  disetiap tempat  perbelanjaan seperti  mall, restoran,  dealer, dan lain-lain. Lagu-lagu  natal diputar tiada henti. Bahkan karyawan yang beragama islam  pun tak canggung kenakan atribut-atribut natal. Alasan mereka  adalah menghormati perayaan natal, ikut merayakan perayaan  natal, dan tentu saja karena tuntutan pekerjaan. Mashaallah.  Sungguh terlalu muslim bunglon. Natal pergi tahun baru datang. Kembang api sudah  seperti rudal-rudal di Palestina. Celakanya yang ikut merayakan  tahun baru adalah kaum muslimin.

Seperti itulah muslim  bunglon. Selalu menyesuaikan diri. Februari datang warna  mereka berubah menjadi merah jambu. Mereka sebut hari kasih  sayang padahal bahasa aslinya adalah hari perzinahan. Sedih hati melihat umat seperti bunglon. Tak punya jati  diri. Mereka katakana bank tidak haram karena sesuai kebutuhan  jaman. Menyesuaikan. Dalam sholat muslimah menutup aurat  (pakai mukenah), keluar rumah mereka gunakan pakaian seksi  yang katanya modern. Pakaian bupati (buka paha tinggi-tinggi)  dan sekwila (sekitar wilayah dada). Astagfirullah.. Dimana ciri  umat terbaik yang dibanggakan Allah pada umat Islam. Kuntum  khoiru ummatin..Kamu adalah umat terbaik. Kenapa bisa terjadi mewabahnya muslim bunglon?

Pertama, indvidu muslim tidak punyai ideologi mereka sebagai  seorang muslim. Sehingga mereka ikut-ikutan orang  kebanyakan. Padahal Allah sudah  memperingatkan: “Seandainya kalian mengikuti  kebanyakan orang di muka  bumi, sungguh mereka akan  menyesatkan kalian dari jalan Allah  (Qs:al An’aam:116).

Kedua, Diterapkannya sistem kufur.  Kebebasan yang dijamin demokrasi.  Pluralisme yang didengung-dengungkan  demokrasi. Hak-hak yang bertentangan dengan  islam yang diusung HAM. Dan lain-lain. Demokrasi dengan kapitalime, sekulerisme,  nasionalisme, HAM, telah menghilangkan jati diri seorang  muslim sehingga jadilah ia muslim bunglon. Maka wajar meski  jumlah kaum muslim banyak, mereka tak ubah buih di lautan  yang diombang-ambing ombak semaunya.    

Sobat Drise. pilihan terbaik adalah menjadi muslim  yang ideologis. Tidak ikut-ikutan. Warnanya tidak berubah. Sekali  islam selamanya islam. Bukan demokrasi bukan yang lainnya.  Meski menjadi muslim ideologis adalah asing tapi itulah bukti  kesejatian. Komitmen kita sebagai hamba yang telah melisankan  tauhid, yang telah kita ikrarkan dalam setiap sholat.  Sesungguhnya sholatku, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah  semata. Dan tugas muslim sejati adalah mengubah keadaan  kaum muslim yang tengah menjadi bunglon ini menjadi muslim  yang punya jati diri. Tugas sobat drise, Tugas kita semua.[]