Oleh: Oksa Aputra

Muslim gaul[DRise-#)29] Hai sobat drise? Kenal si Bunglon gak? Yang jurusan IPA pasti kenal donk? Eh, kayaknya gak ada hubungan dengan jurusan deh. Dari SD kayaknya kita sudah dikenalin sama si Bunglon. Ya sudah daripada pusing-pusing mending kita langsung kenalan saja. Bunglon adalah hewan  reptile yang terkenal dengan pintarnya dia mengubah warna kulitnya. Jika si Bunglon hinggap di daun, warnanya berubah jadi hijau. Jika si Bunglon hinggap di pohon berwarna hitam, warnanya pun hitam. Wah, keren ya? Keren kan? Keren dong?

Dalam dunia perhewanan mungkin akan terdengar sangat keren. Tapi bila itu ada pada kaum muslimin kayaknya gak keren deh. Lo kok bisa? Ya bisalah masak bisa dong. Tengoklah fenomena yang terjadi pada kaum muslim saat ini. So, maafkan saya jika saya harus membuat isitlah baru. Saya tahu sebelumnya sudah ada istilah islam liberal, islam radikal, dan sebagainya. Tapi yang ini asli murni dari pikiran saya. Jika salah maafkan. Jika benar maafkan juga.hehe.

Muslim bunglon adalah muslim yang warnanya selalu berubah-ubah. Yuk berpikir J. Ingat ramadhan yang lalu. Subhanallah… Warna yang disaksikan mata adalah warna islam. Buka televisi acaranya acara islam. Sinetron inikah rasanya cinta berganti indahnya ta’aruf. Artis-artis ramai tutup aurat. Di tempat-tempat perbelanjaan banyak dijual aksesoris berbau islam. Lagu-lagu yang diputar pun lagu-lagu islam. Namun, inilah kenapa saya sebut muslim bunglon. Ramadahan berlalu berganti pula warnanya.

Desember datang muslim bunglon merubah warnanya menjadi warna natal. Pohon-pohon natal menghiasi disetiap tempat perbelanjaan seperti mall, restoran, dealer, dan lain-lain. Lagu-lagu natal diputar tiada henti. Bahkan karyawan yang beragama islam pun tak canggung kenakan atribut-atribut natal. Alasan mereka adalah menghormati perayaan natal, ikut merayakan perayaan natal, dan tentu saja karena tuntutan pekerjaan. Mashaallah. Sungguh terlalu muslim bunglon.

Natal pergi tahun baru datang. Kembang api sudah seperti rudal-rudal di Palestina. Celakanya yang ikut merayakan tahun baru adalah kaum muslimin. Seperti itulah muslim bunglon. Selalu menyesuaikan diri. Februari datang warna mereka berubah menjadi merah jambu. Mereka sebut hari kasih sayang padahal bahasa aslinya adalah hari perzinahan.

Sedih hati melihat umat seperti bunglon. Tak punya jati diri. Mereka katakana bank tidak haram karena sesuai kebutuhan jaman. Menyesuaikan. Dalam sholat muslimah menutup aurat (pakai mukenah), keluar rumah mereka gunakan pakaian seksi yang katanya modern. Pakaian bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan sekwila (sekitar wilayah dada). Astagfirullah.. Dimana ciri umat terbaik yang dibanggakan Allah pada umat Islam. Kuntum khoiru ummatin..Kamu adalah umat terbaik.

Kenapa bisa terjadi mewabahnya muslim bunglon?

Pertama, indvidu muslim tidak punyai ideologi mereka sebagai seorang muslim. Sehingga mereka ikut-ikutan orang kebanyakan. Padahal Allah sudah memperingatkan:

“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116).

Kedua, Diterapkannya sistem kufur. Kebebasan yang dijamin demokrasi. Pluralisme yang didengung-dengungkan demokrasi. Hak-hak yang bertentangan dengan islam yang diusung HAM. Dan lain-lain.

Demokrasi dengan kapitalime, sekulerisme, nasionalisme, HAM, telah menghilangkan jati diri seorang muslim sehingga jadilah ia muslim bunglon. Maka wajar meski jumlah kaum muslim banyak, mereka tak ubah buih di lautan yang diombang-ambing ombak semaunya.

Sobat Drise. pilihan terbaik adalah menjadi muslim yang ideologis. Tidak ikut-ikutan. Warnanya tidak berubah. Sekali islam selamanya islam. Bukan demokrasi bukan yang lainnya. Meski menjadi muslim ideologis adalah asing tapi itulah bukti kesejatian. Komitmen kita sebagai hamba yang telah melisankan tauhid, yang telah kita ikrarkan dalam setiap sholat. Sesungguhnya sholatku, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah semata. Dan tugas muslim sejati adalah mengubah keadaan kaum muslim yang tengah menjadi bunglon ini menjadi muslim yang punya jati diri. Tugas sobat drise, Tugas kita semua.[]